• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Sungai Brantas: Antara Legenda dan Berkah Ekonomi

Oleh : R. A. Gani, M.Si, Dr. Darmawan, dan Dr. Destika Cahyana, SP. M.Sc

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Senin, 27 Juli 2026 - 19:32
in Nasional
Percabangan Sungai Brantas yang melintasi Kabupaten Tulungangung, Jawa Timur. Foto : Google Earth Pro

Percabangan Sungai Brantas yang melintasi Kabupaten Tulungangung, Jawa Timur. Foto : Google Earth Pro

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Pada 27 Juli 2026, merupakan Hari Sungai Nasional. Hari ini menjadi momentum yang tepat untuk mendiskusikan salah satu sungai penting di Pulau Jawa yaitu Sungai Brantas. Sungai tersebut merupakan legenda bagi masyarakat Pulau Jawa terutama rakyat Jawa Timur. Ia merekam kisah perjuangan Ronggolawe yang mempertahankan prinsip, tetapi di sisi lain juga mengangkat perjuangan Kebo Anabrang menjaga keutuhan negara yang seolah bertolak belakang.

Kedua ksatria di era Majapahit yang pada akhir hidupnya berhadap-hadapan dan bertarung di Sungai Brantas itu menjadi idola di hati rakyatnya masing-masing hingga kini. Namun, siapa menyangka sungai Brantas juga merekam perjuangan manusia untuk menghidupi ekonomi keluarga dengan melawan alam yaitu banjir berulang di Tulungagung yang terjadi terus menerus dari zaman kerajaan hingga kolonial.

BacaJuga:

Soal Peluang Periksa Raja Juli, KPK: Bukan Masalah Berani atau Tidak

Ledakan AI Ubah Lanskap Dunia, Wamendiktisaintek Tekankan 3 Peran Kunci Perguruan Tinggi

Bertemu Kadin di Istana, Prabowo: Sinergi Pemerintah dan Pengusaha Kunci Pembangunan

Hulu sungai Brantas di Batu, Jawa Timur, hanya 55 km ke Pantai Selatan Jawa, tetapi justeru bermuara di Selat Madura, tepatnya di Kota Sidoarjo, yang jaraknya 6 kali lebih jauh alias 320 km.

Benteng alami
Perbukitan tektonik dengan formasi batuan metamorf berupa batuan marmer yang sangat tersohor di Tulungagung, Jawa Timur merupakan benteng alami yang terbentuk. Benteng alami ini yang menahan air sungai dari arah utara ke selatan sehingga aliran Sungai Brantas kembali mengalir ke utara melintasi lembah di antara Gunung Kawi dan Gunung Kelud.

Benteng alami karena proses tektonik mengangkat lapisan batuan metamorf di wilayah selatan Jawa tersebut ternyata menjadi berkah ekonomi bagi kabupaten-kabupaten di Jawa Timur seperti Ponorogo, Malang, Kediri, dan Blitar yang menjadi sentra padi ke-3 hingga ke-6 di timur pulau Jawa.

Jika tidak mengalir ke utara sawah-sawah penyumbang swasembada pangan itu akan kering kerontang tak berfungsi sehingga tidak mungkin ada kehidupan petani dan lahan sawah irigasi di wilayah utara Jawa.

Di sisi lain tanggul alam itu membuat Tulungagung di masa kolonial menderita karena mengalami banjir tahunan. Anak-anak sungai Brantas meluap hingga merendam rumah penduduk hingga ke atap. Umumnya air baru surut setelah satu bulan.

Penduduk harus mengungsi agar dapat bertahan hidup lalu kembali setelah kering. Lansekap Tulungagung bahkan lebih menyerupai rawa.

Di masa kolonial hanya segelintir ahli dari Belanda dan Inggris yang memahami pola aliran alami sungai Brantas yang unik. Ketika pesawat udara ditemukan dan mengudara di atas pulau Jawa, pola tersebut semakin mudah diamati. Belanda dan Inggris tak berani membuat rekayasa teknologi mengubah aliran air ke selatan karena memakan biaya dan waktu. Teknologi rekayasa dirasa sangat berat dilaksanakan pada masa itu oleh penduduk setempat.

Saluran Niyama

Ketika Jepang datang berkah sekaligus musibah dimulai. Jepang merencanakan membuat sebuah saluran yang dinamakan Saluran Niyama dengan mengambil badan sungai yang memiliki sisi terpendek dengan pantai Selatan Jawa. Saluran itu berjarak 4 km dari sungai Brantas ke muara buatan.

Saluran atau terowongan Niyama terekam dalam catatan Kusairi (2020) di jurnal yang berjudul “Perang Memori dan Historiografi Indonesia” dan jurnal lain karya Wahyuningtyas (2020) berjudul “Mengubah Opini Masyarakat tentang Terowongan Niyama” yang mencatat bahwa Jepang memobilisasi ribuan romusha per hari untuk menggali saluran sepanjang 1,157 m selama periode Februari 1943 hingga Agustus 1944.

Tentu ini musibah bagi rakyat karena bekerja dengan bayaran murah, bahkan sebagian tanpa bayaran. Namun, saluran itu juga berkah bagi warga Tulungagung karena terbebas dari banjir musiman tiap tahunnya saat itu. Berkat saluran Niyama maka aliran air sungai Brantas menjadi bercabang ke utara dan selatan. Aliran ke utara mengairi wilayah pertanian, sementara aliran ke selatan membebaskan rakyat dari derita kebanjiran.

Setelah Indonesia merdeka Jepang ternyata masih mengingat rekayasa aliran sungai tersebut. Pada era Soekarno, Jepang kembali mendanai saluran Niyama agar lebar saluran lebih luas menyerupai saluran bendungan dan aliran sungai buatan yang lebih pendek yaitu 1,5 km.

Saluran Niyama juga mengairi wilayah pertanian di selatan. Kini proses geomorfologi alami dan saluran buatan pada sungai Brantas menjadi peristiwa alam sekaligus simbol perjuangan manusia dalam mengelola alam dan menumbuhkan harapan baru bagi keberlangsungan dan kelestarian lahan.

Hingga kini sungai Brantas merupakan anugerah dan berkah bagi penduduk setempat yang dilaluinya. Berbagai aktivitas seperti pertanian, perikanan, perkebunan hingga ekowisata menjadikan sungai ini sebagai tumpuan ekonomi keluarga.

Sistem irigasi, waduk, hingga kanal yang dibangun sejak masa kerajaan hingga kolonial, telah memungkinkan pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian. Namun, perkembangan modern juga menghadirkan tantangan besar berupa degradasi lingkungan, sedimentasi, dan pencemaran.

Tata hulu selamatkan hilir
Selat Madura yang merupakan hilir sungai Brantas merupakan wilayah strategis yang menjadi pertemuan berbagai ekosistem darat dan laut. Saat sungai Brantas bermuara di kawasan ini, terjadi proses transportasi sedimen, hara, dan limbah dari hulu ke hilir.

Akumulasi beban pencemaran industri, limbah rumah tangga, serta aktivitas pertanian yang tidak ramah lingkungan seringkali memperburuk kualitas perairan di sekitar muara.

Di sisi lain, sungai besar ini juga berpotensi menciptakan ekosistem pesisir yang kaya. Muara dapat menjadi habitat penting bagi perikanan tangkap, hutan mangrove, serta sistem pertanian pesisir yang berkelanjutan apabila dikelola dengan baik. Kondisi Brantas hari ini menggambarkan perjuangan panjang masyarakat Jawa dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Di hulu, kawasan perkebunan teh, kopi, dan hortikultura berkontribusi terhadap penyerapan air sekaligus menjaga kualitas tanah. Namun, alih fungsi lahan dan tekanan populasi seringkali mempercepat erosi dan menurunkan daya dukung lingkungan.

Di tengah dan hilir, pencemaran dari aktivitas industri serta penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan masih menjadi masalah klasik. Perjuangan nyata kini bukan hanya tentang meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menata pengelolaan lingkungan agar sistem pertanian tetap berkelanjutan.

Jika pengelolaan air, tanah, dan ekosistem sungai dilakukan secara terpadu, maka kawasan ini bisa menjadi pusat ketahanan pangan dan perkebunan berkelanjutan di pulau Jawa.

Beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh antara lain: 1) penguatan konservasi di hulu melalui rehabilitasi lahan kritis, penanaman kembali vegetasi, serta pertanian ramah lingkungan, 2) pengelolaan air terpadu yang melibatkan waduk, embung, dan jaringan irigasi modern untuk mengurangi risiko banjir dan kekeringan, 3) pertanian organik dan agroforestri sebagai solusi untuk mengurangi pencemaran dan meningkatkan produktivitas lahan, 4) pengembangan ekonomi biru di hilir dengan pemanfaatan mangrove, perikanan berkelanjutan, dan ekowisata berbasis muara.

Muara sungai Brantas bukan hanya fakta dan fenomena geografis semata, melainkan juga cerminan perjuangan masyarakat Jawa dalam mengelola sumber daya alam. Tantangan degradasi lingkungan, pencemaran, dan perubahan iklim menuntut solusi kolektif.

Namun, dari pertemuan itu pula lahir harapan besar, bahwa dengan pengelolaan terpadu, pertanian dan perkebunan di Jawa dapat terus tumbuh, lestari, dan memberikan kesejahteraan bagi generasi mendatang dan selamat menyambut Hari Sungai Nasional 27 Juli 2026. (srv)

Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan, BRIN dan Dosen Ilmu Tanah, Departemen Sumberdaya Lahan IPB University.
Anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI).

Tags: lingkunganpenelitiansungai

Berita Terkait.

menhut
Nasional

Soal Peluang Periksa Raja Juli, KPK: Bukan Masalah Berani atau Tidak

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 02:20
dikti
Nasional

Ledakan AI Ubah Lanskap Dunia, Wamendiktisaintek Tekankan 3 Peran Kunci Perguruan Tinggi

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 01:02
kadin
Nasional

Bertemu Kadin di Istana, Prabowo: Sinergi Pemerintah dan Pengusaha Kunci Pembangunan

Jumat, 31 Juli 2026 - 23:43
kur
Nasional

Pemerintah Tegaskan KUR Rp100 Juta Bebas Agunan, Segera Lapor Jika Ada Pungli dan Calo

Jumat, 31 Juli 2026 - 22:22
johny
Nasional

Mutasi Besar Polri: 146 Perwira Pati dan Pamen Berganti Jabatan

Jumat, 31 Juli 2026 - 22:02
perpres
Nasional

Perpres 38/2026 Resmi Berlaku, Satukan Langkah Bangun Ekosistem Kewirausahaan Nasional

Jumat, 31 Juli 2026 - 21:11

BERITA POPULER

  • Jasad

    Kasus Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur, DPR Tekankan Keadilan dan Perlindungan Keluarga Korban

    2026 shares
    Share 810 Tweet 507
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    1993 shares
    Share 797 Tweet 498
  • Blak-blakan Soal Keputusannya Gabung Persib, Mariano Peralta Tegaskan Hal Ini

    978 shares
    Share 391 Tweet 245
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3132 shares
    Share 1253 Tweet 783
  • Sertifikasi Mutu KKP Dorong Belut Kalimantan Tembus Pasar Global

    819 shares
    Share 328 Tweet 205
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.