INDOPOSCO.ID – Transformasi sektor peternakan nasional dinilai harus bertumpu pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu upaya yang didorong adalah pengembangan teknologi embrio in vivo dan in vitro untuk mempercepat peningkatan mutu genetik ternak.
Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Peternakan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yanuar Achadri, memaparkan hasil riset mengenai strategi memaksimalkan keberhasilan teknologi embrio tersebut.
“Teknologi embrio ini mempercepat peningkatan mutu genetik ternak,” kata Yanuar dalam keterangan, Minggu (19/7/2026).
Menurutnya, tantangan utama dalam akselerasi genetik berasal dari tingginya sensitivitas sistem reproduksi ternak terhadap perubahan suhu, baik akibat stres panas (heat stress) maupun cekaman dingin saat proses kriopreservasi.
“Pemahaman mendalam mengenai mekanisme kerusakan seluler pada oosit sangat diperlukan agar peneliti dapat merumuskan formulasi media proteksi dan manajemen lingkungan yang tepat untuk menjaga viabilitas sel telur,” ungkap Yanuar.
Dia menjelaskan, penguasaan ilmu dasar menjadi kunci untuk menghasilkan inovasi yang mampu menjawab berbagai persoalan di sektor peternakan, khususnya dalam meningkatkan kualitas reproduksi ternak.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, BRIN, Puji Lestari, menegaskan bahwa kebutuhan protein hewani yang terus meningkat harus direspons melalui inovasi berbasis riset.
Menurutnya, peningkatan populasi ternak saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah mempercepat perbaikan mutu genetik dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Riset tidak lagi berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus mampu menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata oleh peternak, industri, maupun pemerintah,” tegas Puji.(nas)


















