INDOPOSCO.ID – Ketahanan keuangan keluarga dinilai tidak hanya berpengaruh terhadap kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas tumbuh kembang generasi penerus.
Pernyataan tersebut diungkapkan Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria dalam keterangan, Selasa (28/7/2026).
Ia mengatakan, kondisi ekonomi rumah tangga yang lebih stabil memberi peluang lebih besar bagi anak untuk tetap bersekolah, memperoleh gizi yang memadai, serta terhindar dari risiko putus sekolah akibat tekanan ekonomi.
“Ini menjadi bagian dari upaya PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bersama Danantara dalam memperkuat ketahanan keuangan keluarga prasejahtera melalui pembiayaan ultra mikro yang dibarengi pendampingan berkelanjutan,” katanya.
Ia menyebut tantangan utama jutaan keluarga prasejahtera bukan hanya keterbatasan akses pembiayaan, melainkan juga rapuhnya ketahanan keuangan rumah tangga. Guncangan kecil, seperti anggota keluarga sakit, penjualan usaha menurun, atau meningkatnya biaya pendidikan anak, dapat langsung mengganggu kondisi ekonomi keluarga.
“Kami tidak hanya menyediakan pembiayaan tanpa agunan, tetapi juga membangun fondasi ketahanan keuangan melalui program pendampingan,” ungkapnya.
Berdasarkan riset BRI Research Institute pada 2023, sebanyak 69,2 persen nasabah ultra mikro PNM mengalami peningkatan ketahanan keuangan. Sebanyak 48,1 persen responden bahkan mampu memiliki ketahanan keuangan selama satu hingga dua bulan, meningkat signifikan dibanding sebelumnya yang rata-rata hanya bertahan satu hingga dua minggu tanpa tambahan pemasukan.
Ia menambahkan penguatan pembiayaan ultra mikro harus mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas. “Penguatan pembiayaan ultra mikro harus mampu memperluas akses usaha masyarakat sekaligus mendorong kemandirian ekonomi keluarga secara berkelanjutan,” ujarnya.
Direktur Utama PNM Kindaris menambahkan, bertambahnya durasi ketahanan keuangan memiliki makna lebih besar dibanding sekadar memperpanjang kemampuan bertahan hidup.
“Bagi keluarga prasejahtera, tambahan waktu tersebut memberikan ruang untuk mengambil keputusan ekonomi yang lebih rasional tanpa harus terjebak dalam pinjaman ilegal atau menjual aset produktif saat menghadapi keadaan mendesak,” ujarnya.
“Keluarga memiliki kesempatan mempertahankan usahanya tetap berjalan, memenuhi kebutuhan pangan secara lebih stabil, hingga menjaga keberlangsungan pendidikan anak,” lanjutnya.
Menurutnya, ketahanan keuangan yang lebih baik juga berkontribusi terhadap penguatan ekonomi nasional. Rumah tangga yang memiliki cadangan keuangan dinilai lebih mampu mempertahankan konsumsi ketika terjadi perlambatan ekonomi sehingga aktivitas ekonomi lokal tetap bergerak.
Ia menegaskan, keberhasilan pemberdayaan tidak hanya diukur dari besarnya pembiayaan yang disalurkan, tetapi juga dari meningkatnya kemampuan keluarga menghadapi masa depan dengan lebih percaya diri. (nas)


















