INDOPOSCO.ID – Anggota DPD RI Achmad Azran menegaskan, pentingnya penguatan organisasi serta transformasi digital untuk menjaga eksistensi masyarakat Betawi di tengah perubahan Jakarta menuju kota global.
Pria yang akrab disapa Bang Azran itu menilai, masyarakat Betawi harus memiliki fondasi organisasi yang kuat sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tidak tertinggal dalam arus modernisasi.
Menurut dia, perjuangan membangun masyarakat Betawi bukan sekadar tanggung jawab sebagai senator maupun pimpinan organisasi. Baginya, hal tersebut merupakan bagian dari pengabdian yang lahir dari identitasnya sebagai putra Betawi.
Ia mengaku memahami langsung berbagai tantangan dan harapan masyarakat Betawi karena tumbuh dan besar di lingkungan tersebut. Pengalaman itu pula yang membentuk perjalanan organisasinya sejak menjadi pengurus FORKABI (Forum Komunikasi Anak Betawi) di wilayah Ciracas, Jakarta Timur, hingga dipercaya memimpin organisasi dan mewakili masyarakat Jakarta di tingkat nasional.
“Betawi merupakan suku tertua di Indonesia. Oleh karena itu, agar warisan budaya Betawi dapat terus terawat dari generasi ke generasi, dibutuhkan sebuah wadah yang kuat, yaitu FORKABI,” kata Bang Azran dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).
Bang Azran menilai FORKABI memiliki posisi strategis sebagai rumah besar masyarakat Betawi yang mampu menyatukan berbagai elemen, mulai dari tokoh masyarakat, ulama, pemuda, perempuan hingga organisasi kebetawian lainnya.
Menurutnya, FORKABI tidak hanya berfungsi sebagai organisasi kemasyarakatan, tetapi juga menjadi forum musyawarah lintas generasi, pusat konsolidasi sosial dan budaya, serta wadah advokasi kepentingan masyarakat Betawi dalam kebijakan publik.
“FORKABI hadir menjadi pusat representasi atau epicentrum bagi masyarakat Betawi. Momentum ini kami jadikan ajakan untuk seluruh elemen Betawi agar bersatu padu. Bersama FORKABI, kita tingkatkan harkat dan martabat masyarakat Betawi, bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di tingkat nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsolidasi yang kuat diperlukan untuk mengakhiri fragmentasi internal sekaligus memperkuat posisi tawar masyarakat Betawi dalam pembangunan Jakarta maupun kebijakan nasional.
Selain memperkuat organisasi, ia juga menaruh perhatian besar pada transformasi digital. Menurutnya, digitalisasi harus dimanfaatkan sebagai sarana memperluas partisipasi masyarakat, meningkatkan kapasitas generasi muda, serta memperkuat pengaruh budaya Betawi di era modern.
Sejumlah agenda yang menjadi fokus antara lain peningkatan literasi sejarah dan budaya Betawi di ruang digital, pengembangan media komunikasi kebetawian yang profesional, pelatihan teknologi dan kewirausahaan digital bagi generasi muda, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
“Kehadiran yang kuat di ruang digital menjadi faktor penting agar budaya Betawi tetap relevan, dikenal luas, dan mampu beradaptasi dengan perubahan sosial maupun ekonomi yang berlangsung sangat cepat,” katanya.
Dia menegaskan, FORKABI ke depan harus berkembang menjadi organisasi yang profesional, inklusif, adaptif, dan progresif. Ia juga menekankan pentingnya menjaga independensi organisasi agar tetap menjadi representasi yang kredibel bagi masyarakat Betawi.
Menurutnya, kekuatan organisasi harus bertumpu pada legitimasi sosial, hukum, dan representatif yang lahir dari kesepakatan bersama, bukan kepentingan kelompok tertentu.
Lebih lanjut, ia meyakini kemajuan masyarakat Betawi hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi seluruh elemen, mulai dari sesepuh, ulama, tokoh masyarakat, intelektual, pelaku usaha hingga generasi muda.
“Legitimasi yang tumbuh dari bawah akan jauh lebih kuat dan tahan lama. FORKABI harus dibangun melalui kesepakatan kolektif, mengedepankan musyawarah, partisipasi generasi muda, serta tetap menjaga independensi demi kemajuan masyarakat Betawi,” ujarnya.(nas)











