INDOPOSCO.ID – Kuartal pertama tahun 2026 menjadi periode yang menantang bagi PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI). Perseroan membukukan laba bersih Rp18 miliar, turun 73 persen secara tahunan. Penurunan ini terutama dipicu oleh merosotnya pendapatan usaha akibat lesunya penjualan OCTG casing yang sangat bergantung pada mekanisme tender dan ketatnya persaingan pasar.
SUNI mencatatkan pendapatan Rp155 miliar, anjlok 51 persen year on year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain penjualan casing yang melemah, volume OCTG tubing juga sedikit tertekan akibat berkurangnya hari produksi selama libur Lebaran di akhir kuartal.
Namun di balik tekanan laba dan pendapatan, indikator fundamental keuangan SUNI justru menunjukkan ketahanan. Ekuitas meningkat 2 persen menjadi Rp881 miliar, sementara Debt to Equity Ratio (DER) terjaga di level 0,28 kali jauh di bawah batas maksimal 2,5 kali sesuai ketentuan kreditur.
Yang paling menonjol, SUNI membukukan arus kas operasi positif Rp99 miliar, melonjak 41 persen YoY, terutama karena efisiensi pembayaran kepada pemasok pada periode berjalan.
Direktur Utama SUNI, Willy Johan Chandra, mengatakan karakter bisnis casing yang berbasis tender membuat kinerjanya lebih fluktuatif dibanding tubing, di mana SUNI berperan sebagai produsen dalam negeri.
“Meski laba dan penjualan turun pada kuartal ini, rasio keuangan tetap terjaga dengan baik. Fondasi yang dibangun dua tahun terakhir menjadi penopang penting pembiayaan ekspansi dan potensi pembagian dividen,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).
SUNI saat ini memprioritaskan peningkatan kapasitas produksi melalui anak usaha PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM). Pabrik kedua RTM ditargetkan mulai beroperasi pada semester II 2026. Secara fisik, pembangunan telah rampung dan kini memasuki tahap uji coba produksi serta persiapan audit sertifikasi API (American Petroleum Institute).
Langkah ini diharapkan memperkuat posisi SUNI sebagai produsen OCTG tubing nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada bisnis casing yang lebih volatil.
Direktur Operasional SUNI, Bambang Prihandono, menambahkan tim operasional tengah mempersiapkan fasilitas baru tersebut untuk audit API serta pengembangan produk baru guna mengoptimalkan kapasitas tambahan.
Di saat yang sama, anak usaha lainnya, PT Petro Synergy Manufacturing (PSM), telah memulai operasi komersial sejak awal 2026. PSM memproduksi wellhead dan x’mas tree yang memenuhi standar TKDN dan internasional dengan harga kompetitif.
Kehadiran PSM diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru sekaligus memperluas portofolio bisnis SUNI di sektor peralatan hulu migas.
Direktur Keuangan SUNI, Freddy Soejandy, mengatakan posisi kas dan kebutuhan belanja modal (capex) yang kian menurun memberi ruang fleksibilitas keuangan pada 2026.
Dengan sebagian besar capex telah direalisasikan pada tahun-tahun sebelumnya, SUNI kini memiliki kemampuan menyelesaikan proyek pabrik RTM sekaligus membuka peluang usulan pembagian dividen.
Dengan ekuitas yang terus tumbuh, DER yang rendah, serta arus kas operasi yang kuat, SUNI optimistis tekanan kinerja di awal tahun ini bersifat sementara, dan akan berbalik seiring beroperasinya kapasitas produksi baru pada paruh kedua 2026. (rmn)










