• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

Ekonomi dan Kelembagaan Adat Budaya: Jalan Kesejahteraan Betawi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Minggu, 28 Juni 2026 - 12:12
in Megapolitan
Betawi

Budaya Betawi bukan sekadar warisan, tetapi juga modal strategis untuk membangun ekonomi Jakarta yang berdaya saing global. Foto: Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

oleh : Usni Hasanudin, Kaukus Muda Betawi

INDOPOSCO.ID – Jakarta sedang memasuki babak baru sejarahnya. Jakarta diarahkan menjadi kota global yang bertumpu pada jasa, perdagangan, keuangan, inovasi, dan ekonomi kreatif. Transformasi tersebut tidak hanya menuntut pembangunan infrastruktur dan investasi, tetapi juga menuntut kemampuan kota mempertahankan identitasnya di tengah kompetisi global.

BacaJuga:

Hujan Diperkirakan Berpotensi Mengguyur Wilayah Jakarta Hari Ini

Saat Harmoni Kebun Pelangi Mengantar Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar Siswa Permatahati

Pemprov DKI Siapkan Beasiswa LPDP Khusus Warga Jakarta Mulai 2027

Di sinilah kebudayaan menemukan relevansinya. Kota-kota besar dunia yang berhasil menjadi pusat ekonomi justru memperkuat akar budayanya sebagai sumber daya saing. Modernitas dan tradisi tidak dipertentangkan, melainkan dipadukan sebagai fondasi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Selama ini, pembangunan sering memisahkan kebudayaan dari kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi diukur melalui investasi, produk domestik regional bruto, dan penciptaan lapangan kerja. Sebaliknya, kebudayaan dipahami sebatas pelestarian tradisi, festival, dan kegiatan seremonial. Cara pandang seperti ini sudah saatnya diubah.

Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa budaya merupakan cultural capital atau modal budaya yang mampu menghasilkan nilai ekonomi, sosial, dan simbolik apabila dikelola melalui kelembagaan yang kuat. Sementara itu, Amartya Sen mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari meningkatnya pendapatan, tetapi juga dari bertambahnya kemampuan manusia mengembangkan potensinya, memperluas pilihan hidup, dan hidup secara bermartabat. Dengan demikian, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan investasi untuk memperkuat kapasitas masyarakat.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan pendekatan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang menempatkan kebudayaan sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa identitas budaya yang dikelola secara profesional mampu melahirkan industri kreatif, membuka lapangan kerja, memperkuat pariwisata, dan menciptakan nilai tambah ekonomi. Artinya, kesejahteraan dan kebudayaan bukanlah dua tujuan yang saling bersaing, melainkan dua sisi dari pembangunan yang saling menguatkan.

Arah tersebut sesungguhnya juga tercermin dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Undang-undang ini menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dalam pembangunan Jakarta melalui kolaborasi pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, lembaga adat dan kebudayaan Betawi, serta masyarakat. Semangat pengaturan ini menunjukkan bahwa pemajuan kebudayaan tidak lagi diposisikan sebagai tanggung jawab pemerintah semata, tetapi sebagai tanggung jawab bersama yang memerlukan kelembagaan yang kuat dan pembiayaan yang berkelanjutan.

Landasan hukum tersebut memiliki makna strategis. Negara tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator yang menciptakan ekosistem agar kebudayaan dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi. Pada saat yang sama, masyarakat tidak cukup menjadi penerima manfaat kebijakan, tetapi harus menjadi pelaku utama yang mengelola kebudayaannya secara produktif.

Dalam konteks Jakarta, masyarakat Betawi memiliki posisi yang sangat strategis. Sebagai masyarakat asli Jakarta, Betawi mewarisi nilai keterbukaan, toleransi, musyawarah, gotong royong, dan kemampuan hidup berdampingan dengan berbagai etnis. Nilai-nilai tersebut telah membentuk Jakarta sebagai kota kosmopolitan jauh sebelum konsep kota global diperkenalkan.

Lebih dari itu, budaya Betawi menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar. Kawasan budaya, kuliner khas, seni pertunjukan, batik Betawi, lenong, gambang kromong, ondel-ondel, tradisi lisan, hingga berbagai produk budaya lainnya merupakan aset yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif Jakarta.

Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang tanpa ekonomi budaya dan kelembagaan budaya yang kuat. Douglass North mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas institusi. Dalam konteks kebudayaan, kelembagaan itu hadir melalui lembaga adat, sanggar seni, yayasan budaya, koperasi kreatif, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, dan pemerintah yang bekerja dalam satu ekosistem.

Patut diapresiasi bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini menunjukkan komitmen yang semakin kuat terhadap pembangunan kebudayaan. Revitalisasi kawasan budaya, penguatan identitas Betawi, pembinaan sanggar, penyelenggaraan festival, hingga pemberdayaan pelaku budaya menunjukkan perubahan paradigma bahwa kebudayaan merupakan bagian dari strategi pembangunan kota.

Namun, keberhasilan kebijakan publik tidak pernah hanya ditentukan oleh pemerintah. Ia juga ditentukan oleh kesiapan masyarakat. Di sinilah masyarakat Betawi menghadapi tantangan besar.

Harus diakui bahwa sebagian pelaku budaya masih memandang kebudayaan sebagai simbol identitas yang harus dijaga, tetapi belum sepenuhnya sebagai aset ekonomi yang harus dikelola secara profesional. Padahal, momentum yang sedang dibangun pemerintah merupakan kesempatan bersejarah bagi masyarakat Betawi untuk melakukan lompatan besar, dari pelestari budaya menjadi pelaku ekonomi budaya.

Transformasi tersebut menuntut perubahan cara pandang. Sanggar seni tidak cukup menjadi tempat latihan, tetapi harus berkembang menjadi inkubator industri kreatif. Festival budaya tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi ruang transaksi ekonomi. Lembaga adat tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membangun kaderisasi, inovasi, dan kemitraan. Dunia usaha tidak cukup menjalankan tanggung jawab sosial, tetapi menjadi investor dalam ekosistem budaya. Perguruan tinggi tidak cukup mengajarkan sejarah Betawi, tetapi juga mengembangkan riset, kewirausahaan, dan inovasi berbasis budaya. Dengan demikian, setiap unsur menjalankan peran sebagaimana semangat yang dibangun dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024.

Hubungan antara negara dan kearifan lokal sejatinya bukan hubungan yang saling menggantikan, melainkan saling menguatkan. Negara menghadirkan regulasi, perlindungan, insentif, pembiayaan, dan akses pasar. Kearifan lokal menghadirkan nilai, identitas, modal sosial, serta legitimasi budaya. Ketika keduanya berjalan bergandengan, pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan martabat masyarakat.

Pada akhirnya, masa depan masyarakat Betawi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya tradisi yang berhasil dipertahankan, tetapi oleh kemampuan menjadikan budaya sebagai sumber kesejahteraan. Jakarta yang benar-benar menjadi kota global bukanlah Jakarta yang meninggalkan akar budayanya, melainkan Jakarta yang mampu mengubah kearifan lokal menjadi kekuatan ekonomi melalui sinergi antara negara, badan usaha, lembaga pendidikan, lembaga adat dan kebudayaan Betawi, serta masyarakat.

Di sanalah ekonomi dan kelembagaan budaya menemukan makna strategisnya: bukan sekadar menjaga warisan masa lalu, melainkan membangun kesejahteraan Betawi dan masa depan Jakarta yang inklusif, berdaya saing, dan tetap berakar pada jati dirinya.*

Tags: budaya betawiMasyarakat betawiSuku Betawiusni hasanudinUU DKJ

Berita Terkait.

Hujan
Megapolitan

Hujan Diperkirakan Berpotensi Mengguyur Wilayah Jakarta Hari Ini

Minggu, 28 Juni 2026 - 07:27
seni
Megapolitan

Saat Harmoni Kebun Pelangi Mengantar Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar Siswa Permatahati

Sabtu, 27 Juni 2026 - 23:33
Pramono Anung
Megapolitan

Pemprov DKI Siapkan Beasiswa LPDP Khusus Warga Jakarta Mulai 2027

Sabtu, 27 Juni 2026 - 22:07
Anak Kepulauan Seribu Diprioritaskan di SPMB Jalur Prestasi SMA/SMK
Megapolitan

Anak Kepulauan Seribu Diprioritaskan di SPMB Jalur Prestasi SMA/SMK

Sabtu, 27 Juni 2026 - 13:37
Sediakan Payung yuk, Hari Ini Sebagian Wilayah Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan
Megapolitan

Sediakan Payung yuk, Hari Ini Sebagian Wilayah Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 08:14
Polisi Ciduk 4 Pengedar Narkoba, Sita 249 Gram Sabu
Megapolitan

Polisi Ciduk 4 Pengedar Narkoba, Sita 249 Gram Sabu

Jumat, 26 Juni 2026 - 22:41

BERITA POPULER

  • Ronaldo

    Hasil Piala Dunia: Ronaldo Pimpin Portugal Berpesta, Inggris Kehilangan Taji di Hadapan Ghana

    1723 shares
    Share 689 Tweet 431
  • Hasil Piala Dunia: Portugal Libas Uzbekistan 5-0, Martinez Sanjung Habis Cristiano Ronaldo

    1689 shares
    Share 676 Tweet 422
  • Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

    1575 shares
    Share 630 Tweet 394
  • Hasil Piala Dunia Grup F: Jepang-Swedia Dampingi Belanda ke Fase Gugur

    1084 shares
    Share 434 Tweet 271
  • Piala Dunia 2026: Nagelsmann Ungkap Penyebab Kekalahan Jerman dari Ekuador

    1010 shares
    Share 404 Tweet 253
David-Alaba
Olahraga

Hasil Piala Dunia Grup J: Argentina Sempurna, Austria-Aljazair Lolos Juga

Editor Ali Rachman
Minggu, 28 Juni 2026 - 11:51

INDOPOSCO.ID - Argentina menutup perjalanan di fase grup Piala Dunia 2026 dengan hasil sempurna. Menghadapi Yordania yang sudah dipastikan tersingkir,...

SelengkapnyaDetails
Pemain-Kolombia

Hasil Piala Dunia Grup K: Portugal Gagal Gusur Kolombia, Kongo Lolos Dramatis

Minggu, 28 Juni 2026 - 09:49
Pemain-Kroasia

Hasil Piala Dunia Grup L: Kroasia-Ghana Temani Inggris ke 32 Besar

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:18
Tak Gentar Lawan Argentina, Tanjung Verde Optimistis Tatap Babak 32 Besar Piala Dunia

Tak Gentar Lawan Argentina, Tanjung Verde Optimistis Tatap Babak 32 Besar Piala Dunia

Sabtu, 27 Juni 2026 - 14:18
Hasil Piala Dunia : Tanjung Verde Lolos 32 Besar, Deroy Duarte: Rasanya Seperti Bermimpi

Hasil Piala Dunia : Tanjung Verde Lolos 32 Besar, Deroy Duarte: Rasanya Seperti Bermimpi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 13:16
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.