INDOPOSCO.ID– Kasus campak di Indonesia masih menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Sepanjang 2025, tercatat 63.769 kasus suspek campak dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian atau case fatality rate (CFR) sebesar 0,1 persen.
Memasuki 2026 hingga minggu ke-7, jumlah kasus suspek campak kembali mencapai 8.224 kasus, dengan 572 kasus terkonfirmasi dan 4 kematian (CFR 0,05 persen). Pada periode yang sama, terjadi 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.
Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harimat Hendarwan menjelaskan, bahwa campak disebabkan oleh measles virus, yakni virus RNA beruntai tunggal, berselubung, beruntai negatif, yang termasuk genus Morbillivirus dari famili Paramyxoviridae. “Sejauh ini, manusia adalah satu-satunya inang alami,” ujar Harimat dalam keterangan, Jumat (1/5/2026).
Menurut Harimat, penelitian menunjukkan virus campak merupakan hasil evolusi dari Rinderpest, virus penyebab penyakit mematikan pada sapi. Para ahli memperkirakan lompatan spesies (spillover) dari sapi ke manusia terjadi sekitar abad ke-6 SM, seiring pertumbuhan populasi dan domestikasi sapi.
Ia juga menyebut ilmuwan Persia, Muhammad bin Zakariya al-Razi, sebagai sosok pertama yang secara ilmiah membedakan campak dari penyakit ruam lainnya.
Ia mengatakan, campak yang juga dikenal sebagai morbilli, measles, gabak, rubeola, atau campak merah, merupakan penyakit demam akut yang sangat menular dan berpotensi fatal, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. “Tingkat penularannya sangat tinggi, bahkan seseorang yang tidak pernah diimunisasi dapat terinfeksi hanya dengan memasuki ruangan yang sebelumnya ditempati penderita,” katanya.
Ia menjelaskan, penularan terjadi melalui kontak dengan cairan hidung atau tenggorokan penderita, baik melalui pernapasan, batuk, maupun bersin. Virus dapat tetap aktif dan menular di udara atau pada permukaan hingga dua jam.
“Diperkirakan 90 persen orang yang terpapar dan tidak diimunisasi akan tertular, dan satu orang penderita dapat menyebabkan hingga 18 infeksi sekunder,” ungkapnya.
Ia menyebut, secara klinis, masa inkubasi campak berlangsung 10–14 hari. Gejala awal meliputi demam disertai tiga gejala khas, yakni batuk (cough), pilek (coryza), dan konjungtivitis (conjunctivitis). Demam biasanya memuncak pada hari keempat dengan suhu mencapai 39–40,5 derajat Celsius.
Beberapa hari kemudian, lanjutnya, muncul ruam morbiliform yang dimulai dari wajah, leher bagian atas, dan belakang telinga, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Penderita dapat menularkan virus sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelahnya.
“Salah satu tanda khas campak adalah munculnya bintik Koplik (Koplik spot) di mukosa mulut sekitar dua hari sebelum ruam timbul,” ujarnya.
“Lesi kecil berwarna biru keputihan tersebut menjadi penanda penting dalam menegakkan diagnosis dini, bahkan sebelum ruam terlihat,” imbuhnya. (nas)










