INDOPOSCO.ID – Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (IKA PTKIN) ingin mengambil peran lebih besar dalam pembangunan nasional. Organisasi alumni itu menegaskan tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga akan berkontribusi melalui penyusunan gagasan dan riset sebagai mitra strategis pemerintah.
Ketua Umum (Ketum) IKA PTKIN Idrus Marham mengatakan, organisasi yang dipimpinnya akan mengedepankan penyusunan konsep kebijakan berbasis data dan penelitian untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat. Mulai dari kemiskinan, pendidikan, kenakalan remaja, hingga penyalahgunaan narkoba.
“Konsep yang kita rumuskan harus menjadi solusi untuk mengatasi masalah-masalah rakyat. Karena itu harus berbasis fakta dan didukung riset,” ujar Idrus ditemui indoposco.id di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Menurut dia, IKA PTKIN memiliki modal besar untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan karena dihuni banyak akademisi, guru besar, serta civitas perguruan tinggi. Potensi tersebut akan dikonsolidasikan agar mampu menghasilkan penelitian yang dapat menjadi rujukan pemerintah.
Idrus menegaskan, posisi IKA PTKIN adalah sebagai mitra strategis pemerintah. Karena itu, setiap kritik yang disampaikan harus bersifat objektif, rasional, dan didasarkan pada fakta, bukan untuk menjatuhkan pemerintah.
“Kita tetap kritis, tetapi kritik yang objektif, berbasis fakta, dengan niat membangun bangsa dan menyelesaikan persoalan masyarakat,” katanya.
Selain menyusun solusi atas persoalan rakyat, IKA PTKIN juga akan mendorong pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui berbagai gagasan, termasuk penguatan ekonomi umat dan peningkatan akses pendidikan sebagai jalan mengatasi kemiskinan struktural.
“Kalau ingin memutus kemiskinan, salah satu jalannya melalui pendidikan. Karena itu isu beasiswa dan peningkatan kualitas pendidikan harus menjadi perhatian,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Idrus juga menegaskan, salah satu fokus utama IKA PTKIN adalah memperkuat kampus asal para alumni. Menurutnya, organisasi alumni memiliki tanggung jawab menjaga tradisi keilmuan sekaligus mendukung pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia menilai PTKIN kini telah berkembang menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya memiliki program studi keagamaan, tetapi juga bidang ekonomi, kedokteran, teknik, dan disiplin ilmu lainnya. Karena itu, kualitas lulusannya dinilai mampu bersaing, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“IKA harus bersinergi dengan kampus agar mampu melahirkan alumni yang berkualitas dan memiliki daya saing global,” ujarnya.
Idrus mencontohkan perguruan tinggi di sejumlah negara maju berkembang pesat berkat kontribusi alumninya, baik dalam menjaga tradisi intelektual maupun dukungan pendanaan. Model tersebut, kata dia, akan mulai dikembangkan secara bertahap di lingkungan PTKIN.
Lebih lanjut, ia mengakui Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia (SDM) yang cerdas. Namun tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan membangun kolaborasi.
“Potensi ada di mana-mana. Tinggal bagaimana mengonsolidasikan seluruh potensi itu menjadi kekuatan bersama. Yang harus dikedepankan adalah kepentingan bangsa dan umat, bukan ego masing-masing,” ucapnya. (nas)
















