INDOPOSCO.ID – Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menilai langkah Istana menggelar konferensi pers terkait bantuan hewan kurban Iduladha Presiden Prabowo Subianto justru menjadi bumerang dalam komunikasi publik pemerintah.
Pria yang akrab disapa Hensa itu menyoroti konferensi pers yang disampaikan Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro. Menurutnya, isu yang sebenarnya sederhana malah berkembang menjadi polemik karena dipresentasikan secara berlebihan.
“Ini problem dasar, pejabat negara nggak bisa bedain mana yang layak press conference, mana yang cukup siaran pers. Hal-hal ringan dibikin seolah-olah penting, akhirnya jadi bola liar ke mana-mana dan memancing polemik yang sebenarnya nggak perlu,” ujar Hensa melalui gawai, Rabu (27/5/2026).
Hensa menilai penggunaan forum konferensi pers untuk mengumumkan jumlah hewan kurban Presiden tidak memiliki urgensi tinggi. Dalam pandangannya, format komunikasi besar seperti itu justru membangun kesan bahwa informasi tersebut sangat penting dan mendesak diketahui publik.
Akibatnya, perhatian publik bergeser ke hal-hal lain yang sebelumnya tidak menjadi persoalan, termasuk mempertanyakan penggunaan anggaran negara.
“Begitu diumumkan lewat press conference, kesannya ini urusan besar, mendesak, semua orang harus tahu. Padahal cukup rilis singkat saja. Karena dibesarkan, akhirnya orang jadi bertanya macam-macam, termasuk soal APBN. Coba kalau dari awal cukup press release, isu itu bisa dikendalikan, nggak melebar ke mana-mana,” jelasnya.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu juga menilai sensitivitas komunikasi di lingkungan pemerintahan masih lemah. Ia menyinggung kemungkinan dampak negatif terhadap citra Presiden jika strategi komunikasi semacam itu terus dilakukan.
“Kalau sampai Presiden tahu, itu justru makin runyam. Niatnya baik, tapi cara menyampaikannya jadi terkesan pamer. Dalam perspektif tertentu, itu bisa dianggap riya. Akhirnya yang kena siapa? Presidennya juga, seolah-olah berbuat baik tapi dipersepsikan keliru,” kata Hensa.
Tak hanya soal kurban, Hensa turut mengkritik konferensi pers mengenai ketidakhadiran Presiden dalam Salat Iduladha di Jakarta karena agenda kunjungan ke Prancis. Ia menyebut penyampaian informasi tersebut kembali menunjukkan ketidaktepatan dalam menentukan bobot isu yang layak diumumkan lewat konferensi pers.
“Hal seperti Presiden tidak Salat Iduladha di Jakarta karena ke Perancis itu cukup disampaikan lewat siaran pers, selesai. Nggak perlu panggung besar. Ketika dibikin press conference, seolah-olah ini isu besar, padahal bukan. Ujungnya apa? Polemik lagi, isu nggak penting jadi ramai,” ungkapnya.
Menurut Hensa, persoalan utama bukan terletak pada kegiatan Presiden, melainkan pada cara pemerintah menyampaikan informasi kepada publik. Ia menilai momentum Iduladha yang seharusnya berlangsung khidmat justru berubah menjadi ruang perdebatan akibat strategi komunikasi yang tidak tepat.
“Bukan soal penting atau tidaknya kegiatannya, tapi bagaimana itu dikomunikasikan. Ketika hal-hal seperti ini dibesar-besarkan lewat press conference, fokus publik jadi bergeser. Yang seharusnya khidmat, malah jadi bahan polemik,” jelas Hensa.
Ia pun mengingatkan bahwa kesalahan dalam mengelola komunikasi publik berpotensi menciptakan distraksi terhadap agenda pemerintahan.
“Akibatnya energi publik habis di hal-hal yang sebetulnya bisa disampaikan secara sederhana. Ini bukan soal kegiatannya, tapi strategi komunikasinya yang kurang tepat,” tutupnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto diperkirakan akan melaksanakan Salat Iduladha 1447 Hijriah di Prancis. Hal tersebut disampaikan Juri saat memberikan keterangan mengenai penyaluran hewan kurban Presiden kepada masyarakat di berbagai daerah.
Menurutnya, momentum Hari Raya Iduladha tahun ini bertepatan dengan agenda kunjungan kenegaraan Presiden di Prancis. Karena itu, pelaksanaan salat Id bagi Prabowo akan menyesuaikan dengan rangkaian agenda resmi yang sedang berlangsung di negara tersebut.
“Akan menyesuaikan, karena pas hari Rabu, masih ada di sana. Jadi, tentu akan menyesuaikan situasi di sana,” kata Juri dalam konferensi pers di Jakarta, pada Selasa (26/5/2026). (her)










