INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Fauzan menegaskan perguruan tinggi vokasi harus mampu menjamin lulusannya memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan peluang kerja yang lebih besar.
Fauzan mengatakan transformasi dunia kerja akibat perkembangan teknologi menuntut pendidikan vokasi terus memperkuat relevansi pembelajaran. Menurutnya, ada tiga hal yang selalu menuntut adanya solusi dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan vokasi, yaitu mutu, akses, dan relevansi.
“Kita perlu melakukan introspeksi terhadap tata kelola penyelenggaraan pendidikan vokasi, khususnya terkait relevansi,” ujar Fauzan dalam keterangan, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, perguruan tinggi vokasi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis. Kampus juga harus memastikan proses pembelajaran selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang terus berubah.
Fauzan menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan angka pengangguran lulusan pendidikan vokasi masih relatif tinggi. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan pendidikan tinggi.
“Kalau kita melihat data BPS tentang pengangguran, angka pengangguran yang berlatar belakang pendidikan vokasi masih tinggi. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama dalam memperkuat relevansi dengan dunia industri yang dinamis,” katanya.
Ia menambahkan, perguruan tinggi harus mampu memberikan kepastian kepada mahasiswa bahwa setelah lulus mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri sekaligus peluang memperoleh pekerjaan.
Diketahui, berdasarkan data BPS Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 4,68 persen atau sekitar 7,24 juta orang. Sementara Statistik Pendidikan Tinggi 2025 mencatat Indonesia memiliki 755 perguruan tinggi vokasi yang terdiri atas 283 politeknik, 443 akademi, dan 29 akademi komunitas. (nas)


















