INDOPOSCO.ID – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memasuki usia ke-19 dengan mempertegas posisinya sebagai tulang punggung sektor hulu migas nasional. Di tengah tantangan penurunan alamiah (natural decline) lapangan migas, Subholding Upstream Pertamina ini mampu mempertahankan pertumbuhan produksi melalui pengembangan lapangan secara masif, eksplorasi berkelanjutan, serta penerapan teknologi dan inovasi.
Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Energi, Hermansyah Y. Nasroen, mengatakan perjalanan selama hampir dua dekade menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menjaga pasokan energi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri hulu migas Indonesia.
“Selama 19 tahun, PHE terus memperkuat perannya sebagai tulang punggung produksi migas nasional. Di tengah tantangan natural decline yang semakin tinggi, kami mampu menjaga pertumbuhan produksi melalui pengembangan lapangan secara agresif, penerapan teknologi, eksplorasi yang berkelanjutan, serta pengelolaan operasi yang unggul,” ujar Hermansyah dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Saat ini, PHE memberikan kontribusi sekitar 65 persen terhadap produksi minyak nasional dan 37 persen produksi gas nasional. Selain itu, perusahaan mengelola 27 persen blok migas yang beroperasi di Indonesia, menjadikannya pemain utama dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan aktivitas eksplorasi dan pengembangan lapangan. Sepanjang periode 2022–2025, PHE memperoleh sembilan wilayah kerja eksplorasi baru, termasuk tiga wilayah kerja yang diraih pada 2025, yakni Binaiya di Maluku, Lavender di Sulawesi Tenggara, serta Bobara di Papua.
Di sisi eksplorasi, perusahaan juga berhasil menambah potensi sumber daya kontingen (2C) sebesar 1.097,43 juta barel setara minyak (MMBOE). Kontribusi terbesar berasal dari temuan Migas Non Konvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan yang mencapai 724,22 juta barel minyak (MMBO).
PHE juga terus mempercepat transformasi teknologi guna meningkatkan produktivitas lapangan migas. Sejumlah inovasi yang telah diterapkan antara lain multistage fracturing pertama pada sumur horizontal Kotabatak, pengembangan North Duri Development Area 14 melalui teknologi steamflood, hingga implementasi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Minas Area A.
Memasuki 2026, perusahaan telah menyiapkan berbagai program strategis untuk meningkatkan produksi sekaligus memperbesar cadangan migas nasional.
Program tersebut mencakup revitalisasi aset eksisting, pengembangan lapangan baru (greenfield), implementasi Enhanced Oil Recovery (EOR), eksplorasi migas konvensional maupun nonkonvensional, optimalisasi kebijakan fiskal, hingga pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS) sebagai bagian dari agenda transisi energi.
Sejumlah proyek strategis yang menjadi fokus pengembangan meliputi Lapangan Akasia Prima, Padang Pancuran, OO OX ONWJ, Sisi Nubi AOI, South Senoro, Manpatu, hingga proyek Masela. Sementara pada aset eksisting, perusahaan menjalankan program rejuvenasi di area Benuang, Lima ONWJ, ABAB, Tanjung Miring Barat, Lembak Kemang Tapus, dan Salawati.
Selain itu, PHE juga melanjutkan implementasi teknologi multistage fracturing di Wilayah Kerja Rokan, mempercepat eksplorasi laut dalam di Natuna Timur, mengembangkan proyek CCS, serta mengoptimalkan implementasi kebijakan fiskal guna meningkatkan keekonomian proyek-proyek hulu migas.
Tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, PHE juga memastikan seluruh kegiatan operasional dijalankan sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Perusahaan terus memperkuat tata kelola melalui penerapan budaya Zero Tolerance on Bribery, pencegahan fraud, serta implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah memenuhi standar ISO 37001:2016.
Memasuki usia ke-19, PHE menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keberlanjutan produksi migas nasional melalui eksplorasi yang agresif, investasi teknologi, dan pengelolaan operasi yang andal. Langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan energi Indonesia sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi pada masa datang. (srv)


















