INDOPOSCO.ID – Industri kelapa sawit dinilai masih akan menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional. Namun, di tengah meningkatnya persaingan global, pemerintah menilai penguatan sektor ini tidak lagi cukup mengandalkan produksi bahan baku, melainkan harus ditopang oleh riset, inovasi, dan percepatan hilirisasi.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menutup Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Dalam paparannya, Airlangga mengungkapkan industri sawit memiliki kontribusi strategis bagi perekonomian Indonesia. Pada 2025, sektor ini menyumbang sekitar 3,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), mencatatkan nilai ekspor mencapai USD30,87 miliar, serta menghasilkan penerimaan negara dari pungutan ekspor dan bea keluar sebesar Rp53,13 triliun.
Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi pijakan untuk meningkatkan daya saing melalui pengembangan teknologi, peningkatan produktivitas, serta penciptaan produk hilir dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Implementasi Biodiesel B50 menunjukkan bahwa riset, kebijakan, investasi, dan kapasitas industri mampu berjalan selaras. Ke depan, keberhasilan ini harus menjadi pijakan untuk mengembangkan hilirisasi menuju produk bernilai tambah seperti Green Diesel, Sustainable Aviation Fuel (SAF), dan bensin sawit,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu diterapkan secara nyata oleh dunia usaha.
“Kami juga berharap PERISAI tidak hanya menjadi forum pertukaran gagasan, tetapi mampu melahirkan kolaborasi nyata yang mempercepat penerapan dan komersialisasi hasil riset sehingga memberikan manfaat bagi industri dan masyarakat,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman menegaskan komitmen lembaganya dalam memperluas dukungan terhadap riset sebagai fondasi transformasi industri perkebunan nasional.
“PERISAI menjadi wadah untuk mempertemukan peneliti, pemerintah, dunia usaha, dan investor agar hasil riset dapat diimplementasikan serta memberikan nilai tambah bagi industri dan perekonomian nasional,” kata Eddy.
Sejauh ini, BPDP telah mengalokasikan dana riset sebesar Rp921 miliar yang melibatkan 109 lembaga penelitian dengan sekitar 1.900 peneliti dari berbagai institusi. Pada 2026, BPDP kembali memperluas dukungannya melalui penandatanganan 56 kontrak riset baru, termasuk penelitian mengenai pengembangan komoditas kelapa nasional dan kesiapan infrastruktur untuk implementasi Biodiesel B50.
PERISAI 2026 sendiri diikuti sekitar 1.500 peserta dari berbagai kalangan. Selain seminar ilmiah, agenda tersebut juga menghadirkan pameran inovasi, business matching, Forum Lembaga Pendidikan Penerima Beasiswa SDM Perkebunan, final Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa, hingga peluncuran Pedoman Pengarusutamaan Gender di Industri Kelapa Sawit Indonesia sebagai bagian dari upaya mendorong pembangunan sektor sawit yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (her)


















