INDOPOSCO.ID – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) asal Provinsi Sumatera Utara, Aloya Coffee, kembali menunjukkan konsistensinya menembus pasar internasional dengan melanjutkan ekspor kopi ke Jepang sekaligus memperluas pasar ke Hungaria. Keberhasilan tersebut merupakan hasil pendampingan berkelanjutan dari Bea Cukai Medan dalam mendukung daya saing UMKM berorientasi ekspor.
Aloya Coffee kembali mengirimkan produk kopi ke Jepang melalui Pelabuhan Belawan dengan tujuan Pelabuhan Namikata di Pulau Shikoku, pada Jumat (26/6/2026). Pengiriman tersebut bernilai sekitar USD1.620 dengan komoditas utama berupa biji kopi mentah (green bean) Grade A yang telah memiliki sertifikasi dari lembaga berlisensi.
Kepala Kantor Bea Cukai Medan, Dede Mulyana, mengatakan pihaknya terus berkomitmen memberikan pendampingan kepada pelaku usaha agar mampu bersaing di pasar global.
“Melalui assistensi, pendekatan, dan manifestasi, kami akan selalu optimal dalam mendukung daya saing UMKM di wilayah pengawasan dan pelayanan,” ujarnya.
Ekspor tersebut bukan yang pertama kali bagi Aloya Coffee. Selama beberapa tahun terakhir, UMKM ini telah beberapa kali mengirimkan produk kopi ke berbagai negara. Konsistensi tersebut menjadi bukti bahwa kopi asal Sumatra Utara memiliki kualitas yang mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Selain mempertahankan pasar Jepang, Aloya Coffee kini juga mengembangkan pasar di Hungaria. Berbeda dengan Jepang yang lebih banyak menyerap kopi jenis green bean, pasar Hungaria cenderung menyukai kopi sangrai (roasted bean).
Dalam waktu dekat, perusahaan berencana mengirimkan sekitar 20 kilogram kopi ke Hungaria melalui jalur udara. Sebelumnya, pada 30 April 2026, Aloya Coffee telah lebih dahulu mengekspor kopi ke negara tersebut dengan total pengiriman mencapai 14,9 kilogram bruto.
Tim Aloya Coffee, Thomson Manalu, mengungkapkan pendampingan Bea Cukai Medan sangat membantu kelancaran proses ekspor, terutama dalam pemenuhan administrasi dan prosedur kepabeanan. Menurutnya, tim pembina UMKM selalu responsif memberikan asistensi ketika dibutuhkan.
“Kami sangat terbantu dalam proses pengurusan kepabeanan ekspor. Pendampingan yang diberikan membuat UMKM seperti kami lebih percaya diri untuk masuk ke pasar internasional,” tuturnya.
Di balik keberhasilan tersebut, Aloya Coffee masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan modal, biaya sertifikasi kualitas yang relatif tinggi, hingga pemasaran produk. Selain itu, sejumlah kebijakan perdagangan internasional, termasuk penerapan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) oleh India terhadap produk kopi impor, turut menjadi tantangan bagi daya saing kopi Indonesia.
Meski demikian, peluang ekspor kopi Indonesia masih terbuka lebar. Selain mempertahankan pasar Jepang dan mengembangkan pasar Hungaria, Aloya Coffee juga melihat potensi besar di negara-negara seperti Malaysia dan Singapura. Di dalam negeri, perusahaan turut memperluas pemasaran ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya yang dinilai memiliki permintaan tinggi terhadap kopi premium.
Keberhasilan Aloya Coffee menjadi contoh bahwa UMKM daerah mampu menembus pasar global apabila didukung kualitas produk yang baik, strategi pemasaran yang tepat, serta pendampingan berkelanjutan dari pemerintah melalui Bea Cukai.(ipo)


















