INDOPOSCO.ID – Gelombang konflik di Timur Tengah tak hanya mengguncang pasar energi global, tetapi juga menjalar hingga ke dapur rumah tangga di Indonesia. Dampaknya kini terasa nyata: harga minyak goreng merangkak naik, dipicu oleh sesuatu yang kerap luput dari perhatian, kemasan plastik.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung, mengungkapkan bahwa lonjakan harga ini berakar dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan tersebut mendorong harga energi fosil global melonjak tajam.
Penutupan jalur vital perdagangan energi dunia, Selat Hormuz, memperparah situasi. Pasokan bahan baku terganggu, dan efeknya menjalar ke industri turunan energi, termasuk plastik yang digunakan sebagai kemasan minyak goreng.
“Harga energi fosil dunia meningkat dari sekitar US$60 per barel sebelum perang menjadi lebih dari US$110 per barel. Akibatnya, semua produk turunan dari energi fosil seperti plastik mengalami kenaikan,” kata Tungkot di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Kenaikan biaya kemasan ini kemudian menjadi faktor pendorong naiknya harga minyak goreng di dalam negeri. Bagi Indonesia, kondisi ini bukan hal sepele. Sebagai produsen sekaligus konsumen minyak goreng sawit terbesar dunia, kebutuhan dalam negeri mencapai ratusan juta jiwa.
Tungkot menjelaskan, konsumsi minyak goreng nasional terbagi dalam tiga segmen utama: minyak goreng sawit (MGS) premium bermerek, MGS program pemerintah MinyaKita, serta MGS curah untuk industri pangan.
Di tengah tekanan harga, dinamika menarik justru terjadi pada MinyaKita. Produk yang menyasar masyarakat berpendapatan rendah dan pelaku UMKM ini tetap relatif terkendali berkat intervensi pemerintah.
“Harga dan ketersediaan MGS MinyaKita ini dikendalikan pemerintah melalui kebijakan DMO (domestic market obligation), pengendalian penyaluran (D1, D2), dan HET (harga eceran tertinggi),” jelasnya.
Sementara itu, pasar bebas menunjukkan arah berbeda. Dalam kurun Januari hingga pekan ketiga April 2026, harga minyak goreng premium dan curah mengalami kenaikan signifikan. MGS premium naik dari Rp21.166 menjadi Rp21.793 per liter, sedangkan MGS curah melonjak dari Rp17.790 menjadi Rp19.486 per liter.
“Hal yang menarik, harga MGS Minyakita pada periode yang sama justru turun dari Rp16.865 menjadi Rp15.949 per liter, mendekati HET Rp15.700 per liter,” ungkap Tungkot.
Fenomena ini menjadi indikator bahwa kebijakan pemerintah mulai menunjukkan hasil, khususnya dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga untuk segmen tertentu.
“Namun apakah harga MGS MinyaKita dapat dipertahankan ke depan dengan kenaikan harga kemasan plastik? Ini tergantung pemerintah apakah akan akomodatif dengan perubahan harga kemasan dalam HET,” tuturnya.
Di sisi lain, pemerintah masih memiliki sejumlah instrumen untuk meredam gejolak harga, seperti bea keluar dan pungutan ekspor. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan perlindungan konsumen.
“Jika berbagai kebijakan tersebut benar-benar berjalan efektif maka secara teoritis cukup melindungi konsumen MGS setidaknya dalam jangka pendek,” tambahnya.
Di tengah dinamika global yang tak menentu, satu hal menjadi jelas: perubahan di panggung dunia kini semakin cepat terasa hingga ke kebutuhan sehari-hari masyarakat. Minyak goreng, yang dulu dianggap stabil, kini ikut terombang-ambing oleh arus geopolitik global.(her)










