INDOPOSCO.ID – Kenaikan biaya layanan kesehatan atau inflasi medis menjadi salah satu tantangan yang semakin mendapat perhatian di Indonesia. Berdasarkan laporan MMB Asia Health Trends 2026, tingkat inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8 persen pada 2026. Angka tersebut berada di atas rata-rata Asia yang diperkirakan sebesar 12,5 persen.
Tingginya inflasi medis mendorong perlunya pemahaman yang lebih baik mengenai berbagai faktor yang memengaruhi kenaikan biaya kesehatan.
Selain inflasi umum, peningkatan biaya layanan kesehatan juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi medis, kenaikan harga obat dan alat kesehatan, serta biaya penanganan penyakit kritis yang terus meningkat.
Dalam sebuah diskusi yang digelar Allianz Indonesia secara online bertajuk “Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis” pada Rabu (17/6/2026), sejumlah narasumber dari kalangan medis dan industri asuransi membahas tantangan tersebut dari berbagai perspektif.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Bayushi Eka Putra, Sp.JP(K), FIHA, mengatakan penyakit tidak menular masih menjadi salah satu persoalan kesehatan utama di Indonesia.
“Kasus penyakit jantung kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah faktor risiko berkontribusi terhadap meningkatnya kasus penyakit jantung, di antaranya hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, tingkat stres yang tinggi, pola makan yang kurang sehat, serta kebiasaan merokok.
Menurut Bayushi, penanganan penyakit jantung membutuhkan biaya yang relatif besar karena melibatkan berbagai tahapan, mulai dari pemeriksaan, tindakan medis, penggunaan alat kesehatan, hingga terapi dan pengobatan lanjutan.
“Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan pasien, tetapi juga berpotensi menimbulkan beban finansial bagi keluarga,” tandasnya.
Ia menekankan pentingnya langkah pencegahan melalui penerapan gaya hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta pengenalan faktor risiko sejak dini.
Di sisi lain, perkembangan teknologi medis dinilai memberikan manfaat dalam meningkatkan akurasi diagnosis dan efektivitas pengobatan, meski turut berkontribusi terhadap peningkatan biaya layanan kesehatan.
Bayushi menambahkan bahwa penyakit kritis dapat memengaruhi produktivitas, kualitas hidup, dan kondisi ekonomi seseorang. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini dinilai menjadi bagian penting dalam pengelolaan risiko kesehatan.
Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia, Rina Triana, menyampaikan bahwa kenaikan biaya medis menjadi tantangan yang dihadapi berbagai pihak dalam ekosistem kesehatan, termasuk industri asuransi.
Menurutnya, selain dipengaruhi oleh inflasi dan perkembangan teknologi medis, biaya kesehatan juga terdampak oleh faktor ekonomi makro.
“Ketergantungan terhadap bahan baku obat dan alat kesehatan impor membuat perubahan nilai tukar rupiah dapat memengaruhi biaya layanan kesehatan di dalam negeri,” jelasnya.
Data Allianz Indonesia menunjukkan rata-rata biaya perawatan sejumlah penyakit kritis mengalami peningkatan dalam periode 2020 hingga 2025. Biaya perawatan penyakit jantung tercatat meningkat hingga 219 persen, kanker 179 persen, dan stroke 169 persen.
Sepanjang 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah membayarkan klaim dan manfaat senilai Rp6,3 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp3,7 triliun merupakan klaim kesehatan.
Rina mengatakan bahwa meningkatnya biaya layanan kesehatan menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan perlindungan kesehatan di masa depan.
“Berbagai penyesuaian yang dilakukan di industri asuransi bertujuan untuk menjaga kecukupan manfaat dan memastikan akses peserta terhadap layanan kesehatan tetap tersedia,” katanya.
Ia juga menilai perlindungan kesehatan perlu menjadi bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Pasalnya, dampak penyakit kritis tidak hanya mencakup biaya perawatan saat menjalani rawat inap, tetapi juga biaya pemulihan, pengobatan lanjutan, serta kebutuhan medis lainnya yang dapat berlangsung dalam jangka waktu panjang.
Diskusi tersebut menyoroti pentingnya peningkatan literasi kesehatan dan perencanaan keuangan sebagai upaya menghadapi risiko kesehatan serta kenaikan biaya perawatan yang diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. (srv)

















