INDOPOSCO.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan komitmennya mentransformasi perpustakaan menjadi “Rumah Pendidikan” yang terbuka, inklusif, dan menjadi ruang dialog bagi masyarakat.
Menurutnya, perpustakaan tidak lagi boleh dipandang sebagai tempat menyimpan buku atau sekadar pelengkap akreditasi sekolah, melainkan rumah pendidikan yang mampu menumbuhkan budaya literasi dan berpikir kritis.
“Kami ingin menghadirkan kementerian pendidikan kini bukan semata-mata sebagai kantor tempat layanan administrasi. Tapi menjadi ‘Rumah Pendidikan’ di mana siapa pun anak Indonesia dapat belajar dan dapat membaca buku-buku yang ada di perpustakaan,” ujar Mu’ti dalam keterangan, Kamis (9/7/2026).
Ia memberikan apresiasi kepada para pustakawan yang dinilainya memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem pendidikan. Menurutnya, pustakawan bukan lagi sekadar penjaga rak buku, melainkan penggerak literasi, fasilitator pengetahuan, sekaligus mitra penting dalam mencetak generasi unggul.
Mu’ti berbagi pengalaman saat merintis perpustakaan desa ketika masih muda hingga pernah bertugas sebagai pustakawan kampus. Pengalaman tersebut membuatnya meyakini bahwa perpustakaan memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan memperluas wawasan masyarakat.
Ia kemudian mengaitkan pentingnya budaya membaca dengan sosok Presiden Prabowo Subianto. Menurut Abdul Mu’ti, seorang pemimpin besar lahir dari kebiasaan membaca yang kuat sehingga memiliki wawasan luas dan keberanian mengambil keputusan.
“Satu kenikmatan yang paling membuat kita bahagia adalah ketika dengan buku kita bisa menginspirasi, dengan perpustakaan kita bisa menggerakkan anak-anak menjadi Generasi Indonesia Emas 2045,” katanya.
Kemendikdasmen, lanjutnya, juga tengah mengembangkan pendekatan deep learning agar peserta didik tidak hanya membaca secara pasif, tetapi mampu mengulas buku, mengeksplorasi lingkungan, dan menghasilkan karya nyata.
“Sejalan dengan itu, perpustakaan sekolah akan diarahkan menjadi learning commons atau pusat pembelajaran aktif yang inklusif,” ungkapnya.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikdasmen, Suharti, menambahkan perkembangan teknologi menuntut perubahan fungsi perpustakaan. Kini, perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku.
“Perpustakaan sekarang berkembang menjadi ruang belajar, ruang dialog gagasan, serta simpul kolaborasi,” ujarnya. (nas)


















