INDOPOSCO.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan hebat. Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (15/5/2026), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global serta lonjakan kekuatan dolar AS yang dipicu kekhawatiran pasar terhadap situasi di Selat Hormuz.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 12.09 WIB, rupiah berada di level Rp17.593 per dolar AS atau turun 0,37 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Tekanan tidak hanya menghantam Indonesia, tetapi juga menyeret mayoritas mata uang Asia ke zona merah.
Yuan China tercatat melemah 0,13 persen di tengah berlangsungnya pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Yen Jepang turun 0,09 persen, rupee India melemah 0,06 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,34 persen, dolar Singapura turun 0,09 persen, sedangkan baht Thailand melemah 0,19 persen.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan dolar AS masih berpotensi berlanjut, terutama karena pasar global sedang dibayangi kenaikan harga minyak dunia dan eskalasi konflik geopolitik.
“Kita melihat pada saat libur, ya dua hari ini, ada beberapa tensi geopolitik yang terus memanas terutama adalah di Selat Hormuz, antara AS dengan Iran,” kata Ibrahim melalui gawai, Jumat (15/5/2026).
Menurut dia, situasi makin sensitif karena pasar juga menaruh perhatian besar terhadap pertemuan Trump dan Xi Jinping. China dinilai berkepentingan menjaga keamanan distribusi minyak mentah dari Iran yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
“Ini secara geopolitik membuat dolar AS mengalami penguatan, harga minyak naik, rupiah melemah,” jelas Ibrahim.
Tekanan terhadap rupiah dinilai semakin berat lantaran bertepatan dengan periode libur panjang di Indonesia. Kondisi tersebut membuat ruang intervensi Bank Indonesia menjadi lebih terbatas karena transaksi domestik tidak berlangsung optimal.
Ibrahim menyebut otoritas moneter praktis hanya bisa melakukan intervensi lewat pasar internasional. Namun langkah itu dinilai belum cukup kuat menghadapi derasnya tekanan eksternal.
“Karena liburnya pasar di Indonesia ini membuat tekanan yang begitu besar secara eksternal, sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional itu begitu luar biasa dampaknya,” tuturnya.
Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah juga menjadi faktor yang memperberat posisi rupiah. Saat harga energi naik dan dolar AS menguat, kebutuhan pembayaran impor otomatis menjadi lebih mahal.
Situasi tersebut dinilai bisa membuka ruang pelemahan lanjutan bagi rupiah apabila tensi geopolitik global tidak segera mereda.
“Dalam waktu dekat rupiah berpotensi menembus Rp18 ribu per dolar AS apabila tekanan global terus meningkat. Jika level Rp18 ribu per dolar AS tembus pada Mei ini, maka ada kemungkinan besar rupiah bergerak hingga Rp22 ribu per dolar AS,” tambahnya.
Di balik tekanan terhadap rupiah yang terus meningkat, Ibrahim Assuaibi menilai kondisi dasar perekonomian Indonesia belum kehilangan daya tahan. Ia menyoroti kuatnya peran investor domestik di pasar obligasi pemerintah sebagai penyangga utama stabilitas keuangan nasional, sehingga gejolak eksternal dinilai belum cukup untuk mengguncang fondasi ekonomi secara keseluruhan.(her)











