INDOPOSCO.ID – Di tengah sorotan pelaku industri energi global, Indonesia tampil bukan sekadar sebagai pemain lama, tetapi sebagai peluang baru yang belum sepenuhnya tergarap.
Pesan itu mengemuka dalam forum “Indonesia Untapped and Frontier Resources: Scale, Strategy and Partnership” di Houston, Amerika Serikat, Selasa (5/5/2026), bagian dari rangkaian Offshore Technology Conference (OTC). Di forum ini, Indonesia tidak hanya berbicara soal potensi, tetapi juga kesiapan untuk bergerak cepat.
Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Susilo, menegaskan bahwa fondasi investasi terus diperkuat. Mulai dari regulasi, kepastian hukum, hingga penyiapan wilayah kerja migas yang kian kompetitif—semuanya diarahkan untuk menciptakan iklim investasi yang lebih ramah. Daya tarik Indonesia semakin nyata ketika data dipaparkan.
Senior Manager Oilfield Development SKK Migas, Wilson Pariangan, mengungkapkan bahwa peluang migas nasional masih terbuka sangat lebar. Dari total 128 cekungan, baru sebagian kecil yang benar-benar berproduksi.
“Dengan potensi mencapai 2,7 miliar barel minyak dan 39,35 TCF gas, serta 158 blok migas yang tersedia, Indonesia menawarkan peluang investasi yang nyata dengan sistem yang semakin kompetitif dan ramah investor,” ujar Wilson dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).
Namun, cerita Indonesia tidak berhenti pada angka. Di balik potensi tersebut, ada rekam jejak eksekusi yang mulai menjadi pembeda di mata investor global.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menekankan bahwa Indonesia telah melampaui tahap wacana. Negara ini, kata dia, sudah membuktikan kemampuannya mengubah potensi menjadi produksi nyata.
“Indonesia adalah frontier energy opportunity yang belum sepenuhnya tergarap, dan saat ini adalah momentum terbaik bagi investor untuk masuk. Kami tidak hanya bicara potensi, tetapi juga eksekusi,” tegas Oki.
Bukti itu tercermin dari aktivitas eksplorasi yang terus berjalan agresif. Sepanjang 2025, Pertamina mengebor 20 sumur eksplorasi, delapan di antaranya berhasil menemukan cadangan baru.
“Dengan dukungan survei seismik 2.931 km (2D) dan 855 km² (3D), kami memastikan setiap langkah eksplorasi berbasis data yang kuat, sehingga memberikan tingkat keyakinan yang lebih tinggi bagi investor,” jelasnya.
Lebih jauh, peluang investasi tidak hanya berada di wilayah eksplorasi baru. Justru, potensi besar juga tersembunyi di aset yang sudah ada.
Teknologi seperti Chemical EOR, Thermal EOR, hingga optimalisasi reservoir berkualitas rendah dan program infill mulai menunjukkan hasil nyata, termasuk di Blok Rokan.
“Ini merupakan peluang low risk, high value bagi investor. Aset eksisting kami masih menyimpan potensi besar yang dapat dioptimalkan melalui penerapan teknologi,” ungkap Oki.
Dalam konteks ini, Indonesia secara terbuka mengundang kolaborasi global, khususnya dari penyedia teknologi energi.
“Kami membuka peluang kolaborasi seluas luasnya bagi technology providers. Indonesia membutuhkan solusi teknologi mutakhir, baik untuk eksplorasi, peningkatan perolehan minyak, hingga pengelolaan reservoir kompleks. Ini adalah peluang besar untuk tumbuh bersama,” tambahnya.
Tidak hanya migas konvensional, peluang juga mengalir ke sektor gas melalui penguatan infrastruktur lintas wilayah, menghubungkan Sumatera, Jawa, hingga Indonesia Timur sebagai tulang punggung pasokan nasional.
Sementara itu, arah masa depan energi Indonesia juga mulai terlihat jelas.
Pengembangan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di kawasan, bahkan berpotensi menjadikan Indonesia sebagai hub regional. Di sisi lain, potensi panas bumi sebesar 24 GW, terbesar di dunia, menjadi magnet tambahan bagi investor yang melihat energi bersih sebagai masa depan.
Dengan kombinasi sumber daya besar, kebijakan yang semakin progresif, serta kemampuan eksekusi yang telah teruji, Indonesia kini mengirim pesan tegas ke pasar global, peluang ini nyata, dan waktunya adalah sekarang.
Sebagai penggerak utama, Pertamina menegaskan komitmennya dalam transisi energi menuju target Net Zero Emission 2060, sekaligus memastikan setiap langkah bisnis sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan Environmental, Social & Governance (ESG). (her)











