INDOPOSCO.ID – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, perekonomian Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang solid. Indikator utama seperti neraca perdagangan dan inflasi masih berada dalam jalur yang sehat, menjadi penopang stabilitas ekonomi nasional.
Kementerian Keuangan mencatat, kinerja perdagangan luar negeri pada Maret 2026 kembali mencetak surplus sebesar USD3,32 miliar. Capaian ini memperpanjang tren positif menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
“Surplus ini mencerminkan ketahanan sektor eksternal kita di tengah penguatan aktivitas ekonomi domestik,” ujar Dirjen Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Kacaribu dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, surplus terutama ditopang oleh neraca nonmigas yang mencatatkan kelebihan USD5,21 miliar. Kinerja ekspor mencapai USD22,53 miliar, didorong oleh komoditas unggulan seperti CPO, besi dan baja, serta batu bara. Di sisi lain, impor sebesar USD19,21 miliar menunjukkan peningkatan aktivitas produksi, terutama dari kebutuhan bahan baku dan barang modal.
Meski tekanan global meningkat, pemerintah tetap siaga. Strategi seperti hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing ekspor, hingga diversifikasi mitra dagang terus diperkuat.
Dari sisi harga, inflasi April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan, menurun dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh meredanya tekanan pada komponen harga yang diatur pemerintah dan harga pangan bergejolak.
Namun demikian, kenaikan harga avtur dan BBM nonsubsidi sempat mendorong inflasi sektor transportasi sebesar 0,99 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi pangan tetap terkendali di level 3,37 persen, seiring membaiknya pasokan sejumlah komoditas seperti daging ayam, telur, dan cabai.
“Pemerintah terus menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, termasuk memastikan harga BBM subsidi tetap,” tegas Febrio.
Di sektor industri, aktivitas manufaktur mengalami sedikit perlambatan. Indeks PMI manufaktur pada April 2026 berada di level 49,1, turun dari bulan sebelumnya. Kondisi ini dipicu oleh gangguan rantai pasok dan lonjakan harga bahan baku akibat konflik di Timur Tengah.
Meski begitu, permintaan domestik tetap menjadi penopang utama. Optimisme pelaku industri juga masih terjaga, dengan ekspektasi peningkatan produksi dalam satu tahun ke depan.
Sinyal positif juga terlihat dari konsumsi masyarakat. Indeks Penjualan Riil Maret 2026 tumbuh 2,4 persen secara tahunan, ditopang sektor makanan dan minuman, suku cadang, serta rekreasi. Konsumsi BBM meningkat signifikan, baik di sektor transportasi ritel maupun industri, sejalan dengan tingginya mobilitas saat libur Idulfitri.
Tak hanya itu, penjualan listrik juga tumbuh 3,7 persen, dengan sektor industri mencatatkan kenaikan lebih tinggi sebesar 6,6 persen.
Dari sisi psikologis, kepercayaan konsumen tetap kuat. Indeks Keyakinan Konsumen berada di level 122,9, mencerminkan optimisme terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ke depan.
Menghadapi ketidakpastian global yang terus berkembang, pemerintah memastikan kebijakan tetap adaptif dan terukur. Fokus diarahkan pada penguatan sektor riil, menjaga daya beli, serta mempercepat realisasi investasi melalui berbagai terobosan.
“Langkah-langkah ini penting untuk menjaga momentum pertumbuhan dan memastikan ekonomi kita tetap tangguh,” tambahnya.
Dengan fondasi yang terjaga dan respons kebijakan yang sigap, ekonomi Indonesia masih memiliki ruang untuk terus tumbuh meski dibayangi tekanan global. (her)











