INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menilai Indonesia dan Maroko memiliki peluang besar untuk meningkatkan perdagangan dan investasi, karena posisi strategis kedua negara saling melengkapi.
Menurutnya, Indonesia menjadi pintu masuk ke pasar ASEAN, sementara Maroko merupakan gerbang menuju Afrika, Eropa, dan kawasan Mediterania. “Di dalam ASEAN, Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ketiga Maroko,” ujar Roro dalam keterangan, Kamis (9/7/2026).
“Mengingat ukuran ekonomi kedua negara dan pasar yang saling melengkapi, kami meyakini masih ada ruang yang cukup besar untuk lebih memperluas perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Maroko,” sambung Roro.
Menurutnya, penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) tentang Jaminan Produk Halal antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia dan Institut Marocain de Normalisation (IMANOR) Maroko pada Mei 2026 menjadi tonggak penting untuk melanjutkan perundingan Preferential Trade Agreement (PTA).
Roro berharap negosiasi PTA yang sempat tertunda dapat segera diaktifkan kembali. Menurut dia, keberadaan PTA dan MRA halal akan memperkuat kepercayaan pelaku usaha kedua negara sekaligus mendorong peningkatan perdagangan bilateral.
Sementara itu, Wakil Perdagangan Luar Negeri Maroko, Omar Hejira, menyambut baik upaya Indonesia menghidupkan kembali perundingan perdagangan. Ia berharap negosiasi PTA dapat dimulai lagi pada awal 2027 serta mengajak pelaku usaha Indonesia memperluas investasi di Maroko, yang akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal.
Menurutnya, kinerja perdagangan kedua negara terus menunjukkan tren positif. Pada 2025, total perdagangan Indonesia-Maroko mencapai USD 235 juta atau naik 33,04 persen dibandingkan 2024. Selama Januari–Mei 2026, nilai perdagangan kembali tumbuh 41,95 persen menjadi USD 158,1 juta.
“Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD 74,8 juta pada 2025,” bebernya.
“Di bidang investasi, realisasi investasi langsung Maroko di Indonesia juga meningkat dari USD 1,4 juta pada 2024 menjadi sekitar USD 5,4 juta pada 2025, dengan akumulasi investasi mencapai USD 8,4 juta dalam 122 proyek sepanjang 2021–2025,” sambungnya.
Diketahui, perundingan Indonesia-Maroko PTA sendiri telah diluncurkan pada 28 Juni 2018 di Fes, Maroko. Sebagian besar substansi perjanjian telah disepakati, namun pembahasannya sempat tertunda karena kedua negara memprioritaskan kerja sama di sektor halal. (nas)


















