INDOPOSCO.ID – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada dalam tekanan kuat seiring meningkatnya tensi geopolitik global. Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah berpotensi menembus level Rp17.550 per dolar AS dalam pekan ini.
“Rupiah pada pagi ini sudah melemah di atas Rp17.400. Target saya sendiri dalam minggu ini adalah di Rp17.550 dan kemungkinan besar akan tercapai,” ujar Ibrahim melalui gawai, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, tekanan utama Rupiah berasal dari konflik di Selat Hormuz yang kembali memanas setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap pasukan Iran.
“Kita melihat lebih dari lima kapal perang kecil Iran dibombardir dan hancur. Ini memicu ketegangan besar di Timur Tengah,” katanya.
Situasi semakin kompleks setelah pernyataan Donald Trump yang menginstruksikan armada laut AS di Laut Oman untuk menguasai jalur strategis tersebut.
“Trump bahkan menyebut pasukan Amerika seperti bajak laut. Kapal-kapal yang keluar dari Selat Hormuz bisa dikuasai. Ini membuat Iran merugi lebih dari 5 miliar dolar AS,” jelasnya.
Selain itu, konflik di Eropa turut memperburuk sentimen pasar. Serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak Rusia menyebabkan penurunan produksi hingga 10 persen.
“Ini berdampak pada kenaikan harga minyak dunia, baik Brent maupun WTI,” tutur Ibrahim.
Kenaikan harga energi tersebut berpotensi memicu inflasi global dan mendorong bank sentral, khususnya di Amerika Serikat, untuk kembali menaikkan suku bunga.
“Kalau harga minyak terus naik, wajar Bank Sentral Amerika akan menaikkan suku bunga. Dampaknya dolar menguat dan rupiah tertekan,” tambahnya.(her)











