INDOPOSCO.ID – PT Patra Drilling Contractor (PDC) bersama Fungsi Upstream Innovation PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menghadirkan inovasi teknologi berbasis microalgae sebagai solusi penurunan emisi karbon dioksida (CO₂) di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas).
Teknologi tersebut berhasil diimplementasikan dalam skala uji coba di Stasiun Pengumpul (SP) Subang, Pertamina EP Regional 2 Zona 7 Subang Area, dengan kapasitas penyerapan CO₂ mencapai 0,11 MMscfd menggunakan volume kultur microalgae sebesar 12 ribu liter.
Implementasi teknologi ini menjadi bagian dari upaya mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia 2030 sekaligus memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam industri energi nasional.
Teknologi microalgae bekerja dengan memanfaatkan kemampuan organisme tersebut menyerap karbon dioksida yang dihasilkan dari proses produksi gas. Emisi yang sebelumnya dilepas ke atmosfer kemudian diubah menjadi biomassa yang memiliki nilai tambah dan berpotensi dimanfaatkan sebagai soil enhancer atau pembenah tanah untuk mendukung program bioremediasi lahan.
Senior Manager Subang Field, Despredi Akbar, mengatakan implementasi teknologi tersebut menjadi salah satu langkah inovatif dalam mengoptimalkan pengelolaan emisi di fasilitas operasi migas.
“Melalui implementasi teknologi microalgae, kami berupaya menangkap sebagian emisi CO₂ hasil proses produksi sehingga dapat mengurangi karbon yang dilepas ke atmosfer. Harapannya, teknologi ini dapat terus dikembangkan dalam skala yang lebih besar sehingga memberikan kontribusi yang semakin signifikan terhadap upaya dekarbonisasi sektor energi,” ujar Despredi, dikutip Minggu (26/7/2026).
Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara PDC dan PHE dalam mengembangkan solusi rendah karbon yang dapat diterapkan di fasilitas hulu migas. Dalam pelaksanaannya, PDC bertanggung jawab mulai dari proses engineering, pengadaan, konstruksi, instalasi, hingga implementasi skala uji coba sistem microalgae.
VP Project PDC, Achmad Rifai, mengatakan keberhasilan proyek percontohan tersebut membuktikan bahwa kolaborasi dan pemanfaatan teknologi dapat menghasilkan solusi dekarbonisasi yang aplikatif bagi industri energi.
“Keberhasilan implementasi ini menunjukkan bahwa solusi dekarbonisasi dapat dikembangkan melalui kolaborasi dan aplikasi teknologi yang tepat. Data operasional yang diperoleh selama masa uji coba akan menjadi dasar penting dalam pengembangan teknologi ini pada fasilitas migas lainnya sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas,” katanya.
Menurut Rifai, implementasi perdana ini menjadi langkah awal untuk memperoleh validasi teknologi sekaligus mengumpulkan data operasional sebagai dasar pengembangan photobioreactor Algatek Karbon dengan kapasitas yang lebih besar. Pengembangan berikutnya ditargetkan mampu meningkatkan efisiensi penyerapan CO₂ hingga lebih dari 79 persen atau melampaui kapasitas penyerapan saat ini sebesar 0,11 MMscfd.
Pengembangan teknologi tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya dekarbonisasi sektor hulu migas sekaligus mendukung transisi menuju industri energi yang lebih berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.
Selain berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon, biomassa hasil budidaya microalgae juga memiliki potensi ekonomi dan lingkungan karena dapat dimanfaatkan sebagai material bioremediasi untuk meningkatkan kualitas tanah pada lahan yang memerlukan pemulihan.
Rifai menegaskan PDC siap memperluas kolaborasi dalam pengembangan teknologi carbon capture and utilization (CCU) berbasis microalgae, termasuk mendukung implementasi program perdagangan karbon di lingkungan Pertamina.
“PDC siap menjadi yang terdepan dalam kolaborasi pengembangan proyek carbon capture and utilization berbasis microalgae, termasuk pemanfaatannya sebagai solusi bioremediasi untuk meningkatkan kualitas tanah. PDC juga siap menjadi mitra strategis dalam mendukung implementasi program kredit karbon di lingkungan Pertamina,” ujarnya.
Sebagai informasi, pekerjaan konstruksi proyek berlangsung pada 13 April hingga 15 Juni 2026, dilanjutkan dengan instalasi dan pengoperasian sistem microalgae. Sementara implementasi skala uji coba penurunan emisi CO₂ di SP Subang dilaksanakan pada 19 Juni hingga 8 Juli 2026, sebagai tahap awal pengembangan teknologi rendah karbon untuk mendukung ketahanan energi sekaligus pencapaian target emisi nasional.(rmn)


















