INDOPOSCO.ID – Di tengah perlambatan industri alat kesehatan dan perubahan dinamika pasar, PT Virtue Diagnostics Indonesia justru memilih menginjak pedal gas. Perusahaan diagnostik tersebut kembali menambah investasi di Indonesia dengan memperluas lini produk sekaligus memperkuat kapasitas manufaktur yang digadang-gadang menjadi fondasi menuju pusat produksi In Vitro Diagnostics (IVD) di Asia Tenggara.
Komitmen itu ditegaskan dalam Industrial Symposium pada ajang INDOHEALTHCARE GAKESLAB Expo 2026, Jumat (7/8/2026). Bagi perusahaan, Indonesia bukan hanya pasar yang menjanjikan, tetapi juga basis produksi strategis untuk memenuhi kebutuhan diagnostik di kawasan.
Founder & Global Chief Executive (CEO) Virtue Diagnostics, Johnson Zhang, mengatakan keputusan membangun fasilitas manufaktur di Indonesia lahir dari kebutuhan menghadirkan akses layanan diagnostik yang merata bagi masyarakat.
“Indonesia adalah negara dengan tantangan geografis yang sangat unik. Ribuan pulau, populasi yang besar, dan masih terbatasnya akses layanan diagnostik di berbagai daerah membutuhkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga diproduksi secara lokal. Karena itu, kami memilih untuk membangun manufaktur di Indonesia, bukan sekadar menjual produk ke Indonesia,” ujarnya.
Mengusung filosofi “In the Region, for the Region,” perusahaan membangun fasilitas manufaktur modern seluas 12.200 meter persegi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat yang memiliki kapasitas memproduksi lebih dari 1.000 instrumen diagnostik setiap tahun dan 6 ribu liter reagen per hari. Fasilitas tersebut diresmikan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada 2024.
Tahun ini, perusahaan kembali memperluas investasinya melalui pengembangan lini diagnostik molekuler dan peluncuran teknologi cartridge-based immunology, melengkapi portofolio produk yang telah dipasarkan sebelumnya.
Hingga saat ini, perusahaan telah mengantongi izin edar untuk 193 produk diagnostik di Indonesia. Sementara platform imunologi, biokimia, hematologi, hingga diagnostik molekuler yang dimiliki telah mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40 persen.
Produk-produk tersebut digunakan untuk mendukung sejumlah program prioritas pemerintah, mulai dari Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), percepatan eliminasi tuberkulosis pada 2030, hingga skrining kanker serviks melalui pemeriksaan HPV.
Menurut Johnson, membangun industri diagnostik bukanlah investasi jangka pendek. Dibutuhkan kepastian regulasi dan dukungan kebijakan agar industri dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Kami percaya Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat manufaktur IVD di Kawasan Asia Tenggara. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan industri melalui kebijakan yang mendukung investasi jangka panjang, pengadaan berbasis nilai (value-based procurement), perlindungan terhadap produk dengan TKDN tinggi, kontrak pengadaan multi-tahun, serta komunikasi yang lebih erat sebelum implementasi kebijakan baru,” tambahnya.
Sementara itu, Associate Commercial Director PT Virtue Diagnostics Indonesia, Kurniasari Endah, mengakui perjalanan perusahaan di Indonesia tidak berlangsung mudah. Masuk ke pasar pada 2024 berarti harus menghadapi perlambatan industri sekaligus membangun kepercayaan terhadap produk lokal yang selama ini bersaing dengan merek internasional.
“Kami menyadari bahwa memasuki pasar Indonesia pada tahun 2024 bukanlah perjalanan yang mudah. Selain menghadapi kondisi pasar yang menantang, kami juga harus membangun kepercayaan terhadap produk IVD lokal di tengah dominasi merek-merek global yang telah hadir selama puluhan tahun,” katanya.
Menghadapi tantangan tersebut, perusahaan memilih mengubah strategi bisnis dengan memperkuat penetrasi ke sektor swasta, mulai dari rumah sakit, laboratorium klinik, hingga berbagai fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Pendekatan tersebut diyakini mampu memperluas pasar sekaligus membangun kepercayaan melalui kualitas produk, inovasi, dan layanan purna jual.
Strategi tersebut mulai membuahkan hasil. Hingga pertengahan 2026, perusahaan telah memproduksi lebih dari 150 instrumen diagnostik dan sekitar 31 ribu kit reagen yang kini digunakan di berbagai rumah sakit dan laboratorium di Indonesia.
“Pencapaian ini menjadi bukti bahwa produk IVD hasil manufaktur Indonesia mampu bersaing dari sisi kualitas, performa, maupun keandalannya. Kami bangga karena semakin banyak tenaga kesehatan yang mempercayakan pelayanan diagnostiknya kepada produk buatan dalam negeri,” ungkap Kurniasari.
Kepercayaan terhadap produk perusahaan juga diperkuat dengan raihan sertifikasi ISO 13485, standar internasional sistem manajemen mutu alat kesehatan yang menjamin proses pengembangan hingga produksi dilakukan sesuai standar global.
Tak berhenti di pasar domestik, perusahaan juga mulai membawa produk buatannya ke pasar internasional melalui ekspor reagen bermerek VIRTUEDX dan instrumen diagnostik VERCENTRA ke Filipina. Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa produk diagnostik manufaktur Indonesia mulai mendapat tempat di pasar global.
Ke depan, perusahaan menargetkan peningkatan investasi pada riset dan pengembangan, penambahan kapasitas produksi, pengembangan teknologi diagnostik terbaru, hingga perluasan jaringan distribusi di dalam maupun luar negeri.
Jajaran pimpinan perusahaan menegaskan masa depan industri diagnostik Indonesia hanya dapat dibangun melalui kolaborasi erat antara pemerintah, industri, tenaga kesehatan, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan memadukan investasi global, kemampuan manufaktur lokal, inovasi teknologi, serta sumber daya manusia Indonesia, perusahaan optimistis mampu memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan diagnostik berkualitas. (rmn)


















