INDOPOSCO.ID – Pelemahan rupiah dan lonjakan harga minyak global mulai memberikan tekanan nyata terhadap perekonomian domestik. Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kondisi ini berpotensi meningkatkan beban impor dan mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri.
Menurutnya, kebutuhan dolar untuk impor energi menjadi salah satu faktor utama.
“Indonesia mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari. Dengan harga minyak yang naik, kebutuhan dolar juga meningkat signifikan,” ujar Ibrahim melalui gawai, Selasa (5/5/2026).
Tekanan juga datang dari kebutuhan valas korporasi, terutama memasuki kuartal kedua saat perusahaan mulai membagikan dividen. Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia disebut mengalami penyusutan akibat intervensi Bank Indonesia di pasar keuangan.
“Cadangan devisa terpakai untuk menjaga stabilitas rupiah, baik di pasar valas maupun obligasi,” jelasnya.
Dari sektor riil, kondisi manufaktur juga menunjukkan pelemahan. Indeks PMI yang berada di bawah 50 menandakan kontraksi industri.
“Ini menunjukkan impor bahan baku tertekan karena mahal dan pasokan terbatas. Dampaknya, produksi manufaktur ikut turun,” kata Ibrahim.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperlebar defisit anggaran pemerintah. “Defisit kemungkinan mendekati 3 persen. Ini warning agar pemerintah mulai mengencangkan belanja dan fokus pada sektor prioritas,” jelasnya.
Dampak paling terasa, lanjutnya, terjadi di tingkat masyarakat melalui kenaikan harga barang. “Barang impor seperti elektronik, kedelai, gandum, hingga plastik mengalami kenaikan. Ini berdampak langsung ke masyarakat,” ungkap Ibrahim.
Ia pun mendorong pemerintah segera mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk melalui percepatan regulasi.
“Undang-Undang (UU) Perampasan Aset harus segera disahkan. Potensinya bisa mendatangkan dana segar ratusan triliun rupiah,” tutupnya. (her)











