INDOPOSCO.ID – Pada 27 Juli 2026, merupakan Hari Sungai Nasional. Hari ini menjadi momentum yang tepat untuk mendiskusikan salah satu sungai penting di Pulau Jawa yaitu Sungai Brantas. Sungai tersebut merupakan legenda bagi masyarakat Pulau Jawa terutama rakyat Jawa Timur. Ia merekam kisah perjuangan Ronggolawe yang mempertahankan prinsip, tetapi di sisi lain juga mengangkat perjuangan Kebo Anabrang menjaga keutuhan negara yang seolah bertolak belakang.
Kedua ksatria di era Majapahit yang pada akhir hidupnya berhadap-hadapan dan bertarung di Sungai Brantas itu menjadi idola di hati rakyatnya masing-masing hingga kini. Namun, siapa menyangka sungai Brantas juga merekam perjuangan manusia untuk menghidupi ekonomi keluarga dengan melawan alam yaitu banjir berulang di Tulungagung yang terjadi terus menerus dari zaman kerajaan hingga kolonial.
Hulu sungai Brantas di Batu, Jawa Timur, hanya 55 km ke Pantai Selatan Jawa, tetapi justeru bermuara di Selat Madura, tepatnya di Kota Sidoarjo, yang jaraknya 6 kali lebih jauh alias 320 km.
Benteng alami
Perbukitan tektonik dengan formasi batuan metamorf berupa batuan marmer yang sangat tersohor di Tulungagung, Jawa Timur merupakan benteng alami yang terbentuk. Benteng alami ini yang menahan air sungai dari arah utara ke selatan sehingga aliran Sungai Brantas kembali mengalir ke utara melintasi lembah di antara Gunung Kawi dan Gunung Kelud.
Benteng alami karena proses tektonik mengangkat lapisan batuan metamorf di wilayah selatan Jawa tersebut ternyata menjadi berkah ekonomi bagi kabupaten-kabupaten di Jawa Timur seperti Ponorogo, Malang, Kediri, dan Blitar yang menjadi sentra padi ke-3 hingga ke-6 di timur pulau Jawa.
Jika tidak mengalir ke utara sawah-sawah penyumbang swasembada pangan itu akan kering kerontang tak berfungsi sehingga tidak mungkin ada kehidupan petani dan lahan sawah irigasi di wilayah utara Jawa.
Di sisi lain tanggul alam itu membuat Tulungagung di masa kolonial menderita karena mengalami banjir tahunan. Anak-anak sungai Brantas meluap hingga merendam rumah penduduk hingga ke atap. Umumnya air baru surut setelah satu bulan.
Penduduk harus mengungsi agar dapat bertahan hidup lalu kembali setelah kering. Lansekap Tulungagung bahkan lebih menyerupai rawa.
Di masa kolonial hanya segelintir ahli dari Belanda dan Inggris yang memahami pola aliran alami sungai Brantas yang unik. Ketika pesawat udara ditemukan dan mengudara di atas pulau Jawa, pola tersebut semakin mudah diamati. Belanda dan Inggris tak berani membuat rekayasa teknologi mengubah aliran air ke selatan karena memakan biaya dan waktu. Teknologi rekayasa dirasa sangat berat dilaksanakan pada masa itu oleh penduduk setempat.
Saluran Niyama
Ketika Jepang datang berkah sekaligus musibah dimulai. Jepang merencanakan membuat sebuah saluran yang dinamakan Saluran Niyama dengan mengambil badan sungai yang memiliki sisi terpendek dengan pantai Selatan Jawa. Saluran itu berjarak 4 km dari sungai Brantas ke muara buatan.
Saluran atau terowongan Niyama terekam dalam catatan Kusairi (2020) di jurnal yang berjudul “Perang Memori dan Historiografi Indonesia” dan jurnal lain karya Wahyuningtyas (2020) berjudul “Mengubah Opini Masyarakat tentang Terowongan Niyama” yang mencatat bahwa Jepang memobilisasi ribuan romusha per hari untuk menggali saluran sepanjang 1,157 m selama periode Februari 1943 hingga Agustus 1944.
Tentu ini musibah bagi rakyat karena bekerja dengan bayaran murah, bahkan sebagian tanpa bayaran. Namun, saluran itu juga berkah bagi warga Tulungagung karena terbebas dari banjir musiman tiap tahunnya saat itu. Berkat saluran Niyama maka aliran air sungai Brantas menjadi bercabang ke utara dan selatan. Aliran ke utara mengairi wilayah pertanian, sementara aliran ke selatan membebaskan rakyat dari derita kebanjiran.
Setelah Indonesia merdeka Jepang ternyata masih mengingat rekayasa aliran sungai tersebut. Pada era Soekarno, Jepang kembali mendanai saluran Niyama agar lebar saluran lebih luas menyerupai saluran bendungan dan aliran sungai buatan yang lebih pendek yaitu 1,5 km.
Saluran Niyama juga mengairi wilayah pertanian di selatan. Kini proses geomorfologi alami dan saluran buatan pada sungai Brantas menjadi peristiwa alam sekaligus simbol perjuangan manusia dalam mengelola alam dan menumbuhkan harapan baru bagi keberlangsungan dan kelestarian lahan.
Hingga kini sungai Brantas merupakan anugerah dan berkah bagi penduduk setempat yang dilaluinya. Berbagai aktivitas seperti pertanian, perikanan, perkebunan hingga ekowisata menjadikan sungai ini sebagai tumpuan ekonomi keluarga.
Sistem irigasi, waduk, hingga kanal yang dibangun sejak masa kerajaan hingga kolonial, telah memungkinkan pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian. Namun, perkembangan modern juga menghadirkan tantangan besar berupa degradasi lingkungan, sedimentasi, dan pencemaran.
Tata hulu selamatkan hilir
Selat Madura yang merupakan hilir sungai Brantas merupakan wilayah strategis yang menjadi pertemuan berbagai ekosistem darat dan laut. Saat sungai Brantas bermuara di kawasan ini, terjadi proses transportasi sedimen, hara, dan limbah dari hulu ke hilir.
Akumulasi beban pencemaran industri, limbah rumah tangga, serta aktivitas pertanian yang tidak ramah lingkungan seringkali memperburuk kualitas perairan di sekitar muara.
Di sisi lain, sungai besar ini juga berpotensi menciptakan ekosistem pesisir yang kaya. Muara dapat menjadi habitat penting bagi perikanan tangkap, hutan mangrove, serta sistem pertanian pesisir yang berkelanjutan apabila dikelola dengan baik. Kondisi Brantas hari ini menggambarkan perjuangan panjang masyarakat Jawa dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Di hulu, kawasan perkebunan teh, kopi, dan hortikultura berkontribusi terhadap penyerapan air sekaligus menjaga kualitas tanah. Namun, alih fungsi lahan dan tekanan populasi seringkali mempercepat erosi dan menurunkan daya dukung lingkungan.
Di tengah dan hilir, pencemaran dari aktivitas industri serta penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan masih menjadi masalah klasik. Perjuangan nyata kini bukan hanya tentang meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menata pengelolaan lingkungan agar sistem pertanian tetap berkelanjutan.
Jika pengelolaan air, tanah, dan ekosistem sungai dilakukan secara terpadu, maka kawasan ini bisa menjadi pusat ketahanan pangan dan perkebunan berkelanjutan di pulau Jawa.
Beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh antara lain: 1) penguatan konservasi di hulu melalui rehabilitasi lahan kritis, penanaman kembali vegetasi, serta pertanian ramah lingkungan, 2) pengelolaan air terpadu yang melibatkan waduk, embung, dan jaringan irigasi modern untuk mengurangi risiko banjir dan kekeringan, 3) pertanian organik dan agroforestri sebagai solusi untuk mengurangi pencemaran dan meningkatkan produktivitas lahan, 4) pengembangan ekonomi biru di hilir dengan pemanfaatan mangrove, perikanan berkelanjutan, dan ekowisata berbasis muara.
Muara sungai Brantas bukan hanya fakta dan fenomena geografis semata, melainkan juga cerminan perjuangan masyarakat Jawa dalam mengelola sumber daya alam. Tantangan degradasi lingkungan, pencemaran, dan perubahan iklim menuntut solusi kolektif.
Namun, dari pertemuan itu pula lahir harapan besar, bahwa dengan pengelolaan terpadu, pertanian dan perkebunan di Jawa dapat terus tumbuh, lestari, dan memberikan kesejahteraan bagi generasi mendatang dan selamat menyambut Hari Sungai Nasional 27 Juli 2026. (srv)
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan, BRIN dan Dosen Ilmu Tanah, Departemen Sumberdaya Lahan IPB University.
Anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI).


















