INDOPOSCO.ID – Meningkatnya perhatian dunia terhadap wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi alarm serius bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, meminta pemerintah dan masyarakat tidak meremehkan ancaman penyakit zoonosis tersebut.
Kasus hantavirus terbaru menjadi sorotan setelah World Health Organization melakukan pemantauan terhadap wabah Andes virus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Dalam insiden tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah penumpang lainnya masuk kategori suspect.
Meski dua warga Singapura yang sempat berada di kapal dinyatakan negatif setelah menjalani karantina dan pemeriksaan ketat, WHO tetap melakukan pelacakan lintas negara karena Andes virus diketahui sebagai satu-satunya jenis hantavirus yang dapat menular antar manusia.
“Peristiwa di kapal MV Hondius harus menjadi alarm bagi seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman jauh atau penyakit langka yang tidak relevan bagi Indonesia,” kata Edy dalam keterangannya di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Menurut politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu, Indonesia memiliki risiko cukup tinggi terhadap penyebaran hantavirus karena tingginya kepadatan penduduk, urbanisasi cepat, persoalan sanitasi lingkungan, serta populasi tikus di kawasan permukiman.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir terdapat sedikitnya 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus di Indonesia dengan manifestasi Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Dari jumlah tersebut, 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia akibat penyakit penyerta.
“Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan sekadar ancaman teoritis. Virusnya sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata,” ujar Edy.
Ia menjelaskan bahwa hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus. Penularan dapat terjadi saat seseorang menghirup udara yang terkontaminasi urin, feses, atau air liur tikus.
Edy menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami risiko penularan, terutama saat membersihkan gudang, rumah kosong, atau area dengan banyak kotoran tikus tanpa alat pelindung diri.
Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat sistem kewaspadaan dini melalui pendekatan One Health System yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain memperluas surveilans penyakit demam akut yang belum terdiagnosis, meningkatkan kapasitas pemeriksaan laboratorium seperti PCR dan serologi, serta memperkuat pengendalian tikus dan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat.
“Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, Edy juga meminta edukasi publik diperluas agar masyarakat memahami cara sederhana mencegah penularan, seperti menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang terkontaminasi tikus, menjaga ventilasi ruangan, dan menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat.
“Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan lebih penting dibanding penanganan saat situasi memburuk,” tandasnya.(dil)











