Semua peserta dibagi tujuh grup usaha. Masing-masing grup diberi nama: Salim Family, Hartono Family, Lee Family, Riyadi Family, Budiman Family, Pangestu Family, Kwok Family.
Mereka mendapatkan tiga materi workshop: dari Hadi Cahyadi, Bambang Sutantio, dan saya sendiri.
Hadi adalah doktor dari Universitas Tarumanegara dengan disertasi tentang perusahaan keluarga.
Bambang, Anda sudah tahu: pemilik grup usaha besar Cimory (Disway 3 Juni 2026: Jago Cimory). Sedang saya sendiri tidak perlu Anda kenal.
Setelah acara makan siang masing-masing grup berdiskusi sendiri. Diberi waktu setengah jam. Mereka seolah-olah anggota keluarga pengusaha papan atas Indonesia itu. Mereka harus menyusun satu dokumen keluarga yang disebut “konstitusi keluarga” –family constitution.
Masing-masing dibebaskan untuk menganggap diri mereka sebagai generasi pertama, generasi kedua, atau pun generasi ketiga di perusahaan konglomerat itu. Lalu harus menyusun konstitusi keluarga.
Dalam setengah jam mereka sudah harus sepakat. Lalu secara bergantian tampil di depan forum untuk mempresentasikan konstitusi keluarga masing-masing.
Begitulah jalannya workshop konstitusi keluarga yang dilaksanakan Harian Disway sepanjang satu hari Sabtu kemarin.
Di dunia nyata tentu tidak mungkin konstitusi keluarga disusun dalam satu jam.
“Yang paling singkat enam bulan,” ujar Hadi Cahyadi.
Bahkan ada yang gagal total: tidak ada kesepakatan di antara anggota keluarga. Kalau sampai seperti itu diperlukan pihak ketiga. Penasihat. Atau konsultan. Hadi adalah konsultan Family Constitution.
“Yang paling berharga dari kesepakatan itu adalah proses perundingannya,” ujar Hadi.
Dalam proses menuju kesepakatan itu terjadi diskusi keluarga yang sangat intensif. Kadang sampai sangat keras.
Persoalan yang selama itu tidak muncul di keluarga tiba-tiba muncul. Yang selama itu hanya jadi bisik-bisik keluarga dibicarakan terbuka. Dengan demikian potensi konflik di masa depan sudah langsung dicarikan kesepakatannya saat itu juga.
Proses diskusi yang alot biasanya menyangkut “siapa yang disebut keluarga”. Apakah menantu termasuk keluarga. Dari praktik selama ini umumnya disimpulkan “menantu bukanlah anggota keluarga”.
Yang lebih alot lagi kalau diskusi sudah sampai pada “apakah anggota keluarga boleh bekerja di perusahaan”. Kalau boleh bagaimana persyaratannya?
Umumnya mereka sepakat “boleh”. Tapi ada syaratnya.
Syarat itulah yang tiap keluarga tidak sama.
Misalnya ada yang mewajibkan punya pengalaman kerja di perusahaan non keluarga paling tidak dua tahun. Ditambah punya pengalaman bekerja di perusahaan keluarga minimal tiga tahun. Tidak bisa, misalnya, anak bos yang baru lulus dari luar negeri langsung ke level atas.
Yang menggembirakan, ujar Hadi, sudah muncul kesadaran bahwa meritokrasi harus diterapkan di antara anggota keluarga. Ini satu kemajuan besar. Tidak lagi anak laki-laki pertama yang harus memimpin perusahaan keluarga. Padahal belum tentu mampu.
Maka siapa yang boleh menjadi CEO perusahaan keluarga juga harus diperdebatkan di proses penyusunan konstitusi keluarga. Umumnya mereka sepakat sebaiknya CEO tetap di tangan keluarga tapi lewat sistem meritokrasi. Juga lewat penyiapan yang cukup: pendidikan, pelatihan, magang, mentoring. Dan mentor terbaik adalah founder perusahaan itu sendiri: sang ayah.
Tapi banyak juga yang sepakat CEO tidak harus dari anggota keluarga.
“Dalam kenyataan, diskusi di keluarga itu sangat painful,” ujar Hadi.
Dari workshop ini setidaknya masing-masing peserta punya apresiasi terhadap pentingnya konstitusi keluarga. Peserta datang dari berbagai kota: Medan, Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya. Ada yang punya pabrik plastik di 25 kota. Dari tahun ke tahun omzetnya masih terus naik. Perusahaannya terus berkembang.
Ada juga yang punya 16 rumah sakit. Dia ajak anaknya yang baru lulus dari kuliah di Tokyo. Ada pengusaha cat yang selama lima tahun terakhir omzetnya naik tiga kali lipat.
Pengusaha cat itu mengajak anaknya: masih berusia 14 tahun. Namanya Jayson. Ia tidak sekolah. Sejak lulus SD memilih home schooling. “Agar bisa membantu papa bekerja memajukan usaha,” ujar Jayson.
Sejak kecil Jayson melihat papanya kerja terlalu keras. Siang malam. Ia ingin seperti papanya. Saat saya minta bicara tentang proses kerja di perusahaan papanya, Jayson sama sekali bukan seperti anak usia 14 tahun. Ia sudah seperti seorang manajer pabrik yang punya pengalaman panjang.
“Sekarang Jayson sedang saya libatkan dalam proses keuangan di perusahaan,” ujar sang ayah: lulusan S-1 manajemen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Banyak sekali pertanyaan peserta untuk Bambang Cimory. Baru sekali ini saya menyaksikan Bambang berbicara di depan forum. Ternyata sangat menarik.
Cara Bambang menceritakan bagaimana proses alih kekuasaan di grup Cimory sangat mengesankan. Cara penyampaiannya pun sangat hidup. Saya ingat yang pernah saya katakan dulu: seorang CEO yang baik adalah juga harus seorang guru yang pintar. Dengan begitu ia bisa membuat anak buah bergerak seirama dengan misinya.
Bambang punya tiga anak. Awalnya mereka harus bekerja di perusahaan milik orang lain yang tingkat stresnya selangit. Yakni yang biasa menetapkan target capaian yang tinggi.
Setelah itu barulah masuk ke perusahaan keluarga. Proses selanjutnya mulai dibebani business development. Di sinilah ketiganya belajar memahami segala aspek perusahaan: produksi, marketing, SDM, sampai keuangan.
Lewat semua itu barulah Bambang mulai melakukan proses peralihan kekuasaan: dari dirinya ke anak-anaknya. Bambang membagi perusahannya menjadi tiga berdasar kelompok usaha. Masing-masing anak memimpin satu kelompok usaha.
Bambang tidak mau tiga anaknya di satu perusahaan: satu jadi dirut, satu jadi direktur produksi/marketing, satunya lagi direktur keuangan. Masing-masing harus mandiri.
Agar di antara tiga kelompok itu tidak saling bunuh dilakukan kepemilikan silang. Satu orang jadi pemegang saham mayoritas di satu kelompok usaha, dua lainnya jadi pemegang saham lebih kecil. Dengan demikian mereka bersaing membesarkan grup usaha masing-masing tapi juga bisa melakukan sinergi.
Di workshop ini banyak peserta yang datang suami-istri. Bambang sendiri juga mengajak istri –yang di awal pertumbuhan Cimory berperan sebagai “penjaga gawang”. Dialah yang memeriksa seluruh pengeluaran perusahaan sampai mengecek kebenaran harga-harga, langsung ke supplier.
Bambang termasuk berani melakukan alih generasi. Yakni saat ia masih berusaha 60 tahun –sekitar 7 tahun lalu. Ia bangga dan bahagia atas keputusannya itu. Padahal sekarang pun ia masih sangat sehat dan berpikir jernih.
“Jangan sampai keduluan pikun baru ambil putusan,” ujar Hadi. “Keputusannya nanti dianggap tidak adil,” tambahnya.
Membagi dan menyerahkan perusahaan kadang lebih pusing daripada yang tidak punya perusahaan.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 1 Agustus 2026: URI URI
Jhel_ng
1 Agustus, semoga nyala bergilir di pulau kami segera dihentikan, bisa nyala terus 24 jam. Kenapa tidak bisa jujur untuk penyebab aslinya? Karena ada citra yang harus dilindungi? Warga hanya mau perseroan jujur. Kalau memang mau jujur ada “bahan baku/BB” yang dipakai untuk menjaga pulau lain, sampaikan dengan tegas. Paling tidak kami tahu bahwa kami tidak diprioritaskan walaupun BB asalnya dari sini. Jika masih karamput kayak ini, warga tahu ada 2 hal: tidak diprioritaskan dan dianggap bisa dikaramputi.
Jhel_ng
Nyala bergilir masih terjadi. Ketika malam, rumah tidak nyala. Dengan harapan pagi bisa mengisi daya HP, daya laptop, dan daya pikir di tempat kerja, saat berangkat kerja eh di kantor sedang tidak nyala. Kadang siang di tempat kerja tidak nyala, pas pulang rumah yang gilirannya tidak nyala. Awak media sudah diundang masuk ke bagian pembangkit yang katanya rusak. Salah satu. Tapi mereka kurang kritis. Orang yang kerja kelihatan jelas “epok-epok”. Katanya kemarin pembangkit di semua pulau kolaps? Kok cuma satu yang ditunjukkan? Tidak nyala dalam sehari berkisar 3-6 jam. Akumulasi satu bulan sudah lebih dari 60 jam! Saat itulah kita sebagai warga tidak lagi percaya berita dari otoritas. Meragukan dari media yang diundang melihat kerusakan. Lebih masuk akal percaya pada desas-desus sosmed, lebih logis. Apalagi penyebab pokoknya pernah dibahas juga oleh orang yang berpengalaman dan mungkin punya akses informasi di dalam perseroan. Siapa? Anda sudah tahu.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Boleh saja namanya Universitas Riset Indonesia atau Universitas Republik Indonesia karena singkatannya sama-sama URI. Asalkan jangan ditambah kata Nasional atau Negeri di belakangnya karena nanti disingkat menjadi URIN.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
PARTISIPASI ITU: BUKAN PATUNG..!! Kata yang paling penting dalam tulisan Pak Dahlan justru bukan URI. Bukan pula ENA. Melainkan “partisipasi”. Kata yang dulu sangat akrab, kini seperti pensiun dini. Padahal, partisipasi bukan berarti rakyat diminta ikut mengaduk semen atau menyumbang konsumsi. Partisipasi adalah ikut menyumbang gagasan, pengalaman, bahkan kritik. Itu jauh lebih bernilai daripada sekadar memotong pita peresmian. Kalau URI dibangun dengan semangat partisipasi, kampus terbaik di Indonesia akan merasa ikut memiliki. Dosen-dosen terbaik akan terdorong ikut mengajar. Para praktisi akan ikut berbagi pengalaman. Negara tidak perlu memulai semuanya dari nol. ### Itulah bedanya proyek dengan gerakan. 1) Proyek selesai saat anggaran habis. 2) Gerakan terus hidup karena banyak orang merasa menjadi pemiliknya. Membangun pemimpin sejatinya bukan pekerjaan pemerintah sendirian. Itu pekerjaan seluruh bangsa. Sebab pemimpin yang baik lahir dari gotong royong pemikiran, bukan dari gotong royong mendirikan bangunan. Itulah partisipasi yang sesungguhnya. Bukan “partisisapi”. Tetapi juga bukan sekadar papan nama proyek baru.
sigit Dwi
Yang mengendalikan negeri ini adalah para pemimpin partai … Buat URI untuk cetak pemimpin masih kalah dengan kekuasaan ketua partai…mereka akan dikendalikan oleh ketua partai…. Orang pintar kalah dengan orang berkuasa… Orang berkuasa kadang kalah dengan orang kaya… Perbaiki iman dan takwa serta ilmu dan teknologi …lewat pendidikan yang berkualitas. Barokah turun dari langit karena ketakwaan bukan karena kecerdasan…
riansyah harun
Saya pernah ngopi di suatu tempat dalam perjalanan. Iseng2 saya tanya, berapa omzetnya, berapa pengunjungnya, dan lain lain sebagainya. Ternyata ia lulusan S1 yang amat sangat berbeda jauh dengan bidang usahanya. Seperti perbedaan antara awan dan dasar sungai. Rasanya tidak perlu tambahan Universitas seperti URI lagi. Mereka mereka yang unggul seperti itu, termasuk para pemimpin kedepan, diberi pendidikan spesial saja. Seperti pendidikan iman, bagaimana cara mengelola uang pemerintah, ibarat mengelola uang pribadi sendiri. Karena selama ini, karakter oknum para pemegang kuasa, silau matanya, jika sudah melihat uang. Dan rusaklah instansi yang dipegangnya. Apalagi instansi tersebut, banyak berkaitan dengan instansi instansi lainnya. Akhirnya jadi berjamaah. Iya kalau berjamaahnya di masjid, tapi ini mengemplang uang pemerintah.
Juve Zhang
Ketika Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir apakah normal ??? Jelas normal dan wajar setiap negara yg kuat harus memiliki senjata nuklir….Iran … Pakistan Korut contoh negara Hebat yang tahu punya nuklir itu suatu keharusan bagi negara mana saja….ada Raja yg mengkritik Saudi Arabia ingin punya Nuklir seolah olah itu keliru….pun mengkritik Korut yang punya nuklir….mereka justru yg benar dan betul dalam menghadapi dunia global semua negara eropa pun minta nuklir ke Amerika….Belanda Polandia Jerman dll semua minta nuklir ke Amerika dan di berikan oleh Amerika….kalau anda punya duit banyak dan manusia jenius banyak punya nuklir merupakan keharusan seperti keinginan Saudi Arabia Iran Dan negara negara Eropa….anda jangan mencela atau mencemooh negara yg ingin punya Nuklir mereka merupakan negara hebat yg tahu membuat benteng pertahanan bagi negaranya masing masing….
Muh Nursalim
Yg pertama jd mahasiswanya adalah wapres. Itu wajib. Biar ngerti apa itu combine. Sehingga petani tdk suruh mikul. Yg kedua ketua psi. Biar lebih pandai mawangi gajah. Minimal bisa mimbimbing gajah gajah main bola.
Saiful Bahri
Setamat sekolah di SMK Telkom Malang,anak saya tidak mau melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi,bikin ribet. Soalnya setelah ujian tes masuk PTN dinyatakan lulus dia malah undur diri sebab dinyatakan diterima sebagai karyawan perusahaan. Lhahhh…sebagai orang tua saya nelongso bathin. Ini koq malah anak saya gak ingin pinter berilmu tapi malah pilih kerja. Jawaban dia ” welah…sama saja kuliah sampai S2 pun akhirnya rebutan jadi pegawai negeri ” . Lhoooo ..
Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
Pembahasan universitas ini membuat ingatan saya kembali ke tahun 2006. Yaitu persiapan timnas Indonesia u23 di Asian games doha Qatar tahun 2006. PSSI mengirim timnas u23 ke “universitas khusus bola alias pelatnas” yg fantastis ke Belanda. Pelatih kenamaan Belanda,Foppe de Haan, di rekrut. Pelatih ini membawa Belanda juara piala eropa u21 tahun 2006. Di dampingi pelatih kenamaan Indonesia waktu itu Bambang Nurdiansyah. Latihan di Belanda 6 bulan dengan biaya yg fantastis 17,5 milyar. Yaitu 3 kali besar dari PAD kota Sabang Aceh tahun 2006. Setelah 6 bulan, punya ilmu bagus sepak bola, terbang ke doha Qatar di bulan November 2006. Dengan semangat dan optimisme tinggi. Hasilnya bagaimana? Dibantai irak 6-0, di lumat Suriah 4-1. Cuma dapat poin 1 , karena imbang lawan Singapura. Begitulah ingatan saya yaitu ilmu tanpa amal, tong kosong berbunyi nyaring. Ilmu bola dari Belanda tanpa diamalkan dalam persaingan kompetisi yg ketat hasilnya nol besar. Begitulah. Universitas banyak yg bagus tapi kalau tidak diamalkan ya nol besar. Saya melihat amalan yg selalu sama yaitu kekuasaan, keserakahan dan kemewahan. Begitulah adanya.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Liong.. Madu Sumbawa warnanya hitam. Madu Manado warnanys lebih terang.. ### Madu Ra beda lagi..
Kujang Amburadul
Saya mengenal yg namanya buzzer itu pada motor bebek th 70an, biar mengingatkan kalo lampu sein belom dimatikan.
istianatul muflihah
“Paijo (nama samaran), maju.” “Saya minggu lalu sudah presentasi bu.” “Ya, sekarang maju lagi.” Siang menjelang dhuhur itu sebenarnya saya sudah berniat marah marah. Seorang mahasiswa duduk paling depan. Membuka laptop sambil …. Main game. Tanpa rasa bersalah. Tanpa menyimak penjelasan. Mungkin dia bosan di kelas. Atau memang sebenarnya tidak pernah berniat kuliah di jurusan ini tapi memilih karena terpaksa. Atau… Ah banyak sekali kalimat pengandaian dalam kepala saya. “Sekarang coba dijelaskan ulang, apa yang tadi dijelaskan temannya saat presentasi.” Zonk. Celingak celinguk. Untung tidak jadi marah besar. Sudahlah keluar energi. Yang jadi objek kemarahan tetap sama saja.
Dahlan Batubara
Di kampung saya Mandailing-Sumut ada satu orang tidak memplesetkan partisipasi, tapi tetap saja yg dilafaskannya partisisapi. Meski diulang2 utk membenarkan ucapan tetap saja partisisapi yg terucap hahahaha..dia termasuk sulit melafaskan kata2 yg bersuku kata agak2 serupa atau yg berulang. Bahkan melafaskan Ajinomoto hasilnya Ajimomoto. Hahahaha
Kurniawan Roziq
Mau bikin uri , Udi , umi atau apapun, kalau index korupsi masih setara Nepal, mencari pemulung emas 74 kg tdk ketemu , angkat pejabat berdasarkan loyalisnya , tetap saja tdk ada gunanya
Murid SD Inpres
jangankan DAHLAN jadi DAKELAN… wong mbah buyut tetangga saia ucap ALFATIHAH saja jadi ALPATEKAH kok…
Jokosp Sp
Update berita terbaru di Antara: Bupati Tabalong dan pemilik POM Bensin bersepakat pelayanan pembelian Pertalite dibatasi hanya 200 ribu/ hari untuk roda empat, dan max 70 ribu/ hari untuk sepeda motor. Hal ini untuk mengurangi jumlah antrian yang panjangnya sudah lebih dari 1 km tiap harinya. Mbok jadi pemimpin itu yang sensitif ke hal kebutuhan mendasar rakyat bawah. Bagaimana barang kebutuhan pokok tidak naik harganya kalau biaya transportnya saja sudah mahal dan susah dicari?. Belum lagi kenaikan harga akibat dari dampak embege itu. Ini sudah lebih satu bulan kondisi bukannya tambah membaik, tetapi semakin tidak terkendali dengan panjangnya mobil dan sepeda motor antrian. Wooooooiiiiiiiiii……. di mana para pemimpin dan pejabat/ aparat negara ini?. “Masih nanam jagung mas”. “Masih sibuk angkat pejabat gubernur untuk pimpin universitas”. “Masih sibuk bagi-bagi hasil korupsi di atas korupsi itu mas”. Ooooooohhhhhhh lah layak nek ngono………… matane do micek.
mario handoko
selamat siang bp thamrin, bp agus, bp haji jokosp, bp jo, bp em ha, sobat irary, sobat yea dan teman2 rusuhwan. “pemimpin yg baik adalah yg bisa mengajak rakyatnya ikut membangun.” demikian quotes di chd hari ini. kalo quotes versi rusuhwan. “abah yang baik adalah abah yang bisa mengajak anak2 nya yang rusuh. untuk ikut bersama menginap di pacet.”
Murid SD Inpres
@Pak Agus… terima kasih sudah menanggapi untuk bagian ROI universitas umum, bahwa universitas umum lebih ke menyiapkan kompetensi, dipadu dengan kemampuan menghasilkan nilai tambah, kreativitas, dan kemampuan menciptakan pekerjaan. sebentar, saya cek dulu. hasil penelusuran saya, ada 42 kampus di Indonesia yang memiliki jurusan bisnis. kemudian, top business universities di Indonesia yang major program nya business, ada 11 universitas. anggap masing masing mampu menarik 1.000 mahasiswa/mahasiswi, berarti total 42 + 11 x 1.000 = 63.000 mahasiswa/i. dari angka 63 ribu lulusan jurusan bisnis / univ bisnis ini, berapa rasio terhadap terciptanya pekerjaan baru? ringkasnya, dari 63 ribu lulusan promising tersebut, berapa persentase yang berhasil menciptakan lapangan pekerjaan, mampu mempekerjakan minimal 10 pekerja, dan mampu bertahan di 10 tahun pertama? itu yang pertama. yang kedua… saya juga masih meragukan kapabilitas universitas umum dalam mengasah mahasiswa/i dengan kompetensi yg relevan dengan industri era sekarang. apa pasal? sebab saya pelajari silabus kuliah beberapa univ umum, itu sudah luar biasa obsolete nya. contoh: sekarang sudah era cloud, AI dan blockchain, tapi masih ada mata kuliah pemrograman HTML bikin marquee text. langsung tepok jidat saya!
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
@pak Murid.. ROI SEKOLAH KEDINASAN.. Hitung-hitungan Pak Murid memang masuk akal. Tetapi ada pembanding yang menarik: Perguruan tinggi kedinasan. Di Akmil, AAL, AAU, Akpol, sekolah-sekolah perhubungan, hingga sekolah kedinasan lainnya, biaya pendidikan yang ditanggung negara umumnya jauh lebih besar. Jika dihitung seluruh komponennya, nilainya bisa mencapai sekitar Rp300 juta hingga lebih dari Rp1 miliar per taruna selama masa pendidikan, tergantung jenis sekolah dan fasilitas yang digunakan. Mengapa mahal? Karena yang dibiayai bukan sekadar kuliah. Ada asrama, makan, seragam, sepatu, perlengkapan lapangan, latihan, laboratorium, simulator, kesehatan, drum band, hingga pendidikan fisik dan karakter. Bedanya, lulusan sekolah kedinasan umumnya langsung mendapat penempatan kerja. ROI-nya bukan hanya gaji, tetapi juga kepastian karier. Sementara perguruan tinggi umum menyiapkan kompetensi, bukan menjamin pekerjaan. Karena itu, ukuran keberhasilannya tidak bisa hanya dihitung dari gaji pertama. Nilai tambah, kreativitas, dan kemampuan menciptakan pekerjaan juga masuk dalam rumus ROI yang sering terlupakan.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
KETIKA KAMPUS DAN MAHASISWA IKUT PRAGMATIS: TENAGA DAN AKTIVITAS RISET MAKIN SERET.. Ada efek samping yang jarang dibahas. 1) Ketika kampus semakin bergantung pada uang kuliah, orientasinya pelan-pelan bergeser. Mahasiswa menjadi “aset” yang harus dipertahankan. Jumlah menjadi ukuran utama. Godaan untuk “mempermudah kelulusan” pun muncul. Bukan karena dosennya tidak idealis, tetapi karena kursi yang cepat kosong bisa segera diisi mahasiswa baru. Kualitas belajar mengajar dan “produk” nya ikut menurun. 2) Di sisi lain, mahasiswa juga bersikap pragmatis. Kuliah dipandang sebagai jalan tercepat memperoleh ijazah, lalu pekerjaan. Pilihan menjadi peneliti terasa kurang menarik. Prosesnya panjang, penghasilannya sering tidak sebanding, pengakuannya datang belakangan. Akibatnya, kampus mengejar kuantitas. Mahasiswa mengejar kecepatan. Yang tertinggal adalah riset. ### Kalau ekosistem seperti ini terus berlangsung, jangan heran bila kita makin sering menjadi pengguna hasil riset negara lain daripada penciptanya. Universitas memang tetap ramai. Wisuda tetap meriah. Tetapi laboratorium bisa semakin sepi. Dan dari laboratorium yang sepi, sulit lahir lompatan besar bagi kemajuan bangsa.
HONDA CBR150R
saya berharap di URI ada jurusan korupsi atau fakultas korupsi. Mengajarkan tentang cara korupsi yang benar dan terstruktur, bagaimana cara korupsi supaya hasilnya maksimal, bagaimana cara supaya kalau ketangkap hukumannya minimal. Juga probabilitas. Korupsi sekian M, probabitas penjara berapa tahun(tergantung uang suap, relasi ke penegak hukum, pejabat kuat yang terlibat menikmati hasil korupsi, siapa yang mesti di korbankan, dll) Lulusan URI yang masuk ke pemerintahan lama2 pasti akan terkontaminasi juga melihat cara kerja para senior nya, dia boleh begitu kenapa aku gak boleh? Seperti peribahasa ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ air kencingnya muncrat kemana2. Lebih baik ilmu korupsi diajari dari awal. Dalam benak masyarakat sekarang, kalau si 4+4 ada program atau proyek baru bukan hasilnya yang ditunggu tetapi mau korupsi apa lagi dengan program ini.
heru santoso
Pendidikan karakter instan ala barak militer Magelang banyak dikritik. Hasilnya Anda sudah tahu: lebih 10 kepala daerah ditangkap KPK dalam setahun. Pun Anda bisa menyebut nama-nama mereka. Menyiapkan URI sebagai lembaga pembentuk karakter pemimpin yang tidak instan juga Anda kritik. Katanya sudah banyak universitas pencetak generasi emas bertebaran di negri ini. Walau proses dan output kampus dengan nilai sempurna juga Anda kritik. Terus mau Anda Apa? Beberapa bulan lalu saya menghadiri acara wisuda keponakan di salahdua univ terbaik di Solo: sekitar 80% cumlaude. Bahkan ada diumumkan salah satu prodi yang jumlah wisudawannya sama dengan jumlah yang cumlaude. Sementara anakku di Jerman minta merubah bacaan doa orangtua dari sebelumnya “semoga nilai ujiannya terbaik” menjadi “semoga bisa lulus ujiannya”. Kuliah di RWTH kampusnya Habibie bukan soal nilai bagus apalagi cumlaude, namun sebuah perjuangan apakah bisa lulus atau tidak.
Liáng – βιολί ζήτα
iseng-iseng saja. Anda Pasti Tahu apa maksud dari pertanyaan klasik ini : “Are the leaders born, made or appointed ??” Apakah pemimpin itu dilahirkan (terlahir), dibentuk, atau ditunjuk ?? Bukankah sistem yang berjalan di sini (pasca reformasi) pemimpin yang muncul pasti lewat partai politik, begitu powerfulnya partai politik di sini – sampai-sampai muncul istilah “petugas partai” ; Ketua Umum partai politik yang lainnya yang tidak terang-terangan mengatakan istilah “petugas partai” pun, faktanya begitu powerful di hadapan kader-kadernya ?? Lantas….. bagaimana alumni URI (Universitas Republik Indonesia) bisa berkiprah didunia-kepemimpinan-Indonesia tanpa “kendaraan politik” ?? Sedangkan lewat partai politik – sudah pasti ada mekanismenya tersendiri dengan Ketua Umumnya yang sangat powerful….. Jadi….. untuk apa pendidikan/pelatihan/pembekalan sebagai Calon Pemimpin di URI ?? Kasihan URI….. langkah-langkahmu mungkin akan gontai…..
Johannes Kitono
Rekor MURI. Presiden Prabowo akan dicatat di MURI. Sebagai Presiden yang paling banyak maunya. Dari MBG , Kopdes MP dan terakhir URI yang masih tidak jelas dimana kampusnya. Apalagi kurikulumnya. Perlu ditambah lagi Presiden terlalu banyak pidato yang tidak perlu. Asal di sodorkan MIG langsung pidato. Dari penggilingan padi yang untung Rp 2 Trilyun/bulan. Entah berapa juta ton GKG yang harus di giling. Kalau untuk pekerjaan yang sama biayanya hanya Rp.500,-/ kg di daerah Senakin, Kalbar. Indomaret dan Alfamaret yang swasta seolah mau digantikan dengan Kopdes MP. Padahal kita tahu kedua retail modern lokal itu jumlahnya 40 ribu outlet. Telah menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Semuanya tenaga lokal , jelas tidak ada Londo Irengnya. Apakah dengan Rapor dan popularitas dibawah KDM. Masih ada ambisi untuk terpilih lagi di tahun 2029. Now, silahkan tanya sama Pagar 3 meter di Mall Mall Jakarta. Itukah cermin rasa aman penduduk Ibukota Negara. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

















