INDOPOSCO.ID – Mayoritas orang tua dan wali murid menyatakan mendukung penerapan jalur domisili dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Namun, dukungan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan keyakinan masyarakat terhadap efektivitas kebijakan tersebut.
Temuan itu terungkap dalam Survei Opini Pelaksanaan SPMB 2026 yang dirilis Lembaga Survei KedaiKOPI. Hasilnya, sebanyak 66 persen responden mengaku mendukung jalur domisili, sementara 34 persen lainnya masih menunjukkan penolakan.
Head of Research Lembaga Survei KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, menilai tingkat dukungan tersebut masih berada pada kategori moderat.
“Jadi kita bisa kategorikan 2 dari 3 responden itu setuju dengan adanya jalur domisili. Walau kalau kita lihat nilai rata-ratanya 6,71, sebenarnya dapat dikategorikan cukup setuju. Jadi walaupun ada pendukungan, tapi sebenarnya dukungannya tidak terlalu kuat,” ujar Ashma dalam paparannya yang ditayangkan di YouTube Lembaga Survei KedaiKOPI, dikutip pada Minggu (5/7/2026).
Menurut Ashma, masih besarnya kelompok yang menolak menunjukkan bahwa kebijakan jalur domisili belum sepenuhnya diterima masyarakat meskipun konsep serupa telah diterapkan selama kurang lebih sembilan tahun.
“Di sini kita lihat bahwa memang walaupun lebih banyak yang dukung, masih ada nih 34 persen yang resisten terhadap penerapan jalur domisili dari SPMB ini,” kata dia.
Bagi kelompok yang mendukung, jalur domisili dinilai memberikan manfaat nyata karena sekolah berada lebih dekat dengan tempat tinggal. Selain memangkas biaya transportasi, kebijakan tersebut dianggap memberi kesempatan lebih besar bagi warga di sekitar sekolah.
“Mereka juga menganggap ini bisa memeringankan biaya transportasi dan juga memberikan kesempatan bagi warga di sekitar sekolah untuk masuk sekolah tersebut. Jadi dianggap lebih adil untuk warga yang tinggal di sekitar sekolah,” jelasnya.
Sebaliknya, kelompok yang menolak menilai jalur domisili berpotensi menghambat siswa berprestasi yang tinggal jauh dari sekolah yang memiliki kualitas pendidikan lebih baik.
“Sedangkan bagi yang tidak mendukung jalur domisili, mereka menganggap bahwa adanya jalur domisili itu merugikan anak yang berprestasi,” tutur Ashma.
Survei juga mengungkap bahwa persepsi mengenai sekolah favorit masih sangat kuat. Sebanyak 80,2 persen responden meyakini masih ada sekolah tertentu yang menjadi incaran utama para orang tua.
Menurut Ashma, kondisi tersebut ikut memengaruhi tingkat penerimaan terhadap jalur domisili.
“Ini bisa jadi karena memang masih ada persepsi terkait dengan sekolah favorit, itu masih tinggi, dan juga ketersediaan sekolah negeri yang memang mungkin terbatas di beberapa domisili tertentu,” tambahnya.
Survei dilakukan pada 14-22 Juni 2026 terhadap 585 orang tua atau wali calon murid SD hingga SMA yang berencana mendaftarkan anak ke sekolah negeri. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan metode Computer Assisted Self Interview (CASI). (her)


















