INDOPOSCO.ID – Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Timboel Siregar, melontarkan kritik keras terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto yang dinilai meremehkan pelemahan nilai tukar rupiah.
Timboel menilai sikap Presiden tersebut memberi kesan ketidakberpihakan pemerintah terhadap nasib masyarakat, khususnya buruh dan keluarganya. Menurut dia, pelemahan rupiah berdampak luas terhadap seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga di pedesaan.
Pasalnya, sambung Timboel, banyak industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor yang memerlukan dolar Amerika Serikat untuk proses produksi. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri.
“Kenaikan harga akan menurunkan daya beli masyarakat. Upah riil buruh tergerus, sehingga kesejahteraan mereka ikut menurun,” ujar Timboel melalui gawai, Sabtu (16/5/2026).
Ia juga mengingatkan risiko yang dihadapi perusahaan yang tidak mampu menjaga arus kas di tengah tekanan nilai tukar. Jika kondisi tersebut tidak tertangani, perusahaan berpotensi melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah pekerja, sehingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa semakin besar.
Selain itu, Timboel menyoroti sikap sejumlah aktivis serikat pekerja/serikat buruh (SP/SB) yang dinilainya cenderung diam terhadap situasi ekonomi saat ini.
Ia mengkritik adanya undangan-undangan seremonial serta pemberian jabatan kepada sebagian aktivis buruh yang dianggap sebagai upaya meredam kritik.
“Undangan seremonial dan berbagai jabatan yang diberikan kepada aktivis buruh, bahkan rencana pengiriman ke Jenewa untuk menghadiri konferensi perburuhan internasional, jangan sampai menjadi alat untuk membungkam suara buruh,” tegasnya.
Timboel menilai, di tengah ancaman penurunan daya beli, tergerusnya upah riil, hingga potensi PHK, buruh membutuhkan keberpihakan nyata dan kebijakan konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi kesejahteraan pekerja.(nas)











