INDOPOSCO.ID – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus mengakselerasi penguatan ekosistem inkubator bisnis sebagai langkah strategis untuk melahirkan 10 juta wirausaha baru hingga 2029. Inisiatif ini menjadi bagian penting dalam membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, mengatakan berbagai penelitian menunjukkan pelaku usaha yang mengikuti program inkubasi memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan mereka yang membangun usaha tanpa pendampingan.
“Banyak orang memiliki ide bisnis, tetapi belum mampu mewujudkannya menjadi usaha yang berkelanjutan. Melalui lembaga inkubator, calon wirausaha dapat memperoleh pendampingan, akses pembiayaan, pemasaran, sertifikasi, dan standardisasi yang dibutuhkan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan,” kata Riza dalam Talkshow UMKM Insight di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Menurut Riza, lembaga inkubator, termasuk di lingkungan perguruan tinggi, berperan strategis dalam mendampingi pelaku usaha sekaligus mendorong lahirnya inovasi dan teknologi yang meningkatkan nilai tambah sumber daya alam secara berkelanjutan. Karena itu, Kementerian UMKM terus memperkuat kapasitas kelembagaan inkubator dan kualitas layanan pendampingannya.
Riza menjelaskan, program inkubasi akan disinergikan dengan berbagai program prioritas Kementerian UMKM, termasuk Bursa Wirausaha Unggulan dan Program Kesejahteraan Produktif (Pro-Kesra Produktif).
“Pendampingan melalui lembaga inkubator kami integrasikan dengan program Bursa Wirausaha Unggulan dan Pro-Kesra Produktif agar target 10 juta penduduk berwirausaha dapat tercapai secara lebih efektif,” jelas Riza.
Bursa Wirausaha Unggulan dirancang sebagai ekosistem pembinaan terpadu, mulai dari pelatihan, penguatan kapasitas usaha, fasilitasi legalitas dan sertifikasi, manajemen keuangan, hingga perluasan akses pembiayaan dan pemasaran. Program ini dapat dimanfaatkan generasi muda, calon wirausaha, pelaku UMKM, maupun pengusaha.
Sementara itu, Pro-Kesra Produktif difokuskan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pendampingan dari tahap pra-produksi hingga pasca-produksi dengan sasaran kelompok masyarakat pada desil 5 hingga 10.
Untuk memperluas jangkauan layanan, Kementerian UMKM juga mengintegrasikan proses inkubasi ke dalam platform SAPA UMKM agar pelaku usaha di berbagai daerah dapat mengakses layanan secara lebih cepat, mudah, dan merata. Selain itu, kualitas inkubasi dan kompetensi pendamping terus ditingkatkan melalui standar pelatihan, sistem penilaian, dan pemeringkatan lembaga inkubator.
“Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kapasitas lembaga inkubator, meningkatkan kualitas layanan pendampingan, dan memperluas peluang UMKM untuk berkembang hingga naik kelas,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Head of BINUS Incubator, Aloysius Bernanda Gunawan, mengatakan minat berwirausaha kerap tumbuh sejak bangku pendidikan, meski banyak pula yang memulai usaha karena kebutuhan menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri. Karena itu, calon wirausaha memerlukan pendampingan sejak tahap ide hingga penyempurnaan produk.
“Generasi muda memiliki kemampuan belajar yang cepat, adaptif terhadap perubahan, dan kaya akan ide. Jika didukung dengan pendampingan yang tepat, mereka tidak hanya mampu membangun usaha, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru,” ujar Aloysius.
Senada, Founder Kasisolusi, Deryansha Azhary, menilai pelatihan kewirausahaan harus praktis dan relevan dengan kebutuhan usaha saat ini, mencakup kemampuan komunikasi, literasi, serta penguatan personal branding melalui platform digital. Ia juga mengapresiasi kehadiran SAPA UMKM sebagai sarana pendampingan yang dapat diakses lebih luas.
“Pendampingan usaha yang merata melalui SAPA UMKM memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh pelaku UMKM untuk berkembang. Dengan demikian, pertumbuhan usaha tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau daerah-daerah di seluruh Indonesia,” tutup Dery. (her)

















