INDOPOSCO.ID – Budi Luhur University (BLU) menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang membuka Program Studi (Prodi) S1 Manajemen Bencana pada 2022. Kehadiran prodi tersebut menjadi langkah baru dalam dunia pendidikan tinggi untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang profesional di bidang kebencanaan.
Deputi Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama dan Promosi BLU, Prof. Dr. Ir. Arief Wibowo, S.Kom., M.Kom mengatakan, prodi tersebut lahir dari semangat kemanusiaan yang menjadi filosofi kampus.
“Prodi Manajemen Bencana S1 pertama di Indonesia itu berdiri di Budi Luhur tahun 2022. Kalau vokasi sudah ada, tetapi untuk jenjang S1 kami yang pertama,” ujar Arief kepada INDOPOSCO, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, pembukaan prodi tersebut tidak lepas dari filosofi “Cerdas Berbudi Luhur” yang selama ini menjadi identitas kampus. Filosofi itu mendorong lahirnya program pendidikan yang berbasis kemanusiaan dan kepedulian sosial.
Arief menuturkan, BLU memiliki sejarah kuat dalam penanganan kemanusiaan, salah satunya dengan memberikan beasiswa kepada 18 mahasiswa asal Aceh beberapa bulan sebelum tragedi tsunami terjadi.
“Mereka akhirnya kembali ke Aceh setelah lulus untuk ikut membangun daerahnya. Dari situ muncul semangat yayasan untuk membuka prodi yang basisnya kemanusiaan,” katanya.
Ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah memperkenalkan Prodi Manajemen Bencana kepada masyarakat. Sebab, sebagian besar orang tua maupun calon mahasiswa masih belum familiar dengan program studi tersebut.
“Banyak yang bertanya, ‘oh ada ya prodi bencana?’ Nah tantangannya bagaimana masyarakat tahu bahwa prodi ini penting dan memang dibutuhkan di Indonesia,” tuturnya.
Meski demikian, jumlah peminat disebut terus meningkat setiap tahun. Saat ini jumlah mahasiswa dalam satu angkatan memang belum mencapai 50 orang, namun tren penerimaan dinilai terus positif.
Dalam pendiriannya, prodi tersebut juga mendapat dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
“Sudah saatnya penanganan bencana tidak lagi mengandalkan tenaga otot, tetapi skill dan pengetahuan. Karena itu BNPB dan Basarnas memberikan rekomendasi kuat saat prodi ini didirikan,” jelas Arief.
Tak hanya itu, kurikulum Prodi Manajemen Bencana juga disusun bersama berbagai pihak, termasuk Himpunan Pendidikan Tinggi Kebencanaan Indonesia (HIPTI), BNPB, Basarnas hingga masukan dari masyarakat terdampak bencana.
Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga dituntut aktif turun ke lapangan. Komposisi pembelajaran dibuat sekitar 60 persen praktik dan 40 persen teori.
Beberapa mata kuliah bahkan mengharuskan mahasiswa melakukan praktik langsung, seperti penyusunan peta risiko bencana, analisis data kebencanaan, hingga manajemen pencarian dan pertolongan atau operasi SAR.
“Nanti mereka diharapkan bisa menjadi bagian dari tim relawan maupun tim SAR saat terjadi bencana,” ungkapnya.
Arief menambahkan, prodi tersebut juga bersifat lintas disiplin ilmu. Mahasiswa akan mempelajari komunikasi kebencanaan, ekonomi kebencanaan hingga pemanfaatan teknologi informasi dalam mitigasi bencana.
“Tidak ada pihak yang paling jago soal bencana, karena bencana itu soal kolaborasi,” tegas Arief.
Untuk mendukung akses pendidikan, sejak angkatan pertama Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti juga menyediakan program beasiswa bagi mahasiswa dari daerah rawan bencana, seperti Palu, Sukabumi, Sulawesi hingga Sumatera.
Sementara terkait prospek kerja, Arief menyebut lulusan Manajemen Bencana memiliki peluang besar tidak hanya di lembaga pemerintah, tetapi juga di sektor industri.
“Kami bahkan pernah menerima surat dari kementerian dan pemerintah daerah terkait kebutuhan lulusan S1 Manajemen Bencana, padahal saat itu kami belum memiliki lulusan,” tambahnya.
Di tengah Indonesia yang berada di kawasan rawan bencana, kehadiran Prodi Manajemen Bencana di Universitas Budi Luhur diharapkan mampu melahirkan generasi baru yang tak hanya sigap menghadapi bencana, tetapi juga mampu membangun ketahanan masyarakat secara berkelanjutan.(her)











