INDOPOSCO.ID – IPB University memperkuat kolaborasi strategis dengan Indonesia Cyber Education (ICE) Institute untuk mempercepat transformasi pendidikan tinggi melalui ekosistem pembelajaran digital yang lebih inklusif dan adaptif. Kemitraan yang telah berjalan sejak 2021 itu dinilai berhasil memperluas akses pendidikan lintas perguruan tinggi.
Rektor IPB University, Alim Setiawan, mengatakan kolaborasi dengan ICE Institute telah memberikan dampak nyata, tidak hanya dari bertambahnya jumlah mata kuliah daring dan peserta, tetapi juga melalui terbentuknya ekosistem pembelajaran lintas kampus yang semakin terbuka.
“Melalui ICE Institute, lebih dari 4.000 mahasiswa lintas kampus telah belajar di IPB University, sementara ribuan mahasiswa IPB memperoleh kesempatan memperluas pengetahuan di luar kampus. Ini menjadi bukti bahwa konsep borderless campus telah menjadi kenyataan,” ujar Alim ditemui indoposco.id di kampus IPB University, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, kolaborasi dalam konsorsium ICE Institute juga mendorong lahirnya berbagai kebijakan akademik, mulai dari standardisasi capaian pembelajaran hingga penyusunan kerangka micro-credential yang diharapkan diakui secara nasional.
Alim menilai perkembangan internet dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara perguruan tinggi menyelenggarakan pembelajaran. Karena itu, transformasi digital tidak cukup hanya memindahkan materi kuliah ke platform daring.
“Pembelajaran digital harus dirancang sejak awal untuk lingkungan digital dengan tujuan pembelajaran yang jelas. Tujuannya bukan menggantikan kelas tatap muka, tetapi memperkaya pengalaman belajar melalui kombinasi pembelajaran digital, pertemuan langsung, dan praktik lapangan,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur ICE Institute, Rahayu Dwi Riyanti mengungkapkan bahwa selama 5 tahun terakhir ICE Institute berkembang menjadi marketplace pembelajaran daring terbesar di Indonesia.
Saat ini, menurutnya, ICE Institute bekerja sama dengan lebih dari 50 mitra dari kalangan perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Platform tersebut telah menyediakan sekitar 1.800 courses, termasuk lebih dari 500 mata kuliah berbahasa Indonesia, serta sekitar 16.000 international courses hasil kolaborasi dengan berbagai platform pembelajaran global.
“Hingga kini, platform ICE Institute telah menjangkau lebih dari 52.000 pengguna di Indonesia dan lebih dari 5.000 pengguna internasional. Pencapaian ini terwujud berkat kepercayaan dan kolaborasi seluruh mitra,” katanya.
Di tempat yang sama Wakil Rektor IPB Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Prof Deni Noviana, menegaskan IPB merupakan salah satu perguruan tinggi pendiri ICE Institute dan terus berperan aktif dalam pengembangannya.
Menurutnya, IPB juga menerapkan kebijakan pembelajaran yang fleksibel dengan memberi kesempatan mahasiswa mengambil hingga 20 SKS di luar program studi untuk memperkaya kompetensi sesuai kebutuhan dan minat.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama dan Bisnis Universitas Terbuka (UT) Hendrian mengungkapkan, ICE Institute ibarat pusat perbelanjaan dengan toko-toko dan vendor yang lengkap. Agar lebih menarik dan dikunjungi masyarakat, maka dibutuhkan inovasi di dalamnya.
“Saat ini kami tengah mempercantik atau memperindah dan mengenalkan substansi-substansi kepada masyarakat. Ini agar mereka tertarik dan berkunjung ke dalamnya,” ujar Hendrian. (nas)


















