INDOPOSCO.ID – Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa segala bentuk intervensi di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran aturan gencatan senjata.
Hal itu merespons upaya Presiden AS Donald Trump melalui program misi “Project Freedom” yang akan mulai memandu kapal-kapal dengan aman keluar dari Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026).
“Setiap campur tangan Amerika dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata,” kata Ebrahim melalui akun X pribadinya seperti dilansir dari Al Jazeera, Senin (4/5/2026).
Iran menyatakan penentangan keras terhadap keterlibatan Amerika Serikat di Selat Hormuz dan Teluk Persia, serta menolak keras apa yang mereka sebut sebagai ambisi gegabah pemerintahan Trump di kawasan tersebut.
“Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan dikelola oleh pos-pos delusi Trump!. Tidak ada yang akan percaya menyalahkan skenario permainan!,” ujar Ebrahim.
Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan dikelola oleh pos-pos delusi Trump! “Tidak ada yang akan percaya menyalahkan skenario permainan!”
Presiden Donald Trump menjanjikan AS akan mulai memandu kapal-kapal dengan aman keluar dari Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026).
“Saya telah memberi tahu Perwakilan saya untuk memberi tahu mereka bahwa kami akan melakukan upaya terbaik untuk membawa Kapal dan Awak mereka keluar dari Selat dengan selamat,” klaim Trump terpisah melalui platform Truth Social pribadinya @realDonaldTrump, Senin (4/5/2026).
Trump mengumumkan dimulainya “Project Freedom” pada Senin pagi waktu Timur Tengah, sebuah upaya untuk memastikan navigasi yang aman di Selat Hormuz dengan menegaskan bahwa kapal-kapal akan dikawal hingga wilayah tersebut benar-benar aman.
“Dalam semua kasus, mereka mengatakan tidak akan kembali sampai daerah tersebut aman untuk navigasi, dan yang lainnya. Proses ini, Project Freedom, akan dimulai Senin pagi,” jelas Trump.
Ia menambahkan bahwa upaya tersebut adalah gerakan kemanusiaan atas nama Amerika Serikat. “Saya pikir itu akan sangat membantu dalam menunjukkan niat baik atas nama semua orang yang telah berjuang keras selama beberapa bulan terakhir,” imbuhnya.(dan)











