INDOPOSCO.ID – Sekolah Vokasi Universitas Terbuka (UT) terus memperluas akses pendidikan tinggi terjangkau dan berkualitas di seluruh pelosok tanah air. Direktur Sekolah Vokasi UT, Mohammad Yunus, mengungkapkan bahwa data Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi di Indonesia masih terbilang rendah.
Bahkan, menurutnya, lulusan SMK yang melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi masih di bawah angka 20 persen.
“Kondisi ini menunjukkan betapa besarnya angka lulusan SLTA yang belum meraih pendidikan tinggi, mencapai 67,11 persen pada tahun 2025. Karena itu, UT berpikir keras untuk melahirkan Sekolah Vokasi yang fleksibel, aplikatif, namun tetap terhubung langsung dengan kebutuhan industri,” ujar Yunus saat membuka Seminar Nasional Vokasi UT di Tangerang Selatan, Selasa (15/9/2026).
Yunus menjelaskan, Sekolah Vokasi UT yang saat ini mengelola Prodi D3 Perpajakan dan D3 Kearsipan. Dan telah menyiapkan peta jalan (roadmap) ekspansi program studi secara masif hingga beberapa tahun ke depan.
”Pada Mei 2027 mendatang, sekolah vokasi UT dijadwalkan membuka tiga prodi baru, yakni D3 Teknologi Informasi, D4 Akuntansi Bisnis Digital, dan D4 Logistik Niaga Internasional,” terangnya.
Langkah tersebut, menurutnya, berlanjut pada 2028 dengan pembukaan D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan D4 Teknologi Rekayasa Otomotif yang berfokus pada kendaraan listrik (electric vehicle).
“Pada periode 2029–2030, Sekolah Vokasi UT menargetkan pembukaan prodi strategis lainnya seperti D4 Pengelolaan Hotel, D4 Komunikasi Digital, D4 Tata Boga, D4 Keamanan Sistem Informasi, hingga D4 Rekayasa Perangkat Lunak,” bebernya.
”Unggul di bidang IT membuat UT siap tak hanya membuka jenjang D4, tetapi juga menembus jenjang magister terapan (S2) hingga doktor terapan (S3) terapan di bidang teknologi informasi,” imbuhnya.
Ia menambahkan, untuk memastikan kualitas lulusan agar siap kerja dan berdaya saing global, Sekolah Vokasi UT menerapkan porsi kurikulum berbasis praktik sebesar 60 hingga 70 persen. Selain itu, setiap mahasiswa diwajibkan mengantongi minimal dua sertifikasi kompetensi profesional, mahir satu dari lima pilihan bahasa asing, serta mengikuti perkuliahan atau pelatihan berstandar internasional.
Di tempat yang sama, Kepala Pusat Pengembangan SDM, Kementerian Ekonomi Kreatif R. Adi Mukhtar Rivai mengatakan, kinerja ekonomi kreatif menunjukkan capaian positif sepanjang 2025. Investasi di sektor tersebut tercatat mencapai Rp183 triliun atau sekitar 134 persen dari target yang ditetapkan pemerintah.
Capaian tersebut, menurutnya, melampaui target investasi ekonomi kreatif 2025 yang berada di kisaran Rp123 triliun hingga Rp136 triliun. Data tersebut mengacu pada realisasi investasi yang dicatat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
“Selain investasi, sejumlah indikator utama ekonomi kreatif juga mencatat kinerja di atas target. Capaian ekspor ekonomi kreatif mencapai sekitar 120 persen dari target, sementara penyerapan tenaga kerja mencapai 107 persen,” ungkapnya.
Sementara, lanjut dia, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif juga menunjukkan performa positif dengan capaian sekitar 124 persen dari target yang ditetapkan.
Ia menilai capaian tersebut memperlihatkan besarnya potensi ekonomi kreatif sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, sekaligus pencipta lapangan kerja baru. “Ekonomi kreatif dinilai memiliki karakteristik berbeda dibandingkan era ekonomi sebelumnya,” ujarnya.
“Jika ekonomi agrikultural bertumpu pada sumber daya alam dan tenaga manusia, sementara ekonomi industrial mengandalkan mesin dan otomatisasi. Dan ekonomi kreatif menjadikan kreativitas, pengetahuan, budaya, dan inovasi sebagai sumber utama penciptaan nilai,” imbuhnya.
Karena itu, dikatakan dia, pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penting. Talenta kreatif dinilai menjadi kekuatan utama dalam menghasilkan ide dan karya yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Ia menjelaskan, pengembangan ekonomi kreatif juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya Asta Cita ketiga dan kelima. Asta Cita ketiga menekankan penciptaan lapangan kerja, pengembangan kewirausahaan, serta industri kreatif.
Sementara, masih ujar dia, Asta Cita kelima mendorong hilirisasi dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri, termasuk pengembangan serta pemasaran produk bernilai tinggi.
“Memasuki 2026, kinerja ekonomi kreatif juga terus dipantau. Hingga triwulan II 2026, realisasi investasi disebut telah mencapai 87 persen dari target tahunan. Sementara capaian ekspor berada di angka sekitar 27 persen,” bebernya. (nas)















