INDOPOSCO.ID – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan melakukan kunjungan ke China pada Rabu (6/5/2026) untuk melakukan pembicaraan dengan Diplomat tertinggi China Wang Yi di tengah meningkatnya ketegangan regional di Timur Tengah.
“Selama kunjungan itu dia akan bertemu dengan mitranya dari China (Wang Yi) untuk membahas hubungan bilateral dan perkembangan regional dan internasional,” kata Kementerian Luar Negeri Iran dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran, guna mengakhiri perang yang telah terjadi selama 60 hari lebih atau sejak akhir Februari 2026.
Beijing berhasil menempatkan diri sebagai pemain diplomatik kunci berkat kebijakan ‘non-intervensi’ yang konsisten terhadap urusan internal negara lain, serta hubungannya yang terjaga dengan semua pihak yang terlibat dalam perang melawan Iran.
Iran dan Amerika Serikat sejatinya tengah melakukan gencatan senjata tanpa batas waktu sejak akhir April 2026, namun militer Negeri Paman Sam masih tetap melakukan blokade di dekat Selat Hormuz.
Ketegangan belum mereda, Presiden Amerika Serikat Donald Trump malah menjanjikan bahwa Amerika Serikat akan mulai memandu kapal-kapal dengan aman keluar dari Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026).
“Saya telah memberi tahu Perwakilan saya untuk memberi tahu mereka bahwa kami akan melakukan upaya terbaik untuk membawa Kapal dan Awak mereka keluar dari Selat dengan selamat,” klaim Trump melalui platform Truth Social pribadinya @realDonaldTrump, Senin (4/5/2026).
Trump mengumumkan dimulainya “Project Freedom” pada Senin pagi waktu Timur Tengah, sebuah upaya untuk memastikan navigasi yang aman di Selat Hormuz dengan menegaskan bahwa kapal-kapal akan dikawal hingga wilayah tersebut benar-benar aman.
“Dalam semua kasus, mereka mengatakan tidak akan kembali sampai daerah tersebut aman untuk navigasi, dan yang lainnya. Proses ini, Project Freedom, akan dimulai Senin pagi,” celetuk Trump.
Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa segala bentuk intervensi di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran aturan gencatan senjata.
“Setiap campur tangan Amerika dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata,” tegas Ebrahim melalui akun X pribadinya seperti dilansir dari Al Jazeera, Senin (4/5/2026). (dan)











