INDOPOSCO.ID – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga daging sapi di tingkat konsumen masih dalam kondisi terkendali. Meski di sejumlah pasar ditemukan harga mencapai Rp160.000 hingga Rp180.000 per kilogram (kg), Bapanas menegaskan angka tersebut bukan merupakan harga daging sapi secara umum, melainkan untuk potongan premium seperti has dalam yang telah dibersihkan dari lemak.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyampaikan hal tersebut usai meninjau Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Kamis (23/7/2026). Menurutnya, harga daging sapi reguler di berbagai pasar masih berada di kisaran yang wajar dan terus dipantau pemerintah guna menjaga stabilitas pasokan maupun harga di tingkat konsumen.
“Ada beberapa wilayah kemarin juga kita turun di Rawamangun, di Senen, ada juga Rp140.000, (tapi) yang Rp160.000 itu relatif yang benar-benar has dalam, kemudian dihilangin lemak-lemaknya. Namun demikian tentu kami akan pantau terus,” kata Ketut.
Berdasarkan pemantauan Bapanas hingga 22 Juli, rata-rata harga daging sapi nasional berada di Rp143.601 per kg atau sekitar 2,57 persen di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp140.000 per kg. Meski demikian, kenaikan tersebut dinilai masih dalam batas wajar dan belum menunjukkan gejolak pasar.
Untuk menjaga stabilitas dalam jangka panjang, pemerintah terus mendorong program swasembada sapi guna meningkatkan produksi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Langkah penstabilan daging sapi karena memang ada sedikit pengaruh (kurs) dolar. Namun demikian, sebagaimana arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, tentu kita terus mendorong dan mendukung swasembada sapi. Mudah-mudahan dengan program swasembada juga bisa menekan impor,” jelas Ketut.
Proyeksi Neraca Pangan 2026 memperkirakan produksi sapi dan kerbau lokal mencapai 421,21 ribu ton daging, sementara kebutuhan nasional diproyeksikan 794,29 ribu ton. Kekurangan pasokan akan dipenuhi melalui impor yang telah diperhitungkan pemerintah sehingga stok akhir tahun diperkirakan mencapai 324,09 ribu ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar lima bulan pada awal 2027.
Dalam waktu dekat, Bapanas akan memperkuat koordinasi dengan Perumda Pasar Jaya serta BUMN seperti Berdikari dan PPI untuk mempercepat distribusi daging sapi dan menjaga harga tetap stabil.
“Namun demikian, tentu kami juga akan terus berkoordinasi dengan teman-teman Perumda Pasar Jaya termasuk juga dengan BUMN, Berdikari dan PPI, untuk juga segera mendistribusikan dan menstabilkan harga dari daging sapi. Ini salah satu solusi, sehingga mudah-mudahan harganya bisa distabilkan,” tambahnya.
Sebelumnya, pemerintah juga berhasil menjaga stabilitas harga daging sapi selama Ramadan dan Idulfitri. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, pemerintah telah mewajibkan importir mengeluarkan stok daging ke pasar agar tidak terjadi lonjakan harga.
“Kami sudah minta, semuanya harus mengeluarkan dagingnya. Jangan sampai harga naik. Kalau ada produsen menaikkan, khususnya feedloter, menaikkan yang sapi bakalan, aku cabut izinnya dan tidak boleh impor lagi. Itu kenaikan harga ada di distributor besar, middleman-nya,” tegas Amran.
Pemerintah juga menegaskan akan menindak tegas praktik permainan harga oleh distributor maupun pedagang perantara yang merugikan masyarakat.
“Kami minta Satgas Pangan seluruh Indonesia, bila perlu langsung segel saja. Tak boleh beri ampun. Sekarang kita sepakat bahwasannya bukan lagi karena produksi, tetapi ulah segelintir orang tapi menyusahkan jutaan rakyat Indonesia. Kami minta tidak boleh naik. Dirkrimsus tadi aku minta yang distributor besarnya, dikejar,” tutup Amran.(her)


















