INDOPOSCO.ID – Langkah transisi energi di Indonesia kini bergerak semakin dekat ke akar rumput. Bukan lagi hanya soal pembangkit besar atau proyek skala industri, tetapi juga tentang bagaimana desa mengambil peran sebagai produsen energi masa depan.
Hal itu tergambar dalam pelatihan pengelolaan biomassa yang digelar PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama PT PLN (Persero) di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 28–30 April 2026. Program ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem energi berbasis masyarakat.
Sebanyak 15 peserta dari berbagai daerah, mulai dari Lombok Timur hingga Gunung Kidul, datang membawa satu kesamaan, yakni potensi limbah pertanian dan perkebunan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Di ruang pelatihan, mereka tidak hanya belajar teori. Dari mengenali potensi biomassa hingga praktik produksi dan strategi bisnis, seluruh rangkaian dirancang agar peserta mampu membangun unit usaha energi secara mandiri dan berorientasi pasar.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menegaskan bahwa pendekatan ini bukan sekadar program sosial biasa.
“Melalui program TJSL ini, kami mendorong masyarakat tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai bagian dari rantai pasok energi biomassa. Ini merupakan implementasi nyata ESG, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat dan penguatan aspek lingkungan,” kata Mamit dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).
Menurutnya, biomassa kini menjadi elemen penting dalam strategi energi PLN, terutama melalui skema co-firing di PLT, menggantikan sebagian penggunaan batubara tanpa perlu membangun pembangkit baru.
Dari sisi korporasi, kolaborasi ini menunjukkan bagaimana PLN Group mulai merancang transisi energi yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga inklusif.
Senior Manager Komunikasi & Umum PLN UID Jawa Barat, Krisantus H. Setyawan, melihat peluang besar di balik pemanfaatan limbah yang selama ini terabaikan.
“Pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan menjadi energi memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendorong ekonomi sirkular berbasis masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, dari dunia akademik, ITB menekankan bahwa biomassa bukan sekadar alternatif energi, melainkan bagian dari solusi jangka panjang untuk krisis iklim.
Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Prof. Dr. Ing. Zulfiadi, S.T., M.T., menjelaskan keunggulan utama biomassa dibandingkan energi fosil.
“Biomassa memungkinkan siklus karbon yang lebih cepat dan terkontrol, sehingga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim,” jelas Zulfiadi.
Ia juga menyoroti potensi transformasi ekonomi yang bisa lahir dari pengembangan biomassa berbasis komunitas.
“Ke depan, daerah tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi juga produsen energi berbasis biomassa yang mendukung kebutuhan nasional,” tambahnya.
Pelatihan ini turut melibatkan para ahli dari BRIN Puspitek Serpong dan Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), memastikan peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh dari hulu ke hilir.
Bagi peserta, dampaknya terasa nyata. Rismayadi dari Kelompok Tani Jaga Lembur Tani Makmur melihat peluang baru yang sebelumnya tak terpikirkan.
“Saya optimistis melalui pelatihan ini, limbah pertanian dan perkebunan dapat dimanfaatkan secara optimal menjadi sumber energi yang bernilai, sekaligus meningkatkan perekonomian kelompok tani di Desa Bojongkapol, Tasikmalaya,” ucapnya.
Lebih dari sekadar program pelatihan, inisiatif ini mencerminkan perubahan besar dalam cara memandang energi: desa bukan lagi objek pembangunan, melainkan mitra strategis.
Di tengah target pengurangan emisi dan dorongan energi terbarukan dalam RUPTL 2025–2034, langkah seperti ini menjadi fondasi penting. Karena masa depan energi tidak hanya dibangun dari teknologi, tetapi juga dari kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat. (her)











