INDOPOSCO.ID – Insiden maut terjadi di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam, yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan menewaskan 16 penumpang mendapat perhatian khusus dari Ketua DPR RI Puan Maharani yang menyatakan duka cita dan menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi titik balik dalam pembenahan sistem keselamatan perkeretaapian nasional.
“Keselamatan tidak bisa lagi dipandang sebagai rutinitas prosedural semata. Harus ada standar pengamanan yang benar-benar mampu mengantisipasi risiko di jalur padat seperti Jabodetabek,” ujar Puan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Puan juga menyoroti masih banyaknya perlintasan sebidang yang minim pengamanan dan kerap menjadi titik rawan kecelakaan. Ia meminta pemerintah, PT KAI, dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh serta menghadirkan sistem keselamatan yang lebih modern dan terintegrasi.
Menurutnya, KRL bukan sekadar alat transportasi, tetapi merupakan infrastruktur vital yang menopang aktivitas harian jutaan masyarakat. Oleh karena itu, setiap insiden besar tidak hanya berdampak pada korban langsung, tetapi juga memengaruhi rasa aman publik.
“Kepercayaan masyarakat harus dijaga. Jangan sampai mereka ragu menggunakan transportasi kereta karena merasa sistem perlindungannya belum memadai,” tegasnya.
Puan mendorong agar investigasi dilakukan secara transparan dan menghasilkan langkah konkret yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia berharap hasil evaluasi nantinya mampu memastikan bahwa KRL tetap menjadi moda transportasi yang aman, andal, dan layak dipercaya.
“Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa kompleksitas lalu lintas kereta di wilayah metropolitan membutuhkan standar keselamatan yang jauh lebih tinggi, seiring meningkatnya frekuensi perjalanan dan kepadatan jalur,” tandasnya.
Seperti diketahui, insiden KRL dengan kereta jarak jauh yang terjadi pada Senin (27/4) malam bermula saat taksi listrik ditabrak KRL di daerah Bulak Kapal karena taksi itu terhenti di tengah perlintasan sebidang. Taksi tersebut berada di area rel sebelum akhirnya tertemper KRL menuju arah Jakarta.
Kondisi itu menyebabkan perjalanan KRL atau commuter line dari Jakarta menuju Cikarang terganggu dan rangkaian berhenti di jalur. Tak berselang jauh, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang menabrak KRL yang tengah berhenti.
Saking kerasnya benturan, lokomotif KA Argo Bromo Anggrek sampai merangsek masuk ke badan gerbong khusus wanita yang ada di bagian paling belakang KRL. Insiden ini menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan sedikitnya 84 penumpang lainnya terluka. (dil)










