INDOPOSCO.ID – Di tengah lanskap energi global yang kian tidak menentu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memilih satu pijakan yang tak tergoyahkan, yakni keselamatan.
Pesan itu mengemuka dalam HSSE Leadership Forum Q1 2026 yang digelar di Ballroom Grha Pertamina, Jakarta, Senin (27/4/2026). Forum ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan ajang konsolidasi strategi di tengah tekanan geopolitik yang terus meningkat, khususnya dari kawasan Timur Tengah.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Awang Lazuardi, menyoroti bagaimana dinamika global kini bukan lagi isu jauh, melainkan realitas yang langsung menghantam rantai pasok energi. Namun di tengah tuntutan bergerak cepat, ia menegaskan satu prinsip yang tak boleh dikompromikan.
“Dalam kondisi apa pun, tidak ada kepentingan operasional perusahaan yang lebih penting daripada HSSE,” tegas Awang.
Menurutnya, budaya keselamatan bukan sekadar prosedur, tetapi fondasi utama yang menjaga keberlanjutan operasi sekaligus menopang ketahanan energi nasional.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri. Ia mengingatkan bahwa eskalasi geopolitik kini telah melampaui batas sebagai risiko eksternal.
“Risiko global bisa dengan cepat berubah menjadi risiko operasional, bahkan risiko terhadap kedaulatan energi. Di sinilah HSSE menjadi pilar utama yang memastikan operasi tetap andal dan aman,” ucap Simon.
Simon menekankan, ketahanan energi tidak cukup hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya. Lebih dari itu, diperlukan rantai pasok yang tangguh, disiplin mitigasi risiko, serta kesiapan organisasi dalam menjaga keselamatan dan keamanan operasi.
Nada kewaspadaan juga datang dari Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan. Ia menyoroti meningkatnya volatilitas harga minyak serta ancaman gangguan logistik global akibat situasi di Timur Tengah.
“Gangguan pelayaran dan eskalasi keamanan berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi. Tanpa HSSE yang kuat, seluruh strategi logistik akan rapuh,” tegasnya.
Forum tersebut turut memperkaya perspektif dengan menghadirkan pakar geopolitik Ashadi Cahyadi serta praktisi logistik energi Arif Yunianto. Diskusi lintas sektor ini menjadi upaya memperkuat kesiapan menghadapi ketidakpastian global yang semakin kompleks.
Ke depan, PHE menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pengelolaan operasi hulu migas berbasis prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance). Tak hanya itu, perusahaan juga menegakkan kebijakan Zero Tolerance on Bribery melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berstandar ISO 37001:2016.
Di tengah dunia yang terus berubah, satu hal tetap dijaga: keselamatan sebagai fondasi utama, bukan sekadar prioritas sesaat.(her)











