INDOPOSCO.ID – Riset yang dilakukan harus terus berkontribusi pada pengembangan keilmuan. Salah satu caranya memang melalui jurnal ilmiah. Pernyataan tersebut diungkapkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Ia menuturkan, jurnal ilmiah harus dapat dilanjutkan menjadi karya nyata. Yang benar-benar bisa digunakan dan memudahkan kehidupan masyarakat.
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) meluncurkan Program Bestari Saintek dan Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi. Langkah ini untuk mendukung Kemajuan Sains dan Teknologi Nusantara (Semesta) Skema Pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026.
Program Bestari Saintek merupakan bagian dari upaya memperkuat hilirisasi riset dan kolaborasi lintas sektor. Riset diharapkan dapat menjawab persoalan konkret, sehingga perguruan tinggi dapat berperan sebagai motor lahirnya inovasi yang terimplementasi dengan baik.
Pada program Bestari Saintek, sebanyak 8.951 pendaftar mengikuti tahap penyampaian Expression of Interest (EoI), dengan 2.499 pengusul melanjutkan ke tahap dokumen EoI dan 545 proposal masuk pada tahap pengajuan proposal teknis. Dari proses seleksi tersebut, 122 tim riset dinyatakan lolos dan mendapatkan pendanaan. Hal ini disampaikan oleh
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek), Ahmad Najib Burhani menambahkan, sebanyak 8.951 pendaftar mengikuti tahap penyampaian Expression of Interest (EoI), dengan 2.499 pengusul melanjutkan ke tahap dokumen EoI dan 545 proposal masuk pada tahap pengajuan proposal teknis.
“Dari proses seleksi tersebut, 122 tim riset dinyatakan lolos dan mendapatkan pendanaan,” ungkap Ahmad.
Menurutnya, hanya 4,9 persen total pendaftar yang berhasil terpilih. Hal ini menunjukkan minat yang tinggi dan standar evaluasi yang kompetitif.
“Tema dari proposal terpilih terbagi menjadi 8 sektor, yakni pangan dan pertanian, kemaritiman, sosial humaniora, seni budaya, dan pendidikan, teknologi komunikasi dan informasi, kebencanaan, kesehatan dan obat, energi baru dan terbarukan, serta material maju,” ujarnya.
Program Bestari Saintek, dikatakan dia, mendorong Non-Traditional Research Output (NTRO), yaitu luaran riset yang tidak hanya berupa publikasi ilmiah. Tetapi juga prototipe, model bisnis, kebijakan, hingga inovasi yang siap diimplementasikan di masyarakat dan industri.
“Kolaborasi luas dalam program ini melibatkan 56 mitra industri, 64 perguruan tinggi,” katanya. (nas)










