INDOPOSCO.ID – Jumlah siswa berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan di sekolah reguler terus meningkat. Kondisi ini mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat layanan pendidikan inklusif.
Salah satunya melalui Program Pendidikan Bilingual untuk murid Tuli. Program tersebut membuka kesempatan belajar yang setara bagi murid Tuli (berkebutuhan khusus) agar lebih mudah memahami pelajaran, mengembangkan potensi, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan pendidikan inklusif merupakan komitmen pemerintah untuk memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh layanan pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus.
“Komitmen kami di pemerintah adalah mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Makna ‘semua’ ini sangat inklusif, terlepas dari kemampuan fisik, sensorik, intelektual, sosial, emosional, maupun psikologis. Sudah menjadi kewajiban pemerintah memastikan ekosistem pendidikan kita betul-betul inklusif,” kata Fajar dalam keterangan, Selasa (30/6/2026).
Menurut dia, layanan pendidikan bagi murid Tuli bukan sekadar program pelengkap, melainkan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Karena itu, pemerintah terus mendorong terciptanya lingkungan belajar yang ramah bagi seluruh peserta didik melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
Fajar mengungkapkan, tren pendidikan inklusif di Indonesia terus menunjukkan perkembangan. Dari lebih dari 381 ribu peserta didik berkebutuhan khusus, sekitar 217 ribu di antaranya kini menempuh pendidikan di sekolah inklusif atau sekolah reguler.
“Besarnya jumlah peserta didik di sekolah inklusif menunjukkan bahwa kita bergerak menuju paradigma pendidikan yang inklusif, bukan segregatif,” ujarnya.
Menurutnya, melalui Program Pendidikan Bilingual untuk Tuli, pemerintah berharap murid Tuli memperoleh akses pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Kehadiran dukungan dari pemerintah, komunitas Tuli, mitra pendidikan, hingga sektor swasta juga diharapkan mampu memperkuat pemenuhan hak pendidikan bagi setiap anak tanpa terkecuali.
“Kami menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan yang benar-benar inklusif. Setiap peserta didik, termasuk murid Tuli, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan berprestasi sesuai potensi yang dimiliki,” terangnya. (nas)


















