INDOPOSCO.ID – Keberhasilan Bali bangkit dari hantaman pandemi Covid-19 akan menjadi salah satu narasi utama yang dibawa delegasi Indonesia dalam Sidang ke-20 Parlemen Negara-Negara Islam atau Parliamentary Union of OIC Member States (PIUC) yang berlangsung pada 22–25 Juni 2026 di Baku.
Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri, mengatakan pengalaman Bali dalam menangani dampak pandemi sekaligus memulihkan sektor pariwisata dinilai layak menjadi contoh praktik tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) bagi negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
“Kita akan hadir di event PUIC atau perkumpulan parlemen negara-negara OKI yang terdiri dari sekitar 66 negara anggota. Bagaimana Bali bisa bangkit dari Covid, dan juga bagaimana Bali tetap menjaga alam untuk mendukung pariwisata, ini yang menurut kami bisa menjadi contoh yang akan kami suarakan di standing committee tersebut,” ujar Irine saat kunjungan kerja BKSAP bersama I Wayan Koster di Gedung Kertha Sabha, Denpasar, Jumat (19/6/2026).
Menurut Irine, forum PUIC di Azerbaijan menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menunjukkan berbagai keberhasilan dalam tata kelola pemerintahan dan pembangunan berkelanjutan. Terlebih, Indonesia sebelumnya sukses menjadi tuan rumah Sidang ke-19 PUIC yang digelar di Jakarta pada Mei 2025.
Ia menjelaskan, pengalaman Bali akan diangkat dalam Komite Tetap Khusus Ekonomi dan Lingkungan PUIC (Standing Specialized Committee on Economic and Environment), yang nantinya akan menghasilkan sejumlah rekomendasi dan resolusi bagi parlemen negara-negara anggota.
Tak hanya membahas pemulihan pascapandemi, delegasi Indonesia juga akan menyoroti berbagai kebijakan yang diterapkan Bali dalam mendorong transformasi ekonomi menuju sektor-sektor bernilai tambah, seperti ekonomi kreatif, ekonomi biru (blue economy), dan industri hijau.
Selain itu, pengalaman Bali dalam mengurangi kesenjangan pembangunan antara wilayah selatan, utara, dan timur pulau juga menjadi perhatian BKSAP. Upaya tersebut dinilai sejalan dengan prinsip pembangunan inklusif no one left behind yang kini menjadi agenda penting di berbagai forum internasional.
Irine menilai Bali berhasil menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan lingkungan. Hal itu tercermin dari pendekatan quality over quantity yang diterapkan dalam pengembangan sektor pariwisata.
“Pariwisata Bali tidak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan. Model seperti ini penting untuk dibagikan kepada negara-negara lain,” ujarnya.
Aspek lain yang akan menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah tata kelola sumber daya air. Bali dinilai memiliki pengalaman yang kuat melalui sistem irigasi tradisional Subak yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, serta rekam jejak sebagai tuan rumah World Water Forum ke-10.
“Kami ingin melihat bagaimana pengaturan air bersih dan pelestarian sungai di Bali dilakukan, karena tata kelola air yang berkeadilan dapat menjadi kontribusi penting Indonesia di forum parlemen global,” tegasnya.
Selain isu lingkungan dan pariwisata, BKSAP juga akan mendalami strategi ketahanan fiskal daerah yang diterapkan Bali dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Pengalaman tersebut dinilai relevan untuk dibagikan kepada negara-negara anggota PUIC yang tengah menghadapi tantangan ekonomi serupa.
Melalui partisipasi dalam Sidang ke-20 PUIC, Irine berharap Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata berupa praktik-praktik terbaik dalam tata kelola pemerintahan, pembangunan berkelanjutan, dan pemulihan ekonomi pascapandemi.
“Kami ingin membawa pengalaman Indonesia yang konkret dan dapat direplikasi oleh negara-negara lain. Bali menjadi salah satu contoh keberhasilan yang patut diperkenalkan di forum internasional,” pungkasnya.(dil)
















