INDOPOSCO.ID – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menegaskan, tidak ada negara yang melakukan transformasi birokrasinya sendiri. Lembaga Administrasi Negara (LAN) sudah 17 tahun bekerja sama dengan jaringan Managing Global Governance (MGG) Academy.
“Kolaborasi 17 tahun antara LAN dengan jaringan MGG Academy adalah bukti nyata bahwa kemitraan yang berkelanjutan membangun kapasitas. Bukan sekadar program, tetapi melahirkan generasi pemimpin publik,” ujar Rini dalam keterangan, Selasa (21/4/2026).
MGG Academy adalah program pelatihan dan dialog yang diselenggarakan oleh German Institute of Development and Sustainability (IDOS). Melalui South-South and Triangular Cooperation (SSTC), Indonesia bergerak melampaui sekadar mengadopsi pratik terbaik.
Perlu diketahui, SSTC adalah metode kolaborasi di mana negara-negara berkembang (Global South) berbagi pengetahuan, teknologi, dan sumber daya untuk memecahkan masalah pembangunan bersama.
Ia menuturkan, di tengah kompleksitas tantangan pembangunan dan keterbatasan sumber daya, pengembangan kapasitas ASN perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih impact-oriented. Di mana pelatihan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir, perilaku, serta sistem kerja organisasi yang berkontribusi pada dampak kebijakan yang lebih luas.
Transformasi, menurutnya, membutuhkan ekosistem yang lebih luas, dari instansi pemerintah, lembga pendidikan, swasta, hingga mitra pembangunan.
“Hal ini membawa kita pada sebuah refleksi kritis, kemitraan bukan soal skala, ini soal inklusi. Inklusi bukan hanya tentang siapa yang mendapat manfaat, tetapi juga tentang siapa yang merancang dan memberikan layanan,” jelas Rini.
Pada kesempatan yang sama, Kepala LAN Muhammad Taufiq menerangkan, Indonesia diposisikan sebagai model kepemimpinan sektor publik dalam pembaruan tata kelola global, menjembatani prioritas nasional dengan kolaborasi internasional.
Adanya kolaborasi internasional ini, menurutnya, aparatur negara bisa mengantisipasi krisis bersama dengan menghadapi tantangan secara kolektif. “Tantangan lainnya adalah ketahanan siber. Intelijen siber harus terpadu dan tangguh,” katanya. (nas)










