INDOPOSCO.ID – PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membuka tahun 2026 dengan kinerja yang tetap terjaga di tengah tekanan cuaca ekstrem dan dinamika global. Hingga kuartal I yang berakhir 31 Maret 2026, perusahaan mampu mempertahankan stabilitas penjualan sekaligus mencatat pertumbuhan laba tahunan.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, mengatakan curah hujan tinggi di awal tahun tidak mengganggu arah strategi perusahaan.
“Di tengah tantangan curah hujan yang tinggi pada awal tahun, Perseroan mampu menjaga stabilitas penjualan melalui pengelolaan persediaan yang prudent, sekaligus melanjutkan disiplin efisiensi dan selective mining yang mendorong perbaikan struktur biaya,” ungkap Arsal dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).
“Hasilnya, Perseroan membukukan pertumbuhan laba secara tahunan yang solid, yang merupakan bukti nyata dari ketahanan operasional dan efektivitas strategi yang kami jalankan,” tambahnya.
Dari sisi kinerja, pendapatan PTBA tercatat Rp9,93 triliun, relatif stabil secara tahunan. Meski volume penjualan turun 1 persen, kenaikan Newcastle Index sebesar 14 persen berhasil mengimbangi penurunan ICI-3 sebesar 2 persen, sehingga harga jual rata-rata tetap naik 1 persen. Komposisi penjualan didominasi pasar domestik sebesar 53 persen, sementara ekspor menyumbang 47 persen dengan tujuan utama ke Vietnam, Bangladesh, India, Kamboja, dan Thailand.
Efisiensi menjadi kunci di balik kinerja ini. Beban pokok pendapatan turun 6 persen menjadi Rp8,39 triliun, seiring penurunan produksi batu bara sebesar 22 persen dan volume angkutan 7 persen. Rasio pengupasan (stripping ratio) juga membaik ke level 5,31 kali dari sebelumnya 6,42 kali. Namun, tekanan mulai terlihat dari kenaikan harga bahan bakar sebesar 3 persen, dipicu konflik di Selat Hormuz.
Di sisi lain, beban operasional meningkat 10 persen menjadi Rp61,37 miliar, terutama dari kenaikan beban umum dan administrasi. Penghasilan keuangan turun 17 persen menjadi Rp41,27 miliar, sementara biaya keuangan juga menurun 20 persen menjadi Rp54,04 miliar. Kontribusi dari entitas asosiasi dan ventura bersama justru melonjak 81 persen menjadi Rp168,04 miliar.
Pada akhirnya, PTBA membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp801,79 miliar.
Dari neraca keuangan, total aset perusahaan tercatat Rp43,23 triliun, turun 2 persen dibanding akhir 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya persediaan serta kas dan setara kas. Sementara itu, liabilitas turun 8 persen menjadi Rp19,56 triliun, dan ekuitas naik 5 persen menjadi Rp23,67 triliun.
Arus kas operasi menunjukkan penguatan signifikan dengan kenaikan 70 persen menjadi Rp2,06 triliun, didorong efisiensi pembayaran jasa pihak ketiga. Di sisi investasi, arus kas keluar meningkat menjadi Rp1,06 triliun, terutama untuk pembelian aset tetap. Sedangkan arus kas pendanaan juga meningkat menjadi Rp1,34 triliun seiring pembayaran pinjaman bank.
Hingga akhir Maret 2026, belanja modal terealisasi Rp470 miliar, mayoritas dialokasikan untuk pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim Kramasan.
Menutup keterangan, Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, menilai capaian ini mencerminkan fondasi bisnis yang tetap kuat.
“PTBA akan terus menjaga disiplin operasional, memperkuat efisiensi, serta memastikan fleksibilitas dalam merespons dinamika pasar dan tantangan eksternal,” katanya.
“Dengan fondasi operasional yang solid, Perseroan optimistis dapat terus menjaga kinerja yang sehat dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tambahnya. (her)











