INDOPOSCO.ID – Pernyataan optimistis pemerintah soal ketahanan industri nasional justru menuai tanda tanya. Analis komunikasi politik Hendri Satrio angkat suara, menyoroti kesenjangan antara klaim dan kondisi nyata yang dirasakan masyarakat.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa sektor industri Indonesia tetap solid, meski diterpa tantangan global, terutama terkait pasokan bahan baku akibat dinamika geopolitik.
Namun bagi Hensa sapaan akrab Hendri Satrio, pernyataan tersebut perlu diuji dengan indikator yang lebih konkret dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Kalau industri kita kuat, yang paling gampang indikasinya itu lapangan pekerjaan tersedia banyak, dan PHK (pemutusan hubungan kerja) enggak ada, kemudian juga produk-produk kita bersaing minimal di ASEAN, jadi apanya yang kuat? Orang PHK jalan terus, lapangan pekerjaan susah,” ujar Hensa melalui gawai, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, indikator sederhana seperti ketersediaan lapangan kerja dan minimnya PHK justru menunjukkan arah sebaliknya. Ia melihat belum ada tanda-tanda signifikan yang mencerminkan pertumbuhan industri yang inklusif dan berdampak luas.
Hensa bahkan menilai kondisi industri saat ini cenderung stagnan tidak mengalami kemajuan berarti yang bisa dirasakan oleh masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah.
“Pada kenyataannya, industri kita mandek dan jalan di tempat. Tidak ada tanda-tanda pertumbuhan yang benar-benar dirasakan masyarakat menengah ke bawah,” kata Hensa.
Pendiri Lembaga Survei KeadiKOPI itu juga menekankan pentingnya akuntabilitas dalam setiap pernyataan pejabat publik. Ia mengingatkan bahwa optimisme tanpa dukungan data yang relevan berisiko merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
“Menteri Perindustrian harus bertanggung jawab dengan statement-nya, karena faktanya kondisi yang ia klaim itu tidak tergambarkan sekarang, dan berpotensi menjauhkan kepercayaan publik terhadap pemerintah,” tambah penulis buku Riah Riuh Komunikasi tersebut.
Di tengah tekanan ekonomi global, perdebatan antara narasi optimisme dan realitas lapangan menjadi semakin relevan. Publik pun kini menanti, apakah klaim ketahanan industri benar-benar berdiri di atas data—atau sekadar narasi yang belum sepenuhnya terbukti. (her)










