INDOPOSCO.ID – Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun angkat suara terkait munculnya keraguan sejumlah pengamat ekonomi terhadap capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I (Q1) 2026.
Menurutnya, angka tersebut bukan capaian biasa. Ia menilai pertumbuhan ekonomi di awal tahun itu menjadi salah satu prestasi paling tinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Dalam pernyataannya di podcast YouTube Hendri Satrio Official, Misbakhun menegaskan bahwa capaian tersebut bahkan melampaui era menteri keuangan sebelumnya yang kerap mendapat pengakuan internasional.
“Q1 5,61 persen itu tertinggi yang pernah kita capai sejak 14 tahun lalu. Menteri yang sebelumnya, yang katanya menjadi yang terbaik di dunia, malah tidak bisa mencapai 5,61 persen,” ujar Misbakhun dalam tayangan podcast tersebut, dikutip pada Jumat (15/5/2026).
Sorotan juga diarahkan kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang baru menjabat sejak September 2025. Misbakhun menyebut Purbaya mampu menghadirkan akselerasi ekonomi hanya dalam waktu singkat setelah dipercaya masuk kabinet.
Ia menilai performa tersebut menjadi sinyal positif bahwa target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 masih realistis untuk dikejar.
“Walaupun cuma quarterly, tapi Purbaya bisa melakukannya dalam waktu yang tidak terlalu lama sejak dia diangkat September 2025. Bahkan di akhir tahun dia juga mencapai pertumbuhan yang tinggi sehingga kita bisa mencapai target pertumbuhan 5,2 persen di APBN 2025. Sekarang target 2026 adalah 5,4 persen, dan kita optimistis itu bisa tercapai,” ujar Misbakhun.
Tak hanya itu, Misbakhun juga membantah tudingan bahwa lonjakan pertumbuhan ekonomi tersebut semata-mata ditopang oleh utang pemerintah. Ia menegaskan seluruh kebijakan fiskal berjalan melalui mekanisme resmi yang dibahas bersama DPR dalam penyusunan APBN.
“Utang yang mana? Semua ekonomi kita itu kan basisnya pada hitung-hitungan defisit. Defisit itu ditetapkan bersama dalam proses menetapkan APBN. Bukan Pak Prabowo sendiri yang menetapkan, ini ditetapkan bersama wakil rakyatnya. Semua delapan partai di DPR setuju, tidak ada satu partai pun yang memberikan dissenting opinion,” tegas Misbakhun.
Di sisi lain, kritik terhadap angka pertumbuhan 5,61 persen juga datang dari ekonom Ferry Latuhihin. Dalam podcast yang sama, Ferry mempertanyakan kualitas pertumbuhan ekonomi tersebut.
Ia menilai kenaikan belanja pemerintah yang melonjak tajam menjadi faktor utama di balik pertumbuhan tinggi pada awal tahun.
“Angka 5,61 persen itu ada doping. Pengeluaran pemerintah digenjot sampai sekitar 21 persen, padahal biasanya hanya di kisaran 4 persen,” kata Ferry.
Ferry bahkan menilai pertumbuhan tersebut lebih bersifat kosmetik ketimbang mencerminkan kondisi ekonomi riil masyarakat.
“Kalau saya bold, saya bilang ini untuk menghibur Bapak Presiden,” jelas Ferry. (her)











