INDOPOSCO.ID – Kabupaten Samosir patut berbangga atas pencapaian luar biasa di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Setelah melalui proses kurasi yang sangat ketat dan bersaing dengan ratusan event dari seluruh Indonesia, Samosir Music International (SMI) 2026 resmi terpilih sebagai bagian dari 125 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Pencapaian ini menandai kelima kalinya festival bertaraf internasional tersebut berhasil menembus kalender bergengsi KEN, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu panggung budaya paling konsisten di tanah air.
Sebagai salah satu program strategis Kementerian Pariwisata RI, KEN telah terbukti memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional. Sepanjang tahun 2025 saja, program KEN telah mendorong lebih dari 10 juta kunjungan wisatawan dengan perputaran ekonomi mencapai Rp17,01 Triliun, serta melibatkan ribuan tenaga kerja, pelaku seni, komunitas, hingga pelaku UMKM. Kehadiran SMI 2026 di dalam kalender ini diproyeksikan akan memberikan stimulus ekonomi yang masif bagi wilayah Sumatra Utara, khususnya di sekitar kawasan destinasi super prioritas Danau Toba.
Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arditama Nusantara Putra mewakili Kementerian Pariwisata menyampaikan terpilihnya SMI dalam KEN 2026 merupakan hasil seleksi ketat terhadap lebih dari 500 event dari 38 provinsi di seluruh Indonesia. Proses kurasi dilakukan secara independen oleh tim profesional dengan indikator penilaian komprehensif, mulai dari manajemen penyelenggaraan hingga dampak sosial lingkungan.
“Masuknya SMI dalam 125 Karisma Event Nusantara menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu naik kelas menjadi panggung internasional,” ujar Arditama usai menyerahkan sertifikat kepada pihak penyelenggara SMI.
Tema ini lahir sebagai simbol suara kebangkitan Sumatra dari Tanah Batak, merespons berbagai ujian bencana alam yang sempat melanda Pulau Sumatra akhir-akhir ini. Melalui untaian nada dan simfoni, SMI 2026 hadir bukan sekadar sebagai agenda hiburan murni, melainkan sebuah ruang penyembuhan, ruang solidaritas, sekaligus pemantik utama bagi kebangkitan ekonomi masyarakat luas yang terdampak.
Founder sekaligus Project Director Samosir Music International, Henry Manik, menjelaskan pelaksanaan tahun ini membawa esensi dan pesan moral yang jauh lebih kuat dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.
“Pelaksanaan kali ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ada pesan lebih kuat kali ini, kekuatan untuk terus karena kebersamaan pada tema ‘Rising from Disaster’ adalah pesan bahwa kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Kita bangkit, bukan sendiri-sendiri, tapi bersama,” ungkap Henry lewat siaran persnya, menegaskan misi sosial di balik kemegahan panggung SMI.
Konsistensi SMI dalam menjaga kualitas artistik dan kreativitas program memang tidak perlu diragukan lagi, bahkan sempat mengantarkan festival ini menempati posisi kedua dalam sepuluh besar event nasional terbaik. Setelah sempat mengambil jeda pada tahun 2025 untuk mendirikan Yayasan Lestari Budaya Sumatra (YLBS) sebagai fondasi keberlanjutan gerakan, SMI kini siap kembali menghentak.
“SMI lahir dari kerinduan itu. Kami ingin dunia datang ke Samosir, melihat keindahannya, merasakan budayanya, dan percaya bahwa dari sini pun bisa lahir karya besar,” tuturnya.
Dampak luar biasa dari penyelenggaraan event skala internasional ini dirasakan langsung oleh masyarakat lokal Samosir. Lomak Sinaga, selaku perwakilan masyarakat setempat, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas konsistensi SMI yang selalu membawa angin segar bagi roda perekonomian warga.
“Bagi kami masyarakat Samosir, event SMI ini sangat memberikan dampak luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Kamar-kamar penginapan penuh, warung makan ramai, dan produk UMKM kami laku keras dibeli wisatawan. Ini bukan cuma pesta musik, tapi berkah nyata untuk dapur kami,” kata Lomak dengan penuh rasa syukur.
SMI 2026 tampil memukau dengan menghadirkan konser musik kolaboratif lintas negara yang melibatkan musisi papan atas dari Eropa, artis berskala nasional, hingga para maestro musik daerah Batak, seperti Lyodra Ginting, Viky Sianipar dan banyak lagi.
Harmonisasi kebudayaan tradisional dan modernitas global ini dirancang untuk menciptakan daya tarik wisata yang unik, yang mampu menarik minat penonton domestik maupun mancanegara untuk berbondong-bondong datang dan memadati area festival di Pulau Samosir.
Menariknya, denyut festival tahun ini tidak hanya berpusat di panggung utama, melainkan menyebar lewat berbagai program multi-sektoral. Selain festival kuliner khas Sumatra dan workshop kreatif untuk generasi muda, panitia juga menggelar kegiatan olahraga pariwisata (sport tourism) berupa kegiatan run dengan kategori 5K, 10K, dan 21K yang akan melintasi keindahan alam Samosir. Tidak ketinggalan, aksi sosial nyata berupa Operasi Katarak dan pengobatan Gratis sebagai wujud kepedulian konkrit dan bakti sosial kepada masyarakat sekitar.
Melalui sinergi budaya, olahraga, dan aksi sosial ini, seluruh pihak mengajak masyarakat luas untuk ikut serta melestarikan warisan leluhur sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.
“SMI 2026 bukan sekadar festival. Ia adalah cerita tentang pulang. Tentang perjuangan. Tentang bangkit dari luka, dan berdiri lebih kuat dari sebelumnya,” jelas Lomak.(ney)


















