INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino mengingatkan pentingnya penyampaian kondisi fiskal negara secara berimbang kepada publik. Menurutnya, laporan kinerja APBN tidak cukup hanya menampilkan capaian positif, tetapi juga harus memuat tantangan dan risiko fiskal yang sedang dihadapi pemerintah.
Menanggapi rilis APBN Kita Triwulan I 2026, Harris mengapresiasi upaya pemerintah menjaga stabilitas fiskal nasional, termasuk capaian pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 20,7 persen.
Namun, politikus Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menilai narasi optimisme pemerintah perlu diimbangi dengan keterbukaan terhadap kondisi fundamental ekonomi, termasuk pelebaran defisit yang tercatat meningkat hingga 140,5 persen.
“Setiap kali membaca rilis resmi seperti APBN Kita Q1 2026, saya selalu teringat pesan Bung Karno, ‘Bermimpilah setinggi langit, tapi jangan lupa bahwa akar pohon menancap di bumi’. Narasi APBN harus kembali membumi, menjejak pada realita yang sesungguhnya, bukan sekadar melayang di atas kertas presentasi yang atraktif,” ujar Harris dalam keterangannya dikutip, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu lebih terbuka dalam menyampaikan berbagai risiko fiskal yang sedang dihadapi, termasuk tantangan pembiayaan negara dan tekanan terhadap ruang fiskal di masa mendatang.
Harris menilai keterbukaan informasi fiskal sangat penting agar masyarakat memperoleh gambaran utuh mengenai kondisi ekonomi nasional sekaligus memahami langkah strategis yang tengah disiapkan pemerintah.
“Kami menuntut transparansi. Jangan hanya merias angka di halaman depan, tapi sembunyikan tagihan utang yang jatuh tempo di halaman belakang,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengelolaan APBN harus dilakukan secara hati-hati agar tetap mampu menopang pembangunan nasional secara berkelanjutan.
“Membangun negeri ini adalah maraton, bukan sprint dengan doping Lebaran dan utang berbunga tinggi. Mari kita lebih jujur dalam mengelola APBN,” pungkasnya.(dil)











