INDOPOSCO.ID – Pencegahan stunting tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan gizi anak. Pola pengasuhan yang responsif serta stimulasi tumbuh kembang sejak usia dini juga menjadi faktor penting untuk memastikan anak tumbuh sehat dan berkembang optimal.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Edukasi Terpadu Gizi dan Tumbuh Kembang Anak sebagai Upaya Pencegahan Stunting yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Terbuka (UT) di RW 008, Kelurahan Gandul, Kecamatan Cinere, Kota Depok, pada 23 Juni 2026.
Kegiatan yang melibatkan ibu-ibu peserta aktif Posyandu Kenanga itu berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi dalam mengasuh balita, mulai dari anak yang sulit makan, memilih makanan, hingga kekhawatiran terhadap berat dan tinggi badan anak.
Dosen Program Studi (Prodi) Biologi Universitas Terbuka, Hikmah Zikriyani, menjelaskan pentingnya protein sebagai zat gizi utama yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurutnya, kebutuhan protein dapat dipenuhi dari berbagai bahan pangan yang mudah diperoleh, seperti telur, ikan, ayam, daging, tempe, tahu, susu, kacang-kacangan, hingga jamur.
“Orang tua harus diingatkan untuk membiasakan anak mengonsumsi tiga kali makan utama yang diselingi dua kali makanan selingan sehat setiap hari. Agar kebutuhan energi dan zat gizi terpenuhi secara optimal,” terang Hikmah dalam keterangan, Rabu (24/6/2026).
Sebelum sesi edukasi dimulai, peserta diminta mengisi Mentimeter secara anonim mengenai kekhawatiran mereka terkait tumbuh kembang anak. Hasilnya menunjukkan sebagian besar orang tua cemas karena anak sulit makan, berat badan sulit naik, dan khawatir mengalami stunting. Temuan tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan selama kegiatan.
Sementara itu, dosen Program Studi (Prodi) Psikologi Universitas Sampoerna, Siti Shaliha, memaparkan pentingnya penerapan responsive feeding dan responsive parenting. Orang tua didorong menciptakan suasana makan yang menyenangkan tanpa paksaan, membangun komunikasi yang hangat, serta memberikan stimulasi sesuai tahap perkembangan anak.
“Salah satu materi yang mendapat perhatian besar dari peserta ialah pemahaman mengenai stunting,” ujarnya.
Ia menegaskan, bahwa anak bertubuh pendek atau memiliki berat badan lebih rendah dibanding teman seusianya belum tentu mengalami stunting.
“Penilaian stunting harus dilakukan berdasarkan pengukuran pertumbuhan sesuai standar usia dan dipantau secara berkala melalui Posyandu,” katanya.
“Orang tua harus diimbau tidak membandingkan pertumbuhan anak dengan anak lain karena setiap anak memiliki pola pertumbuhan yang berbeda,” sambungnya.
Diketahui, mayoritas peserta yang merupakan ibu rumah tangga mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru, terutama mengenai cara menghadapi anak yang sulit makan serta membangun kebiasaan makan sehat di lingkungan keluarga.
Melalui kegiatan ini, Universitas Terbuka berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga ahli, Posyandu, dan masyarakat terus diperkuat untuk meningkatkan literasi gizi, pola pengasuhan yang tepat, serta mempercepat upaya pencegahan stunting sejak dini.
“Dengan pemahaman yang lebih baik, orang tua diharapkan mampu mendampingi tumbuh kembang anak secara optimal, sehingga setiap anak memiliki kesempatan tumbuh sehat, berkembang sesuai potensinya, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik pada masa mendatang,” ujar Hikmah. (nas)

















