INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa persoalan sampah di Indonesia tak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi erat dengan generasi muda untuk menghadirkan solusi nyata dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Parlemen Kampus di Universitas Sebelas Maret, Jawa Tengah, dikutip Rabu (6/5/2026).
Menurut Eddy, langkah awal yang paling krusial adalah memperkuat kapasitas generasi muda melalui edukasi yang menyeluruh, tidak hanya soal teori, tetapi juga praktik di lapangan.
“Peningkatan kapasitas anak muda itu penting, mulai dari memahami legislasi, regulasi, hingga implementasi nyata,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia memiliki fungsi pengawasan yang dapat menjadi jembatan bagi aspirasi masyarakat, termasuk dari kalangan mahasiswa. Melalui jalur ini, berbagai persoalan sampah di daerah bisa diangkat ke tingkat nasional untuk dibahas dan dicarikan solusi.
Eddy menekankan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah adanya kesenjangan antara pemahaman dan pelaksanaan di lapangan. Tanpa kerja sama yang solid, upaya penanganan sampah berisiko mandek.
“Jangan sampai ada gap antara pemahaman dan praktik. Kita ingin kolaborasi yang kuat agar solusi benar-benar berjalan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti bahwa generasi muda tidak boleh hanya diposisikan sebagai objek edukasi. Sebaliknya, mereka harus dilibatkan sebagai mitra strategis yang aktif dalam merumuskan solusi atas persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Menurut Eddy, kondisi pengelolaan sampah di Indonesia bahkan sudah berada pada tahap darurat. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih progresif, inovatif, dan melibatkan banyak pihak.
“Dengan keterlibatan mahasiswa, saya yakin akan muncul ide-ide segar dan solusi inovatif,” tambahnya.
Kegiatan Parlemen Kampus di UNS menjadi ruang dialog antara pembuat kebijakan dan mahasiswa untuk merumuskan langkah konkret. Eddy berharap forum seperti ini terus diperluas agar semakin banyak generasi muda yang terlibat aktif dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.
“Kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan jika Indonesia ingin keluar dari krisis sampah yang kian mendesak,” pungkasnya. (dil)











