INDOPOSCO.ID – Di tengah laju perkembangan teknologi yang semakin cepat, pesantren dinilai tidak cukup hanya menjadi benteng pendidikan keagamaan. Lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia itu kini didorong untuk mengambil peran lebih besar dalam mencetak generasi yang mampu bersaing di panggung global tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai keislamannya.
Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menegaskan bahwa masa depan pesantren sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam mengawal implementasi Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren sekaligus kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Kehadiran UU Pesantren harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pesantren melalui empat pilar utama, yaitu rekognisi (pengakuan), afirmasi (keberpihakan), fasilitasi pendanaan melalui Dana Abadi Pesantren, serta penguatan fungsi sosial dan dakwah,” ujar Cucun dalam laman resmi DPR RI, dikutip pada Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, keberadaan regulasi tidak boleh berhenti pada aspek administratif semata. Aturan turunan yang tengah disusun pemerintah dan pemerintah daerah harus mampu memberikan manfaat nyata bagi pesantren, terutama dalam hal pengakuan lulusan dan akses terhadap dukungan negara.
“Setiap undang-undang harus memiliki implementasi yang nyata. Faktanya, belum semua alumni maupun pengelola pesantren memahami sepenuhnya ruang kehadiran negara melalui UU ini,” tegas Cucun.
Ia pun mengingatkan agar berbagai regulasi pelaksana tidak justru menciptakan hambatan baru yang memberatkan pesantren.
“Karena itu, kami meminta agar mekanisme aturan turunannya tidak dibuat rumit, terutama terkait rekognisi kelulusan dan akses anggaran. Kehadiran negara harus mempermudah, bukan membebani administrasi pesantren,” lanjutnya.
Di sisi lain, Cucun melihat pesantren memiliki peluang besar untuk melakukan lompatan kualitas pendidikan. Menurutnya, integrasi kurikulum bertaraf internasional dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan daya saing santri di tingkat global.
Ia menilai kurikulum internasional seperti Cambridge Curriculum maupun International Baccalaureate (IB) dapat diadaptasi dengan pendekatan khas pesantren yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.
“Pesantren bisa mengadopsi Cambridge maupun IB dengan pendekatan khas pesantren. Transformasi ini sangat penting,” tutur Cucun.
Lebih jauh, Cucun menekankan bahwa perkembangan AI harus dipandang sebagai peluang, bukan ancaman. Ia meyakini pesantren memiliki peran strategis dalam menghadirkan perspektif etika dan moral di tengah pesatnya kemajuan teknologi.
“Semua pesantren harus adaptif terhadap percepatan teknologi. Bahkan dalam perkembangan AI saat ini, dibutuhkan kontribusi dari insan pesantren yang memiliki pemahaman agama yang kuat untuk menghadirkan perspektif etika dan nilai-nilai moral,” tambahnya.
Dengan kombinasi penguatan regulasi, dukungan negara, serta transformasi pendidikan berbasis teknologi, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu keagamaan, tetapi juga siap menjadi aktor penting dalam percaturan global di era digital.(her)










